Neraca Dagang 2025 Tetap Surplus di Tengah Tekanan Perang Tarif AS
Perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan daya tahan yang cukup solid, meski dihadapkan pada meningkatnya tensi perdagangan global akibat perang tarif yang kembali digencarkan Amerika Serikat sejak April 2025.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$ 282,91 miliar, tumbuh 6,15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, nilai impor tercatat sebesar US$ 241,86 miliar, naik 2,83% secara tahunan. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 41,05 miliar sepanjang 2025.
Surplus ini ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang mencatat surplus US$ 60,75 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit US$ 19,70 miliar.
Ekspor Nonmigas Jadi Penopang Utama
Kenaikan ekspor Indonesia pada 2025 terutama didorong oleh sektor nonmigas yang tumbuh 7,66% menjadi US$269,84 miliar. Sebaliknya, ekspor migas justru turun 17,69% akibat melemahnya ekspor minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam.
Dari sisi komoditas, lemak dan minyak hewani/nabati—terutama produk kelapa sawit—menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan lonjakan nilai ekspor 27,94% atau sekitar US$ 7,50 miliar.
Kinerja positif juga datang dari mesin dan perlengkapan elektrik, produk kimia, logam mulia, hingga nikel dan turunannya. Sebaliknya, ekspor bahan bakar mineral mengalami penurunan tajam 19,18%, seiring melemahnya permintaan dan harga global.
Secara geografis, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai US$ 64,82 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 30,96 miliar, dan India US$ 18,32 miliar. Ketiganya menyumbang lebih dari 42% total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang 2025.
Impor Naik, Didominasi Barang Modal
Di sisi impor, kenaikan nilai impor 2025 terutama didorong oleh meningkatnya impor nonmigas yang naik 5,11% menjadi US$ 209,09 miliar. Yang menarik, impor barang modal melonjak 20,06% menjadi US$ 50,13 miliar, mengindikasikan masih berlanjutnya aktivitas investasi dan ekspansi kapasitas produksi di dalam negeri.
Sebaliknya, impor bahan baku/penolong relatif stagnan, sementara impor barang konsumsi justru turun 1,35%, mencerminkan pelemahan daya beli atau pergeseran konsumsi masyarakat.
Dampak Perang Tarif AS Sejak April 2025
Perang tarif yang dilancarkan Amerika Serikat sejak April 2025—terutama terhadap produk-produk dari Tiongkok dan sejumlah negara mitra dagang—memberi dampak tidak langsung terhadap pola perdagangan Indonesia. Di satu sisi, kebijakan ini menekan permintaan global dan memperburuk ketidakpastian perdagangan internasional, yang tercermin dari turunnya ekspor komoditas berbasis energi dan pertambangan.
Namun di sisi lain, konflik tarif tersebut juga membuka peluang trade diversion. Kenaikan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sebesar 16,66% pada 2025 menunjukkan bahwa sebagian permintaan AS beralih ke negara lain di luar target tarif utama. Hal ini terlihat terutama pada produk manufaktur, mesin, dan komoditas bernilai tambah yang mampu mengisi celah pasokan akibat hambatan dagang AS–Tiongkok.
Meski demikian, ketergantungan Indonesia pada pasar global tetap menjadi tantangan. Eskalasi lanjutan perang tarif berisiko menekan harga komoditas, memperlemah permintaan eksternal, serta meningkatkan volatilitas nilai tukar dan arus modal.