1. Home
  2. Infografik

CEO Index Oktober 2026 Naik Tipis, Ekonomi Global dan Kondisi Politik Jadi Penghambat

Sumber: Survei Kontan
Update : 05 Oktober 2026

CEO Index Q4 2026 Naik, Pebisnis Masih Khawatir Ekonomi Global dan Politik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki kuartal IV-2026 atau penghujung tahun, pelaku usaha biasanya mulai meningkatkan aktivitas bisnis untuk mengejar target pendapatan. Momentum akhir tahun juga diharapkan mendorong belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat.

Kondisi tersebut turut mendorong optimisme kalangan pebisnis. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan CEO Indonesia atau Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) kuartal IV-2026 yang berada di level 3,18.

Angka tersebut meningkat dibandingkan ICCI kuartal III-2026 yang berada di level 3,04. Dengan demikian, keyakinan para CEO terhadap kondisi bisnis menunjukkan pemulihan meski masih dalam level optimistis yang hati-hati.

Penguatan optimisme tersebut juga sejalan dengan perbaikan aktivitas manufaktur. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia pada September 2026 mencapai 52,4, naik dari posisi sebelumnya 49,8. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.

Ekonomi global masih jadi perhatian CEO

Meski optimisme CEO meningkat, hasil survei KONTAN terhadap puluhan CEO menunjukkan masih ada sejumlah risiko yang menjadi perhatian dunia usaha.

Dari enam indikator utama dalam CEO Index, ekonomi global dan politik nasional masih berada di bawah level 3. Masing-masing mencatat skor 2,78 dan 2,89.

Kedua indikator tersebut juga cenderung melemah secara kuartalan. Pada kuartal III-2026, indikator ekonomi global berada di level 2,92, sedangkan politik nasional mencapai 2,90.

Artinya, para CEO masih melihat kondisi global dan politik domestik sebagai faktor yang berpotensi menahan perkembangan bisnis dalam tiga bulan ke depan.

Direktur Utama PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) Ibnu Susanto mengatakan, risiko ekonomi global masih cukup tinggi. Risiko tersebut antara lain berasal dari konflik geopolitik, perdagangan, harga energi, suku bunga global, hingga volatilitas dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut dia, ketidakpastian global dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi sekaligus meningkatkan tekanan biaya.

"Untuk dunia usaha, ketidakpastian ini bisa menahan investasi dan menambah tekanan biaya. Karena itu, saya melihat faktor global masih menjadi headwind bagi bisnis," ujarnya beberapa waktu lalu.

Konflik geopolitik tekan prospek bisnis

Direktur Utama PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) atau OneMed Herlien Sri Ariani juga melihat kondisi global masih menjadi tantangan bagi dunia usaha.

Menurut dia, konflik AS-Iran yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan biaya logistik dan bahan baku, termasuk plastik medis dan resin.

Selain itu, konflik Israel-Palestina serta perang dagang AS-China turut meningkatkan ketidakpastian rantai pasok global.

Meski demikian, Herlien melihat masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan perusahaan Indonesia. Salah satunya berasal dari kebijakan tarif yang lebih tinggi terhadap produk asal China di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut mendorong pembeli di AS mencari pemasok alternatif dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

"Meski demikian, ada peluang yang kami manfaatkan, yakni tarif terhadap produk asal China lebih tinggi, sehingga pembeli di AS terus mencari pemasok alternatif dari Asia Tenggara. Ini merupakan peluang bagi perusahaan di Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Muamalat Tbk Imam Teguh Saptono menilai kondisi global pada kuartal IV-2026 lebih berpotensi menahan daripada mempercepat prospek bisnis.

Eskalasi geopolitik di Timur Tengah, perang dagang dan tarif, volatilitas harga minyak serta komoditas, hingga arah suku bunga global diperkirakan tetap memengaruhi pergerakan modal ke aset yang dianggap lebih aman.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap rupiah, meningkatkan risiko imported inflation, menaikkan biaya dana, serta membuat perusahaan menunda keputusan investasi.

CEO minta stabilitas politik dan kepastian regulasi

Selain ekonomi global, kondisi politik nasional menjadi perhatian para CEO.

President Director PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) Djohan Sutanto mengatakan dinamika politik dalam negeri merupakan bagian dari proses demokrasi. Namun, bagi dunia usaha, yang paling penting adalah menjaga stabilitas dan kepastian.

"Dari perspektif dunia usaha, hal terpenting adalah stabilitas nasional, kepastian regulasi, dan konsistensi kebijakan, agar aktivitas ekonomi serta keputusan investasi dapat berjalan dengan baik," ungkap Djohan.

