CEO Index Q4 2026 Naik, Pebisnis Masih Khawatir Ekonomi Global dan Politik
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki kuartal IV-2026 atau penghujung tahun, pelaku usaha biasanya mulai meningkatkan aktivitas bisnis untuk mengejar target pendapatan. Momentum akhir tahun juga diharapkan mendorong belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat.
Kondisi tersebut turut mendorong optimisme kalangan pebisnis. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan CEO Indonesia atau Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) kuartal IV-2026 yang berada di level 3,18.
Angka tersebut meningkat dibandingkan ICCI kuartal III-2026 yang berada di level 3,04. Dengan demikian, keyakinan para CEO terhadap kondisi bisnis menunjukkan pemulihan meski masih dalam level optimistis yang hati-hati.
Penguatan optimisme tersebut juga sejalan dengan perbaikan aktivitas manufaktur. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia pada September 2026 mencapai 52,4, naik dari posisi sebelumnya 49,8. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Ekonomi global masih jadi perhatian CEO
Meski optimisme CEO meningkat, hasil survei KONTAN terhadap puluhan CEO menunjukkan masih ada sejumlah risiko yang menjadi perhatian dunia usaha.
Dari enam indikator utama dalam CEO Index, ekonomi global dan politik nasional masih berada di bawah level 3. Masing-masing mencatat skor 2,78 dan 2,89.
Kedua indikator tersebut juga cenderung melemah secara kuartalan. Pada kuartal III-2026, indikator ekonomi global berada di level 2,92, sedangkan politik nasional mencapai 2,90.
Artinya, para CEO masih melihat kondisi global dan politik domestik sebagai faktor yang berpotensi menahan perkembangan bisnis dalam tiga bulan ke depan.
Direktur Utama PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) Ibnu Susanto mengatakan, risiko ekonomi global masih cukup tinggi. Risiko tersebut antara lain berasal dari konflik geopolitik, perdagangan, harga energi, suku bunga global, hingga volatilitas dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut dia, ketidakpastian global dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi sekaligus meningkatkan tekanan biaya.
"Untuk dunia usaha, ketidakpastian ini bisa menahan investasi dan menambah tekanan biaya. Karena itu, saya melihat faktor global masih menjadi headwind bagi bisnis," ujarnya beberapa waktu lalu.
Konflik geopolitik tekan prospek bisnis
Direktur Utama PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) atau OneMed Herlien Sri Ariani juga melihat kondisi global masih menjadi tantangan bagi dunia usaha.
Menurut dia, konflik AS-Iran yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan biaya logistik dan bahan baku, termasuk plastik medis dan resin.
Selain itu, konflik Israel-Palestina serta perang dagang AS-China turut meningkatkan ketidakpastian rantai pasok global.
Meski demikian, Herlien melihat masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan perusahaan Indonesia. Salah satunya berasal dari kebijakan tarif yang lebih tinggi terhadap produk asal China di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut mendorong pembeli di AS mencari pemasok alternatif dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
"Meski demikian, ada peluang yang kami manfaatkan, yakni tarif terhadap produk asal China lebih tinggi, sehingga pembeli di AS terus mencari pemasok alternatif dari Asia Tenggara. Ini merupakan peluang bagi perusahaan di Indonesia," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Muamalat Tbk Imam Teguh Saptono menilai kondisi global pada kuartal IV-2026 lebih berpotensi menahan daripada mempercepat prospek bisnis.
Eskalasi geopolitik di Timur Tengah, perang dagang dan tarif, volatilitas harga minyak serta komoditas, hingga arah suku bunga global diperkirakan tetap memengaruhi pergerakan modal ke aset yang dianggap lebih aman.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap rupiah, meningkatkan risiko imported inflation, menaikkan biaya dana, serta membuat perusahaan menunda keputusan investasi.
CEO minta stabilitas politik dan kepastian regulasi
Selain ekonomi global, kondisi politik nasional menjadi perhatian para CEO.
President Director PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) Djohan Sutanto mengatakan dinamika politik dalam negeri merupakan bagian dari proses demokrasi. Namun, bagi dunia usaha, yang paling penting adalah menjaga stabilitas dan kepastian.
"Dari perspektif dunia usaha, hal terpenting adalah stabilitas nasional, kepastian regulasi, dan konsistensi kebijakan, agar aktivitas ekonomi serta keputusan investasi dapat berjalan dengan baik," ungkap Djohan.
Senada, Direktur Utama PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) Daswar Marpaung berharap dinamika politik dalam negeri dapat dikelola dengan baik sehingga tidak mengganggu kepercayaan dunia usaha.
Menurut dia, dunia usaha membutuhkan lingkungan yang kondusif agar perusahaan dapat mengambil keputusan investasi dengan lebih percaya diri.
"Pada akhirnya, pebisnis butuh lingkungan kondusif untuk membuat keputusan investasi," tegasnya.
Optimisme ekspansi tetap terjaga
Kendati masih dibayangi risiko global dan politik nasional, kenaikan CEO Index menjadi 3,18 menunjukkan optimisme pelaku usaha belum surut.
Para CEO masih melihat peluang untuk meningkatkan aktivitas bisnis pada akhir tahun, terutama dengan harapan belanja pemerintah berjalan lebih efektif dan daya beli masyarakat kembali membaik.
Dengan demikian, kuartal IV-2026 menjadi periode yang penting bagi dunia usaha. Di satu sisi, momentum akhir tahun membuka peluang peningkatan pendapatan dan ekspansi. Di sisi lain, ketidakpastian global serta dinamika politik domestik membuat perusahaan tetap perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis dan investasi.