1. Home
  2. Infografik

Net Sell Asing Mencapai Rp 3,35 Triliun Saat IHSG Longsor 11,57% pada 16 Oktober 2026

Sumber: RTI
Update : 16 Oktober 2026

Outflow Asing Deras Saat MSCI Menimbang Potensi Status Standalone Market Buat Indonesia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbang pada perdagangan terakhir pekan ini. Jumat (16/10), IHSG longsor 678,67 poin atau 11,57% menjadi 5.185,10 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penurunan tajam IHSG hari ini terutama terjadi setelah pengumuman dari MSCI. Penyedia indeks global, MSCI, resmi memulai konsultasi terkait usulan perubahan status pasar saham Indonesia. Dalam usulan tersebut, MSCI mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Meski demikian, Indonesia belum resmi turun status. MSCI masih mengumpulkan masukan dari pelaku pasar dan belum menetapkan keputusan akhir. Saat ini, pasar saham Indonesia masih berstatus Emerging Market atau pasar negara berkembang.

MSCI membuka konsultasi hingga 30 April 2027. Setelah itu, MSCI menargetkan pengumuman keputusan final paling lambat pada 30 Juni 2027.

Jika usulan penurunan status ini disetujui, perubahan tersebut akan berlaku pada indeks MSCI Indonesia serta indeks regional dan global terkait.

Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 3,35 triliun di seluruh pasar saat IHSG tumbang. Net sell asing di pasar reguler sebesar Rp 3,40 triliun. Sedangkan di pasar tunai dan pasar negosiasi ada net buy atau beli bersih Rp 51,83 miliar.

Saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 288,3 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 75,7 miliar, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) Rp 58,6 miliar.

Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 2,3 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 1,1 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 868 miliar.

Tiga saham bank menjadi sasaran jual asing karena saham-saham bank memiliki eksposur terbesar untuk investor asing. Tak cuma jadi sasaran net sell asing, saham BBCA, BBRI, dan BMRI juga menjadi top laggards IHSG dengan penurunan menyentuh auto rejection bawah (ARB) hampir 15%.

Harga saham BBRI turun 14,84% menjadi Rp 2.640 per saham. Harga saham BMRI turun 14,82% menjadi Rp 3.390 per saham. Harga saham BBCA turun 14,81% menjadi 5.175 per saham.

Ketiga saham bank, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI pun merupakan saham-saham dengan frekuensi transaksi terbesar. Frekuensi transaksi saham-saham ini bahkan mencapai ratusan ribu kali, jauh lebih tinggi ketimbang frekuensi tertinggi harian yang biasa tercatat.

Frekuensi transaksi BBRI 219.495 kali

Frekuensi transaksi BBCA 185.087 kali

Frekuensi transaksi BMRI 159.259 kali

Total volume transaksi bursa mencapai 68,61 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 32,01 triliun. Sebanyak 775 saham melemah. Ada 10 saham menguat dan 10 saham flat.

IHSG mengakumulasi pelemahan 14,91% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG telah turun total 40,04%.

Informasi saja, berdasarkan data RTI, net sell asing sejak awal tahun telah mencapai Rp 84,85 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler saja, bahkan net sell asing tembus Rp 110,77 triliun. Di pasar tunai dan pasar negosiasi yang biasanya merupakan transaksi untuk akuisisi dan merger, tercatat net buy asing Rp 25,92 triliun.

Saham
Dana Asing
BBCA
-2.300,00
BBRI
-1.100,00
BMRI
-868,00
ANTM
-137,80
TLKM
-90,20
ENRG
57,80
BRPT
57,80
EMAS
58,60
INDF
75,70
GOTO
288,30

Infografik Terbaru

Net Sell Asing Mencapai Rp 3,35 Triliun Saat IHSG Longsor 11,57% pada 16 Oktober 2026
RTI | 16 Oktober 2026
Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 3,35 triliun saat IHSG tumbang 11,57% menjadi 5.185,10 pada 16 Oktober 2026
Outstanding SRBI Turun pada September 2026, Asing Bertahan
Bank Indonesia | 09 Oktober 2026
Outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turun menjadi Rp 1.028 triliun pada September 2026 dari bulan sebelumnya Rp 1.063 triliun
Total Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Turun pada September 2026
OJK | 09 Oktober 2026
Total dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana turun pada September 2026 jika dibandingkan dengan Agustus 2026
Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Turun pada September 2026
OJK | 08 Oktober 2026
Total dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana turun pada September 2026
CEO Index Oktober 2026 Naik Tipis, Ekonomi Global dan Kondisi Politik Jadi Penghambat
Survei Kontan | 05 Oktober 2026
Indeks Keyakinan CEO Indonesia (ICCI) periode kuartal IV-2026 berada di level 3,18. Para CEO menyoroti dua isu utama, yakni politik nasional dan ekonomi global
Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus Karena Penurunan Impor
BPS | 01 Oktober 2026
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus hanya US$121,9 juta pada Juli 2026
Inflasi Tahunan Naik Menjadi 3,28% pada September 2026
BPS | 01 Oktober 2026
Laju inflasi meningkat menjadi 3,28% pada September 2026 dari posisi Agustus yang berada di 3,19%
Bank Indonesia (BI) Menahan BI Rate di Angka 5,75% pada September 2026
Bank Indonesia | 23 September 2026
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75%. BI Rate bertahan sejak Juni 2026 setelah BI mengerek suku bunga 100 bps dua bulan beruntun
Hasil Lelang SRBI Tahun 2026, Yield Mulai Turun pada Bulan Agustus
Bank Indonesia | 10 September 2026
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menurun setelah berada di atas 7% sejak Juni 2026
Kepemilikan Asing di SRBI Tembus Rekor Tertinggi pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 10 September 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai angka tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI September 2023
loading
Close [X]