1. Home
  2. Infografik

Persentase Penduduk Miskin Hingga September 2025

Sumber: BPS
Update : 09 Februari 2026

Kemiskinan Indonesia Turun ke 8,25% pada 2025, Tapi Tekanan Biaya Hidup Masih Tinggi

Tingkat kemiskinan di Indonesia kembali mencatatkan penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan persentase penduduk miskin pada September 2025 turun menjadi 8,25%, lebih rendah dibandingkan Maret 2025 sebesar 8,47% dan September 2024 yang masih 8,57% .

Secara jumlah, penduduk miskin Indonesia tercatat 23,36 juta orang, menyusut 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025 dan turun 700 ribu orang dibandingkan September 2024 . Penurunan ini menunjukkan pemulihan ekonomi masih berjalan, meski lajunya belum agresif.

Namun, di balik perbaikan tersebut, tekanan biaya hidup tetap menjadi sorotan. Garis kemiskinan naik 7,76% secara tahunan menjadi Rp641.443 per kapita per bulan, menandakan kebutuhan minimum masyarakat semakin mahal. Dengan kata lain, keluar dari kemiskinan kini membutuhkan daya beli yang lebih besar dibandingkan setahun lalu.

Peta Kemiskinan Indonesia 2025: Jawa Terbanyak, Maluku–Papua Paling Tinggi

Kemiskinan di Indonesia menunjukkan kontras antarwilayah. Dari sisi jumlah, Pulau Jawa masih menyumbang penduduk miskin terbanyak, mencapai 12,32 juta orang, lebih dari separuh total nasional .

Namun jika dilihat dari persentase, wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi adalah Maluku dan Papua sebesar 18,22%, jauh di atas rata-rata nasional 8,25%. Sebaliknya, Kalimantan mencatat tingkat kemiskinan terendah, hanya sekitar 5,02% .

Perbedaan ini mencerminkan karakter kemiskinan yang berbeda. Jawa menghadapi tekanan urbanisasi dan populasi besar, sementara Maluku dan Papua berhadapan dengan biaya hidup tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta akses ekonomi yang belum merata.

Kelas Menengah Indonesia Masih Rentan Meski Angka Kemiskinan Turun

Penurunan kemiskinan belum otomatis memperkuat kelas menengah. Banyak rumah tangga berada tepat di atas garis kemiskinan dan sangat rentan terhadap guncangan harga.

Kenaikan garis kemiskinan hampir 8% dalam setahun menandakan beban konsumsi dasar makin berat, terutama pangan yang menyumbang lebih dari 74% terhadap garis kemiskinan nasional.

Kelompok ini kerap disebut sebagai rentan miskin—tidak lagi tergolong miskin, namun belum cukup kuat secara ekonomi. Tanpa perlindungan daya beli dan pekerjaan berkualitas, kelas ini berisiko turun kelas saat terjadi inflasi atau perlambatan ekonomi.

Kemiskinan Turun, Ketimpangan Wilayah Masih Lebar di Indonesia

Meski tingkat kemiskinan nasional menurun, ketimpangan antarwilayah masih menjadi tantangan serius. Indikatornya terlihat dari perbedaan tajam garis kemiskinan antarprovinsi.

Di Papua Pegunungan, garis kemiskinan per kapita telah menembus Rp1,23 juta per bulan, hampir dua kali lipat rata-rata nasional. Sebaliknya, di sejumlah provinsi Sulawesi dan Jawa, garis kemiskinan masih berada di bawah Rp600 ribu .

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan pengentasan kemiskinan tidak bisa bersifat seragam. Wilayah dengan biaya hidup tinggi membutuhkan pendekatan berbeda, baik melalui subsidi harga, infrastruktur logistik, maupun penciptaan pusat ekonomi baru.

Peran Subsidi dan Bansos: Penopang Daya Beli di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

Penurunan kemiskinan pada 2025 tidak lepas dari peran belanja negara. Hingga September 2025, realisasi bantuan sosial mencapai Rp112,7 triliun, atau 75,5% dari target APBN .

