Outflow Asing Deras Saat MSCI Menimbang Potensi Status Standalone Market Buat Indonesia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbang pada perdagangan terakhir pekan ini. Jumat (16/10), IHSG longsor 678,67 poin atau 11,57% menjadi 5.185,10 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penurunan tajam IHSG hari ini terutama terjadi setelah pengumuman dari MSCI. Penyedia indeks global, MSCI, resmi memulai konsultasi terkait usulan perubahan status pasar saham Indonesia. Dalam usulan tersebut, MSCI mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Meski demikian, Indonesia belum resmi turun status. MSCI masih mengumpulkan masukan dari pelaku pasar dan belum menetapkan keputusan akhir. Saat ini, pasar saham Indonesia masih berstatus Emerging Market atau pasar negara berkembang.
MSCI membuka konsultasi hingga 30 April 2027. Setelah itu, MSCI menargetkan pengumuman keputusan final paling lambat pada 30 Juni 2027.
Jika usulan penurunan status ini disetujui, perubahan tersebut akan berlaku pada indeks MSCI Indonesia serta indeks regional dan global terkait.
Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 3,35 triliun di seluruh pasar saat IHSG tumbang. Net sell asing di pasar reguler sebesar Rp 3,40 triliun. Sedangkan di pasar tunai dan pasar negosiasi ada net buy atau beli bersih Rp 51,83 miliar.
Saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 288,3 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 75,7 miliar, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) Rp 58,6 miliar.
Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 2,3 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 1,1 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 868 miliar.
Tiga saham bank menjadi sasaran jual asing karena saham-saham bank memiliki eksposur terbesar untuk investor asing. Tak cuma jadi sasaran net sell asing, saham BBCA, BBRI, dan BMRI juga menjadi top laggards IHSG dengan penurunan menyentuh auto rejection bawah (ARB) hampir 15%.
Harga saham BBRI turun 14,84% menjadi Rp 2.640 per saham. Harga saham BMRI turun 14,82% menjadi Rp 3.390 per saham. Harga saham BBCA turun 14,81% menjadi 5.175 per saham.
Ketiga saham bank, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI pun merupakan saham-saham dengan frekuensi transaksi terbesar. Frekuensi transaksi saham-saham ini bahkan mencapai ratusan ribu kali, jauh lebih tinggi ketimbang frekuensi tertinggi harian yang biasa tercatat.
Frekuensi transaksi BBRI 219.495 kali
Frekuensi transaksi BBCA 185.087 kali
Frekuensi transaksi BMRI 159.259 kali
Total volume transaksi bursa mencapai 68,61 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 32,01 triliun. Sebanyak 775 saham melemah. Ada 10 saham menguat dan 10 saham flat.
IHSG mengakumulasi pelemahan 14,91% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG telah turun total 40,04%.
Informasi saja, berdasarkan data RTI, net sell asing sejak awal tahun telah mencapai Rp 84,85 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler saja, bahkan net sell asing tembus Rp 110,77 triliun. Di pasar tunai dan pasar negosiasi yang biasanya merupakan transaksi untuk akuisisi dan merger, tercatat net buy asing Rp 25,92 triliun.