1. Home
  2. Infografik

Jumlah Pekerja Informal Masih Mayoritas di Indonesia

Sumber: BPS
Update : 19 Februari 2026

Pekerja Informal Masih Mendominasi Pasar Tenaga Kerja Indonesia sejak 2015, Sempat Membengkak Saat Pandemi

Struktur pasar tenaga kerja Indonesia dalam satu dekade terakhir menunjukkan pola yang relatif konsisten: jumlah pekerja informal jauh lebih besar dibandingkan pekerja formal. 

Berdasarkan status pekerjaan, kegiatan penduduk bekerja dapat dikategorikan menjadi kegiatan formal dan informal. Penduduk bekerja pada kegiatan formal mencakup tenaga kerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar serta buruh/karyawan/pegawai, sedangkan status pekerjaan lainnya dikategorikan sebagai kegiatan informal (berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/pekerja keluarga/tidak dibayar, pekerja bebas, dan pekerja keluarga/tidak dibayar).

Data sejak Februari 2015 hingga November 2025 memperlihatkan bahwa meskipun jumlah pekerja formal terus meningkat, sektor informal tetap menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja nasional.

Tren Jangka Panjang: Formal Naik, Informal Tetap Dominan

Pada Februari 2015, jumlah pekerja formal tercatat sekitar 50,83 juta orang, sementara pekerja informal mencapai 70,02 juta orang. Sepanjang 2015–2019, jumlah pekerja formal meningkat secara bertahap hingga menyentuh 56,81 juta orang pada Agustus 2019. Dalam periode yang sama, pekerja informal juga cenderung naik, berkisar antara 68–74 juta orang.

Kenaikan kedua segmen ini mencerminkan pertumbuhan angkatan kerja nasional. Namun, kesenjangan antara formal dan informal tetap lebar, menandakan bahwa penciptaan pekerjaan berkualitas belum mampu mengimbangi pertumbuhan tenaga kerja.

Dampak Pandemi: Formal Terpukul, Informal Membengkak

Perubahan paling mencolok terjadi pada masa pandemi Covid-19. Pada Agustus 2020, jumlah pekerja formal turun tajam menjadi 50,77 juta orang dari 56,99 juta orang pada Februari 2020. Sebaliknya, pekerja informal melonjak ke 77,68 juta orang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika terjadi guncangan ekonomi, pekerja formal—yang umumnya berada di sektor industri dan jasa modern—lebih rentan terhadap pemutusan hubungan kerja. Banyak dari mereka kemudian beralih ke sektor informal sebagai “katup pengaman” ekonomi, seperti berdagang kecil, ojek, atau pekerjaan berbasis harian.

Pada 2021, tren tersebut masih berlanjut. Pekerja informal bahkan mencapai sekitar 78 juta orang, sementara formal baru mulai pulih secara bertahap.

Pemulihan Pascapandemi: Formal Tumbuh, Informal Tetap Tinggi

Mulai 2022 hingga 2024, jumlah pekerja formal kembali meningkat secara konsisten:

Februari 2022: 54,28 juta

Februari 2023: 55,29 juta

Februari 2024: 58,05 juta

Agustus 2024: 60,81 juta

Ini menandakan pemulihan ekonomi dan kembali terbukanya lapangan kerja formal di sektor industri, konstruksi, dan jasa modern.

Namun, sektor informal juga terus bertambah dan bahkan mencapai rekor tertinggi baru. Pada Februari 2024 jumlahnya mencapai 84,13 juta orang, dan tetap berada di atas 83 juta hingga akhir 2024.

Data Terbaru 2025: Formal Tertinggi Sepanjang Satu Dekade

Data terbaru menunjukkan tren yang menarik. Pada November 2025, jumlah pekerja formal mencapai sekitar 62,57 juta orang—level tertinggi sejak 2015. Ini menunjukkan peningkatan kualitas penyerapan tenaga kerja.

Meski demikian, pekerja informal masih jauh lebih besar, mencapai sekitar 85,35 juta orang. Bahkan pada Februari 2025, sektor informal sempat menyentuh 86,58 juta orang, tertinggi sepanjang periode pengamatan.