Bansos membantu menjaga daya beli kelompok bawah dan rentan miskin di tengah kenaikan harga pangan. Namun, tantangannya adalah memastikan subsidi bersifat tepat sasaran dan produktif, bukan sekadar menahan konsumsi jangka pendek.

Ke depan, efektivitas subsidi akan sangat menentukan apakah kelompok rentan bisa naik kelas, atau hanya bertahan tepat di atas garis kemiskinan.

Apa Arti Turunnya Kemiskinan bagi Konsumsi, Pasar, dan Ekonomi Indonesia?

Turunnya tingkat kemiskinan memberi sinyal positif bagi konsumsi domestik, yang masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada triwulan III-2025, konsumsi rumah tangga tumbuh seiring ekonomi nasional yang mencatat pertumbuhan 5,04% (yoy) .

Namun struktur konsumsi masih didominasi kebutuhan dasar. Selama porsi belanja pangan tetap besar, ruang pertumbuhan sektor discretionary—seperti ritel non-esensial, properti, dan jasa—akan terbatas.

Bagi pasar keuangan, kondisi ini berarti stabilitas jangka pendek tetap terjaga, tetapi penguatan kelas menengah menjadi kunci agar konsumsi dan pasar modal dapat tumbuh lebih agresif dan berkelanjutan.

Periode
Persentase Penduduk Miskin (%)
Sep 2014
10,96
Mar 2015
11,22
Sep 2015
11,13
Mar 2016
10,86
Sep 2016
10,70
Mar 2017
10,64
Sep 2017
10,12
Mar 2018
9,82
Sep 2018
9,66
Mar 2019
9,41
Sep 2019
9,22
Mar 2020
9,78
Sep 2020
10,19
Mar 2021
10,14
Sep 2021
9,71
Mar 2022
9,54
Sep 2022
9,57
Mar 2023
9,36
Mar 2024
9,03
Sep 2024
8,57
Mar 2025
8,47
Sep 2025
8,25

Infografik Terbaru

Bank Indonesia (BI) Menahan BI Rate di Angka 5,75% pada September 2026
Bank Indonesia | 23 September 2026
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75%. BI Rate bertahan sejak Juni 2026 setelah BI mengerek suku bunga 100 bps dua bulan beruntun
Hasil Lelang SRBI Tahun 2026, Yield Mulai Turun pada Bulan Agustus
Bank Indonesia | 10 September 2026
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menurun setelah berada di atas 7% sejak Juni 2026
Kepemilikan Asing di SRBI Tembus Rekor Tertinggi pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 10 September 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai angka tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI September 2023
Dana Kelolaan Reksadana Agustus 2026
OJK | 08 September 2026
Dana kelolaan reksadana naik tipis pada Agustus 2026, berbalik dari penurunan tiga bulan sebelumnya. Tetapi unit penyertaan reksadana turun 5 bulan beruntun
Kepemilikan SBN per 4 September 2026 Asing Tertinggi Setahun Terakhir
DJPPR Kemenkeu | 08 September 2026
Investor asing mulai kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ini terlihat dari dari kepemilikan asing yang naik 3 bulan beruntun
Cadangan Devisa Agustus 2026
Bank Indonesia | 07 September 2026
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 146,51 miliar pada Agustus 2026 ketimbang Juli yang sebesar US$ 145,34 miliar
Inflasi Agustus 2026 Naik Menjadi 3,19%
BPS | 01 September 2026
Inflasi tahunan mencapai 3,59% pada Agustus 2026, meningkat dari 2,88% pada Juli 2026
Neraca Dagang Juni 2025-Juli 2026
BPS | 01 September 2026
Neraca dagang Juli 2026 menunjukkan surplus tipis US$ 121,9 juta setelah defisit dua bulan beruntun
BI Rate Tetap Berada di Level 5,75% pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 19 Agustus 2026
Bank Indonesia menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 18-19 Agustus 2026
Utang Luar Negeri Pemerintah Tembus US$ 217 Miliar
Bank Indonesia | 13 Agustus 2026
Sempat turun saat periode pandemi, total utang pemerintah terus naik dalam empat tahun terakhir hingga Mei 2026
loading
Close [X]