1. Home
  2. Infografik

Neraca Dagang Indonesia September 2026 Surplus US$ 3,36 Miliar

Sumber: BPS
Update : 02 November 2026

Surplus Neraca Dagang Indonesia Anjlok 68,4% hingga September 2026, Ini Penyebabnya

JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia mengalami penyusutan cukup tajam sepanjang Januari-September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia hanya mencapai US$ 10,61 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 33,54 miliar.

Dengan demikian, surplus perdagangan Indonesia menyusut sekitar 68,4% secara tahunan (year on year/yoy).

Penyusutan surplus tersebut terjadi ketika nilai impor Indonesia tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 221,23 miliar atau meningkat 5,58% dibandingkan Januari-September 2025.

Sementara itu, nilai impor mencapai US$ 210,63 miliar atau melonjak 19,67% secara tahunan.

Artinya, meskipun ekspor Indonesia masih tumbuh, peningkatan impor yang lebih tinggi membuat selisih antara nilai ekspor dan impor semakin tipis.

Impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia pada Januari-September 2026 mencapai US$ 221,23 miliar. Angka ini meningkat dari US$ 209,55 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan ekspor terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencapai US$ 212,27 miliar atau tumbuh 6,30% secara tahunan.

Sebaliknya, ekspor migas justru mengalami penurunan 9,11% menjadi US$ 8,96 miliar.

Di sisi lain, impor Indonesia tumbuh lebih kencang. Nilainya mencapai US$ 210,63 miliar, naik dari US$ 176,01 miliar pada Januari-September 2025.

Impor nonmigas tercatat sebesar US$ 178,06 miliar atau meningkat 16,92%. Sementara impor migas mencapai US$ 32,57 miliar.

Jika dibandingkan, pertumbuhan impor sebesar 19,67% jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya 5,58%. Kondisi inilah yang membuat surplus perdagangan Indonesia menyusut signifikan.

Impor bahan baku mendominasi

Jika dilihat berdasarkan golongan penggunaan barang, impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan bahan penolong.

Sepanjang Januari-September 2026, impor kelompok ini mencapai US$ 150,57 miliar atau berkontribusi 71,49% terhadap total impor Indonesia.

Nilainya meningkat 21,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selanjutnya, impor barang modal mencapai US$ 41,55 miliar atau tumbuh 16,49%. Adapun impor barang konsumsi tercatat sebesar US$ 18,51 miliar, meningkat 15,54% secara tahunan.

Data tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan impor tidak hanya terjadi pada barang konsumsi, tetapi juga pada kebutuhan produksi dan investasi.

Dari sisi negara asal, Tiongkok menjadi pemasok barang impor nonmigas terbesar bagi Indonesia. Sepanjang Januari-September 2026, impor nonmigas dari negara tersebut mencapai US$ 76,16 miliar atau menyumbang 42,77% dari total impor nonmigas.

Posisi berikutnya ditempati Jepang dengan nilai US$ 10,04 miliar dan Australia sebesar US$ 8,07 miliar.

Sektor migas masih menjadi sumber defisit

Meski perdagangan Indonesia secara keseluruhan masih surplus, sektor migas justru terus mencatatkan defisit.

BPS mencatat neraca perdagangan sektor migas pada Januari-September 2026 mengalami defisit sebesar US$ 23,60 miliar.

Sebaliknya, sektor nonmigas masih menjadi penopang surplus perdagangan dengan nilai US$ 34,21 miliar.

Dengan kata lain, surplus dari sektor nonmigas harus menutup defisit yang terjadi pada perdagangan migas agar neraca perdagangan Indonesia tetap berada di zona positif.

September masih surplus US$ 3,36 miliar

Sementara itu, secara bulanan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 masih mencatatkan surplus sebesar US$ 3,36 miliar.

Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar US$ 5,67 miliar. Namun, sektor migas mengalami defisit US$ 2,31 miliar.

Pada bulan tersebut, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 27,59 miliar, meningkat 11,87% dibandingkan September 2025.