Senada, Direktur Utama PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) Daswar Marpaung berharap dinamika politik dalam negeri dapat dikelola dengan baik sehingga tidak mengganggu kepercayaan dunia usaha.

Menurut dia, dunia usaha membutuhkan lingkungan yang kondusif agar perusahaan dapat mengambil keputusan investasi dengan lebih percaya diri.

"Pada akhirnya, pebisnis butuh lingkungan kondusif untuk membuat keputusan investasi," tegasnya.

Optimisme ekspansi tetap terjaga

Kendati masih dibayangi risiko global dan politik nasional, kenaikan CEO Index menjadi 3,18 menunjukkan optimisme pelaku usaha belum surut.

Para CEO masih melihat peluang untuk meningkatkan aktivitas bisnis pada akhir tahun, terutama dengan harapan belanja pemerintah berjalan lebih efektif dan daya beli masyarakat kembali membaik.

Dengan demikian, kuartal IV-2026 menjadi periode yang penting bagi dunia usaha. Di satu sisi, momentum akhir tahun membuka peluang peningkatan pendapatan dan ekspansi. Di sisi lain, ketidakpastian global serta dinamika politik domestik membuat perusahaan tetap perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis dan investasi.

Periode
CEO Index
April-2017
3,11
Juli-2017
3,46
Oktober-2017
3,22
Januari-2018
3,66
April-2018
3,49
Juli-2018
3,45
Oktober-2018
3,63
Januari-2019
3,70
April-2019
3,73
Juli-2019
3,53
Oktober-2019
3,26
Januari-2020
3,67
April-2020
2,84
Juli-2020
2,97
Oktober-2020
3,27
Januari-2021
3,60
April-2021
3,76
Juli-2021
3,53
Oktober-2021
3,83
Januari-2022
3,92
April-2022
3,81
Juli-2022
3,77
Oktober-2022
3,50
Januari-2023
3,64
April-2023
3,69
Juli-2023
3,62
Oktober-2023
3,62
Januari-2024
3,54
April-2024
3,74
Juli-2024
3,39
Oktober-2024
3,29
Januari-2025
3,26
April-2025
3,11
Juli-2025
3,01
Oktober-2025
3,25
Januari-2026
3,43
April-2026
2,99
Juli-2026
3,04
Oktober-2026
3,18

Infografik Terbaru

CEO Index Oktober 2026 Naik Tipis, Ekonomi Global dan Kondisi Politik Jadi Penghambat
Survei Kontan | 05 Oktober 2026
Indeks Keyakinan CEO Indonesia (ICCI) periode kuartal IV-2026 berada di level 3,18. Para CEO menyoroti dua isu utama, yakni politik nasional dan ekonomi global
Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus Karena Penurunan Impor
BPS | 01 Oktober 2026
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus hanya US$121,9 juta pada Juli 2026
Inflasi Tahunan Naik Menjadi 3,28% pada September 2026
BPS | 01 Oktober 2026
Laju inflasi meningkat menjadi 3,28% pada September 2026 dari posisi Agustus yang berada di 3,19%
Bank Indonesia (BI) Menahan BI Rate di Angka 5,75% pada September 2026
Bank Indonesia | 23 September 2026
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75%. BI Rate bertahan sejak Juni 2026 setelah BI mengerek suku bunga 100 bps dua bulan beruntun
Hasil Lelang SRBI Tahun 2026, Yield Mulai Turun pada Bulan Agustus
Bank Indonesia | 10 September 2026
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menurun setelah berada di atas 7% sejak Juni 2026
Kepemilikan Asing di SRBI Tembus Rekor Tertinggi pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 10 September 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai angka tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI September 2023
Dana Kelolaan Reksadana Agustus 2026
OJK | 08 September 2026
Dana kelolaan reksadana naik tipis pada Agustus 2026, berbalik dari penurunan tiga bulan sebelumnya. Tetapi unit penyertaan reksadana turun 5 bulan beruntun
Kepemilikan SBN per 4 September 2026 Asing Tertinggi Setahun Terakhir
DJPPR Kemenkeu | 08 September 2026
Investor asing mulai kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ini terlihat dari dari kepemilikan asing yang naik 3 bulan beruntun
Cadangan Devisa Agustus 2026
Bank Indonesia | 07 September 2026
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 146,51 miliar pada Agustus 2026 ketimbang Juli yang sebesar US$ 145,34 miliar
Inflasi Agustus 2026 Naik Menjadi 3,19%
BPS | 01 September 2026
Inflasi tahunan mencapai 3,59% pada Agustus 2026, meningkat dari 2,88% pada Juli 2026
loading
Close [X]