Bank Indonesia Tahan Suku Bunga di 4,75%: Fokus Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
Bank Indonesia (BI) memutuskan tidak mengubah suku bunga acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Februari 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75%, suku bunga simpanan di 3,75%, dan suku bunga pinjaman di 5,50%.
Keputusan ini diambil karena bank sentral ingin memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah kondisi global yang masih bergejolak, sekaligus tetap menjaga inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Jika suku bunga diturunkan terlalu cepat, rupiah berisiko melemah lebih dalam karena investor asing bisa menarik dananya keluar. Per 18 Februari 2026, rupiah berada di sekitar Rp16.880 per dolar AS. Pelemahan ini terutama dipicu ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing dari perusahaan dalam negeri.
Meski begitu, BI menilai rupiah sebenarnya masih didukung fundamental ekonomi yang cukup kuat dan berpotensi stabil bahkan menguat jika kondisi global membaik.
Ke depan, ruang penurunan suku bunga masih terbuka — asalkan inflasi tetap terkendali dan tekanan eksternal mereda.
Ekonomi Global Melambat, Risiko Masih Tinggi
BI memproyeksikan ekonomi dunia melambat dari 3,3% pada 2025 menjadi 3,2% pada 2026. Perlambatan dipicu perang dagang, tensi geopolitik, dan kebijakan ekonomi negara besar.
Amerika Serikat diperkirakan tetap kuat karena stimulus fiskal dan investasi besar, termasuk di bidang kecerdasan buatan. Sebaliknya, Eropa, Jepang, dan Tiongkok diprediksi melambat akibat lemahnya ekspor dan konsumsi domestik.
Dalam situasi seperti ini, aliran modal ke negara berkembang menjadi lebih selektif. Artinya, investor hanya masuk ke negara yang dianggap paling stabil dan menguntungkan.
Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh Solid
Di tengah kondisi global yang sulit, ekonomi Indonesia justru menunjukkan kinerja cukup baik. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39% (year-on-year), naik dari 5,04% pada kuartal sebelumnya. Sepanjang 2025, ekonomi tumbuh 5,11%, sedikit lebih tinggi dibanding 2024.
Motor utamanya adalah konsumsi rumah tangga dan investasi, didorong berbagai stimulus pemerintah dan kebijakan BI.
Untuk 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 4,9%–5,7%. Momentum belanja masyarakat pada periode hari besar seperti Imlek, Nyepi, dan Idulfitri juga diharapkan ikut mendorong ekonomi.
Inflasi Masih Aman
Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% (yoy), naik dari bulan sebelumnya karena efek perbandingan dengan diskon tarif listrik tahun lalu. Namun inflasi inti — yang mencerminkan tekanan harga sebenarnya — tetap rendah di sekitar 2,45%.
BI yakin inflasi akan tetap berada dalam target sekitar 2,5% ± 1% pada 2026–2027. Artinya, kenaikan harga barang secara umum masih terkendali.
Kredit Mulai Tumbuh, Bank Masih Kuat
Penyaluran kredit perbankan tumbuh hampir 10% pada Januari 2026. Kredit investasi bahkan melonjak lebih dari 22%, menunjukkan aktivitas usaha mulai meningkat.
BI menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini bisa mencapai 8%–12%.
Meski BI sudah menurunkan suku bunga sejak 2024, dampaknya ke bunga pinjaman bank masih terbatas.
* Bunga deposito turun, tapi belum besar
* Bunga kredit baru turun tipis (sekitar 40 basis poin)
BI mendorong bank agar lebih cepat menurunkan bunga pinjaman supaya dunia usaha dan konsumsi bisa tumbuh lebih kuat.
Transaksi Digital Meledak
Salah satu sektor yang tumbuh paling pesat adalah ekonomi digital.
Pada Januari 2026:
* Transaksi pembayaran digital mencapai 4,79 miliar transaksi (naik hampir 40% setahun)
* Transaksi QRIS melonjak lebih dari dua kali lipat
* Sistem BI-FAST memproses ratusan juta transaksi bernilai ribuan triliun rupiah
Ini menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin jarang menggunakan uang tunai.
Secara keseluruhan, pesan utama BI cukup jelas: stabilitas lebih penting daripada stimulus agresif saat ini.
Bank sentral ingin memastikan rupiah tetap terkendali, inflasi rendah, dan sistem keuangan stabil sebelum kembali menurunkan suku bunga lebih jauh.