Adapun nilai impor tercatat sebesar US$ 24,23 miliar atau naik 18,41% secara tahunan.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2026, ekspor September juga meningkat 3,68%, sedangkan impor naik 5,09%.

Meski masih mampu mempertahankan surplus bulanan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa laju impor Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan ekspornya.

Dengan surplus kumulatif yang menyusut hingga 68,4%, perkembangan ekspor dan impor menjadi perhatian penting dalam melihat ketahanan perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang 2026.

Ekspor
Impor
Neraca Dagang
Desember-24
23,46
21,22
2,24
Januari-25
21,43
17,94
3,49
Februari-25
21,94
18,85
3,09
Maret-25
23,25
18,92
4,33
April-25
20,74
20,58
0,16
Mei-25
24,61
20,31
4,30
Juni-25
23,44
19,33
4,11
Juli-25
24,75
20,57
4,17
Agustus-25
24,96
19,47
5,49
September-25
24,68
20,34
4,34
Oktober-25
24,24
21,84
2,39
November-25
22,52
19,86
2,66
Desember-25
26,35
23,83
2,51
Januari-26
22,16
21,20
0,95
Februari-26
22,17
20,89
1,27
Maret-26
22,53
19,21
3,32
April-26
25,30
25,21
0,09
Mei-26
23,20
24,81
-1,61
Juni-26
25,46
25,91
-0,45
Juli-26
26,22
26,09
0,12
Agustus-26
26,21
23,06
3,55
September-26
27,59
24,23
3,36

Infografik Terbaru

Neraca Dagang Indonesia September 2026 Surplus US$ 3,36 Miliar
BPS | 02 November 2026
Surplus perdagangan Indonesia hanya mencapai US$ 10,61 miliar periode Januari-September 2026, turun dari US$ 33,54 miliar periode yang sama tahun lalu
Inflasi Oktober 2026 Mencapai 3,23% Secara Tahunan
BPS | 02 November 2026
Pada Oktober 2026, terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,23% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,56. Tingkat inflasi month-to-month pada Oktober
BI Rate Oktober 2026 Tetap di Angka 5,75%
Bank Indonesia | 21 Oktober 2026
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026. BI Rate berada di angka yang sama sejak Juni 2026
Realisasi Investasi Tumbuh 7,59% YoY, PMDN Turun pada Kuartal III-2026
Kementerian Investasi dan Hilirisasi | 20 Oktober 2026
Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat, realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp 528,7 triliun, hanya naik 7,59% secara tahunan
10 Saham Dengan Net Sell Asing Terbesar Tahun 2026
RTI | 19 Oktober 2026
Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 88,19 triliun sejak awal tahun hingga 16 Oktober 2026. Net sell di pasar reguler menyentuh Rp 114 triliun
Net Sell Asing Mencapai Rp 3,35 Triliun Saat IHSG Longsor 11,57% pada 16 Oktober 2026
RTI | 16 Oktober 2026
Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 3,35 triliun saat IHSG tumbang 11,57% menjadi 5.185,10 pada 16 Oktober 2026
Outstanding SRBI Turun pada September 2026, Asing Bertahan
Bank Indonesia | 09 Oktober 2026
Outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turun menjadi Rp 1.028 triliun pada September 2026 dari bulan sebelumnya Rp 1.063 triliun
Total Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Turun pada September 2026
OJK | 09 Oktober 2026
Total dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana turun pada September 2026 jika dibandingkan dengan Agustus 2026
Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Turun pada September 2026
OJK | 08 Oktober 2026
Total dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana turun pada September 2026
CEO Index Oktober 2026 Naik Tipis, Ekonomi Global dan Kondisi Politik Jadi Penghambat
Survei Kontan | 05 Oktober 2026
Indeks Keyakinan CEO Indonesia (ICCI) periode kuartal IV-2026 berada di level 3,18. Para CEO menyoroti dua isu utama, yakni politik nasional dan ekonomi global
loading
Close [X]