Outstanding SRBI Turun pada September 2026, Apa Artinya bagi Likuiditas dan Investor?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Total outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami penurunan pada September 2026 setelah sempat meningkat pada Agustus. Berdasarkan data yang tersedia, outstanding SRBI pada September 2026 tercatat sebesar Rp 1.028,15 triliun, turun dari Rp 1.062,91 triliun pada Agustus 2026.
Penurunan ini menunjukkan bahwa nilai SRBI yang masih beredar di pasar berkurang dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, nilainya masih berada di atas Rp 1.000 triliun, menandakan bahwa instrumen moneter Bank Indonesia (BI) ini tetap memiliki porsi besar dalam pengelolaan likuiditas rupiah.
Untuk memahami perkembangan tersebut, penting melihat bukan hanya perubahan total outstanding SRBI, tetapi juga pergerakan kepemilikannya berdasarkan kelompok pemegang, terutama perbankan dan investor asing.
Outstanding SRBI turun Rp 34,76 triliun dalam sebulan
Berdasarkan data bulanan, outstanding SRBI mencapai titik tertinggi dalam periode yang ditampilkan pada Juni 2026, yakni Rp 1.072,62 triliun. Setelah itu, nilainya turun menjadi Rp 1.059,30 triliun pada Juli, sebelum kembali meningkat tipis menjadi Rp 1.062,91 triliun pada Agustus 2026. Pada September, outstanding SRBI kembali turun menjadi Rp 1.028,15 triliun.
Artinya, dalam sebulan, outstanding SRBI menyusut Rp 34,76 triliun atau sekitar 3,27%. Jika dibandingkan dengan posisi tertinggi pada Juni 2026, outstanding SRBI September juga sudah berkurang Rp 44,47 triliun.
Meski demikian, penurunan tersebut belum menghapus peningkatan yang terjadi sepanjang tahun. Outstanding SRBI September 2026 masih lebih tinggi dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar Rp 730,90 triliun.
Kepemilikan perbankan dan non-bank ikut turun
Penurunan outstanding SRBI pada September 2026 terjadi bersamaan dengan berkurangnya kepemilikan dari seluruh kelompok pemegang dalam data. Penurunan terbesar secara nominal berasal dari kelompok lainnya, yakni Rp 18,32 triliun. Kepemilikan perbankan turun Rp 11,14 triliun, sedangkan kepemilikan non-bank berkurang Rp 3,79 triliun.
Sementara itu, kepemilikan asing hanya turun Rp 1,51 triliun. Dengan demikian, penurunan outstanding SRBI pada September bukan terutama disebabkan oleh berkurangnya kepemilikan asing, melainkan juga oleh perubahan kepemilikan kelompok domestik dan kelompok lainnya.
Penurunan outstanding SRBI perlu dibaca dalam konteks fungsi instrumen ini sebagai bagian dari operasi moneter BI. SRBI merupakan surat berharga dalam rupiah yang diterbitkan BI untuk mendukung pengelolaan likuiditas dan pendalaman pasar uang.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari perkembangan terbaru ini.
1. Nilai SRBI yang beredar mulai berkurang setelah mencapai level tinggi
Outstanding SRBI turun selama dua bulan terakhir dibandingkan posisi Juni 2026, meskipun sempat sedikit meningkat pada Agustus. Perkembangan ini menunjukkan adanya pengurangan nilai SRBI yang masih beredar di pasar.
Namun, data outstanding saja belum cukup untuk memastikan penyebab penurunan. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan jatuh tempo surat berharga, penerbitan baru, atau perubahan transaksi dan kepemilikan. Untuk mengetahui faktor yang dominan, diperlukan data tambahan mengenai penerbitan dan jatuh tempo SRBI.
2. Penurunan outstanding tidak otomatis berarti likuiditas perbankan membaik
SRBI menjadi salah satu instrumen yang dapat menyerap likuiditas rupiah dari sistem keuangan. Ketika outstanding turun, ada kemungkinan dana yang sebelumnya ditempatkan pada SRBI kembali tersedia bagi pemegangnya, misalnya ketika surat berharga jatuh tempo.
Meski begitu, penurunan outstanding tidak serta-merta membuktikan bahwa likuiditas perbankan meningkat. Hasil akhirnya bergantung pada transaksi SRBI, operasi moneter BI lainnya, serta pergerakan dana di sistem perbankan.
Karena itu, perkembangan SRBI perlu dibandingkan dengan indikator lain, seperti likuiditas perbankan, pertumbuhan kredit, suku bunga pasar uang, dan instrumen moneter BI lainnya.
3. Kepemilikan asing relatif stabil, tetapi masih jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu
Kepemilikan asing pada September 2026 tercatat Rp 293,15 triliun, hampir sama dengan Rp 294,66 triliun pada Agustus. Akan tetapi, nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 114,05 triliun pada Desember 2025 dan Rp 90,82 triliun pada September 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun outstanding SRBI secara keseluruhan mulai menurun dari puncaknya pada Juni, kepemilikan asing masih bertahan pada level yang relatif tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, besarnya kepemilikan asing tidak bisa langsung diartikan sebagai sinyal bahwa investor asing akan terus menempatkan dananya di Indonesia. Penilaiannya perlu mempertimbangkan arah suku bunga, nilai tukar rupiah, imbal hasil instrumen lain, serta perkembangan risiko global.
Penurunan outstanding SRBI pada September 2026 menjadi perkembangan penting dalam memantau pengelolaan likuiditas rupiah. Nilainya turun 3,27% secara bulanan menjadi Rp 1.028,15 triliun, setelah mencapai posisi tertinggi Rp 1.072,62 triliun pada Juni.
Penurunan tersebut terutama tercermin dari berkurangnya kepemilikan kelompok lainnya dan perbankan, sementara kepemilikan asing relatif stabil.
Bagi pasar keuangan, perkembangan berikutnya yang perlu dicermati adalah apakah penurunan outstanding SRBI berlanjut pada bulan-bulan selanjutnya dan bagaimana pengaruhnya terhadap likuiditas perbankan, pergerakan rupiah, serta minat investor terhadap instrumen rupiah.
Catatan: Penurunan outstanding SRBI merupakan salah satu indikator yang perlu diamati, bukan bukti tunggal mengenai membaik atau memburuknya likuiditas maupun kepercayaan investor.