Mengapa Informal Tetap Dominan?

Ada beberapa faktor struktural yang membuat sektor informal sulit menyusut:

1. Pertumbuhan angkatan kerja yang cepat. Setiap tahun jutaan penduduk usia kerja baru masuk ke pasar tenaga kerja.

2. Terbatasnya penciptaan pekerjaan formal. Sektor formal membutuhkan investasi besar, teknologi, dan keterampilan tertentu.

3. Hambatan pendidikan dan keterampilan. Banyak pekerja belum memenuhi kualifikasi industri modern.

4. Fleksibilitas sektor informal. Mudah dimasuki, tidak membutuhkan modal besar, dan menjadi pilihan ketika ekonomi melemah.

Implikasi Ekonomi

Dominasi sektor informal memiliki konsekuensi penting bagi perekonomian:

  • Produktivitas rata-rata tenaga kerja cenderung rendah
  • Pendapatan pekerja lebih tidak stabil
  • Perlindungan sosial terbatas
  • Basis pajak sempit
  • Konsumsi rumah tangga rentan terhadap guncangan ekonomi

Di sisi lain, sektor informal juga berperan sebagai penyerap tenaga kerja utama dan penyangga sosial saat krisis.

Periode
Formal
Informal
Februari 2015
50,83
70,02
Agustus 2015
48,50
66,30
Februari 2016
50,33
70,32
Agustus 2016
50,21
68,20
Februari 2017
51,87
72,67
Agustus 2017
52,00
69,02
Februari 2018
53,09
73,98
Agustus 2018
54,33
71,96
Februari 2019
55,28
74,08
Agustus 2019
56,81
71,95
Februari 2020
56,99
74,04
Agustus 2020
50,77
77,68
Februari 2021
52,92
78,14
Agustus 2021
53,14
77,91
Februari 2022
54,28
81,33
Agustus 2022
55,06
80,24
Februari 2023
55,29
83,34
Agustus 2023
57,18
82,67
Februari 2024
58,05
84,13
Agustus 2024
60,81
83,83
Februari 2025
59,19
86,58
Agustus 2025
61,84
84,70
November 2025
62,57
85,35

Infografik Terbaru

Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
Cadangan Devisa Turun Dalam Empat Bulan Beruntun Hingga April 2026
Bank Indonesia | 09 Mei 2026
Cadangan devisa turun lagi menjadi US$ 146,2 miliar per April 2026. Ini adalah penurunan dalam empat bulan beruntun dan terendah sejak Agustus 2024
Neraca migas Indonesia terus defisit secara konsisten sejak tahun 2012 hingga Maret 2026
BPS | 06 Mei 2026
Neraca dagang Indonesia secara total terus mencatat surplus dalam 71 bulan hingga Maret 2026
Distribusi PDB Menurut Pengeluaran Q1-2026
BPS | 05 Mei 2026
Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin penggerak ekonomi dengan kontribusi 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Mencapai Level Tertinggi Sejak Kuartal IV-2022
BPS | 05 Mei 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY), naik dari 4,87% di kuartal I 2025
Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Kembali Surplus
BPS | 04 Mei 2026
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dibandingkan surplus US$ 1,27 miliar pada Februari 2026
Inflasi April 2026 Turun Menjadi 2,42% Secara Tahunan
BPS | 04 Mei 2026
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, terjadi inflasi 2,42% pada April 2026. Tingkat inflasi bulanan sebesar 0,13% dan year to date 1,06%
10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024
FAO | 29 April 2026
Produk komersial cokelat hasil laboratorium diperkirakan akan masuk pasar AS pada akhir 2026 atau 2027, memunculkan kekhawatiran bisnis kakao tradisional
Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI
BEI | 23 April 2026
Sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan sejak awal tahun. Penurunan terutama terjadi pada BREN dan DSSA
DSSA dan BREN Memimpin Top Laggards IHSG 22 April 2026
Bloomberg | 22 April 2026
Meski mayoritas saham menguat, penurunan saham big cap seperti DSSA dan BREN menekan IHSG turun 0,24% ke 7.541,61
loading
Close [X]