Inflasi Januari 2026 Naik 3,55%, Ini Penyebab Utamanya
Harga barang dan jasa di Indonesia pada awal 2026 menunjukkan kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Januari 2026 secara tahunan atau year-on-year (yoy) mencapai 3,55%, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 109,75.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Januari 2025 yang hanya 0,76%, menandakan tekanan harga mulai kembali terasa di berbagai sektor, terutama yang berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah tangga.
Angka inflasi ini juga merupakan level tertinggi sejak Juni 2023 atau dalam 2,5 tahun terakhir ketika efek lonjakan harga pemulihan Covid-19 berangsur mereda.
Kenapa Inflasi Naik?
Inflasi tahunan pada Januari 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Penyumbang terbesar berasal dari:
Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 11,93% (YoY). Kenaikan tarif listrik menjadi faktor paling dominan dalam kelompok ini.
Perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak 15,22%, dengan emas perhiasan sebagai salah satu penyumbang utama.
Makanan, minuman, dan tembakau naik 1,54%, dipengaruhi oleh harga beras, ikan segar, dan rokok.
Sebaliknya, hanya satu kelompok yang mengalami penurunan harga secara tahunan, yaitu informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 0,19%, seiring harga ponsel dan perangkat komunikasi yang makin terjangkau
Secara Bulanan Justru Deflasi
Meski inflasi tahunan naik, secara bulanan (month-to-month) justru terjadi deflasi sebesar 0,15% pada Januari 2026. Artinya, dibandingkan Desember 2025, harga rata-rata sedikit turun.
Deflasi ini banyak dipengaruhi oleh turunnya harga bahan pangan seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, serta penurunan harga bensin dan tarif angkutan udara.
Daerah dengan Inflasi Tertinggi dan Terendah
Dari sisi wilayah, inflasi tidak merata:
Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,69%.
Provinsi Lampung menjadi yang terendah dengan inflasi 1,90%.
Sementara di tingkat kabupaten/kota:
Kota Gunungsitoli mengalami inflasi tertinggi sebesar 8,68%.
Kabupaten Minahasa Selatan mencatat inflasi terendah, hanya 0,99%
Bagaimana Dampaknya ke Masyarakat?
Bagi masyarakat, inflasi Januari 2026 berarti biaya hidup cenderung lebih mahal dibandingkan tahun lalu, terutama untuk listrik, air, kebutuhan rumah tangga, serta jasa perawatan pribadi. Namun, adanya deflasi bulanan memberi sedikit “napas lega”, khususnya dari harga pangan yang relatif lebih terkendali di awal tahun.
Ke depan, stabilitas harga akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah terkait tarif energi, kelancaran pasokan pangan, serta kondisi ekonomi global. Jika tekanan dari sektor energi dan jasa terus berlanjut, inflasi berpotensi tetap berada di level yang perlu diwaspadai sepanjang 2026.