1. Home
  2. Infografik

BI Rate Februari 2026

Sumber: Bank Indonesia
Update : 19 Februari 2026

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga di 4,75%: Fokus Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

Bank Indonesia (BI) memutuskan tidak mengubah suku bunga acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Februari 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75%, suku bunga simpanan di 3,75%, dan suku bunga pinjaman di 5,50%.

Keputusan ini diambil karena bank sentral ingin memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah kondisi global yang masih bergejolak, sekaligus tetap menjaga inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Jika suku bunga diturunkan terlalu cepat, rupiah berisiko melemah lebih dalam karena investor asing bisa menarik dananya keluar. Per 18 Februari 2026, rupiah berada di sekitar Rp16.880 per dolar AS. Pelemahan ini terutama dipicu ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing dari perusahaan dalam negeri.

Meski begitu, BI menilai rupiah sebenarnya masih didukung fundamental ekonomi yang cukup kuat dan berpotensi stabil bahkan menguat jika kondisi global membaik.

Ke depan, ruang penurunan suku bunga masih terbuka — asalkan inflasi tetap terkendali dan tekanan eksternal mereda.

Ekonomi Global Melambat, Risiko Masih Tinggi

BI memproyeksikan ekonomi dunia melambat dari 3,3% pada 2025 menjadi 3,2% pada 2026. Perlambatan dipicu perang dagang, tensi geopolitik, dan kebijakan ekonomi negara besar.

Amerika Serikat diperkirakan tetap kuat karena stimulus fiskal dan investasi besar, termasuk di bidang kecerdasan buatan. Sebaliknya, Eropa, Jepang, dan Tiongkok diprediksi melambat akibat lemahnya ekspor dan konsumsi domestik.

Dalam situasi seperti ini, aliran modal ke negara berkembang menjadi lebih selektif. Artinya, investor hanya masuk ke negara yang dianggap paling stabil dan menguntungkan.

Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh Solid

Di tengah kondisi global yang sulit, ekonomi Indonesia justru menunjukkan kinerja cukup baik. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39% (year-on-year), naik dari 5,04% pada kuartal sebelumnya. Sepanjang 2025, ekonomi tumbuh 5,11%, sedikit lebih tinggi dibanding 2024.

Motor utamanya adalah konsumsi rumah tangga dan investasi, didorong berbagai stimulus pemerintah dan kebijakan BI.

Untuk 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 4,9%–5,7%. Momentum belanja masyarakat pada periode hari besar seperti Imlek, Nyepi, dan Idulfitri juga diharapkan ikut mendorong ekonomi.

Inflasi Masih Aman

Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% (yoy), naik dari bulan sebelumnya karena efek perbandingan dengan diskon tarif listrik tahun lalu. Namun inflasi inti — yang mencerminkan tekanan harga sebenarnya — tetap rendah di sekitar 2,45%.

BI yakin inflasi akan tetap berada dalam target sekitar 2,5% ± 1% pada 2026–2027. Artinya, kenaikan harga barang secara umum masih terkendali.

Kredit Mulai Tumbuh, Bank Masih Kuat

Penyaluran kredit perbankan tumbuh hampir 10% pada Januari 2026. Kredit investasi bahkan melonjak lebih dari 22%, menunjukkan aktivitas usaha mulai meningkat.

BI menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini bisa mencapai 8%–12%.

Meski BI sudah menurunkan suku bunga sejak 2024, dampaknya ke bunga pinjaman bank masih terbatas.

* Bunga deposito turun, tapi belum besar

* Bunga kredit baru turun tipis (sekitar 40 basis poin)

BI mendorong bank agar lebih cepat menurunkan bunga pinjaman supaya dunia usaha dan konsumsi bisa tumbuh lebih kuat.

Transaksi Digital Meledak

Salah satu sektor yang tumbuh paling pesat adalah ekonomi digital.

Pada Januari 2026:

* Transaksi pembayaran digital mencapai 4,79 miliar transaksi (naik hampir 40% setahun)

* Transaksi QRIS melonjak lebih dari dua kali lipat

* Sistem BI-FAST memproses ratusan juta transaksi bernilai ribuan triliun rupiah

Ini menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin jarang menggunakan uang tunai.

Secara keseluruhan, pesan utama BI cukup jelas: stabilitas lebih penting daripada stimulus agresif saat ini.

Bank sentral ingin memastikan rupiah tetap terkendali, inflasi rendah, dan sistem keuangan stabil sebelum kembali menurunkan suku bunga lebih jauh.

Periode
BI Rate
21 Agustus 2024
6,25
18 September 2024
6,00
16 Oktober 2024
6,00
20 November 2024
6,00
18 Desember 2024
6,00
15 Januari 2025
5,75
19 Februari 2025
5,75
19 Maret 2025
5,75
23 April 2025
5,75
21 Mei 2025
5,50
18 Juni 2025
5,50
16 Juli 2025
5,25
20 Agustus 2025
5,00
17 September 2025
4,75
22 Oktober 2025
4,75
19 November 2025
4,75
17 Desember 2025
4,75
21 Januari 2026
4,75
19 Februari 2026
4,75

Infografik Terbaru

Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
Cadangan Devisa Turun Dalam Empat Bulan Beruntun Hingga April 2026
Bank Indonesia | 09 Mei 2026
Cadangan devisa turun lagi menjadi US$ 146,2 miliar per April 2026. Ini adalah penurunan dalam empat bulan beruntun dan terendah sejak Agustus 2024
Neraca migas Indonesia terus defisit secara konsisten sejak tahun 2012 hingga Maret 2026
BPS | 06 Mei 2026
Neraca dagang Indonesia secara total terus mencatat surplus dalam 71 bulan hingga Maret 2026
Distribusi PDB Menurut Pengeluaran Q1-2026
BPS | 05 Mei 2026
Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin penggerak ekonomi dengan kontribusi 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Mencapai Level Tertinggi Sejak Kuartal IV-2022
BPS | 05 Mei 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY), naik dari 4,87% di kuartal I 2025
Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Kembali Surplus
BPS | 04 Mei 2026
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dibandingkan surplus US$ 1,27 miliar pada Februari 2026
Inflasi April 2026 Turun Menjadi 2,42% Secara Tahunan
BPS | 04 Mei 2026
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, terjadi inflasi 2,42% pada April 2026. Tingkat inflasi bulanan sebesar 0,13% dan year to date 1,06%
10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024
FAO | 29 April 2026
Produk komersial cokelat hasil laboratorium diperkirakan akan masuk pasar AS pada akhir 2026 atau 2027, memunculkan kekhawatiran bisnis kakao tradisional
Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI
BEI | 23 April 2026
Sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan sejak awal tahun. Penurunan terutama terjadi pada BREN dan DSSA
DSSA dan BREN Memimpin Top Laggards IHSG 22 April 2026
Bloomberg | 22 April 2026
Meski mayoritas saham menguat, penurunan saham big cap seperti DSSA dan BREN menekan IHSG turun 0,24% ke 7.541,61
loading
Close [X]