1. Home
  2. Infografik

Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus Karena Penurunan Impor

Sumber: BPS
Update : 01 Oktober 2026

Impor Anjlok 11,63%, Neraca Dagang Indonesia Surplus US$3,55 Miliar pada Agustus 2026

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus hanya US$121,9 juta pada Juli 2026.

Namun, jika dilihat secara bulanan, peningkatan surplus tersebut lebih banyak ditopang oleh penurunan impor ketimbang kenaikan ekspor. Nilai ekspor pada Agustus hanya meningkat tipis dari Juli, sementara impor turun cukup dalam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$26,61 miliar, naik 1,51% secara bulanan (month-to-month/mtm) dari US$26,22 miliar pada Juli. Di sisi lain, impor turun 11,63% mtm, dari US$26,09 miliar menjadi US$23,06 miliar.  

Dengan kata lain, ekspor hanya bertambah sekitar US$395,5 juta dari Juli ke Agustus. Sementara impor justru berkurang sekitar US$3,03 miliar.

Perubahan tersebut membuat surplus perdagangan melebar sekitar US$3,43 miliar dalam sebulan. Secara sederhana, sekitar 88% dari pelebaran surplus bulanan tersebut berasal dari penurunan nilai impor, sementara sisanya berasal dari kenaikan ekspor.

Ekspor naik tipis 1,51%

Kinerja ekspor Agustus sebenarnya masih tumbuh dibandingkan Juli. Namun, pertumbuhannya relatif terbatas.

Nilai ekspor meningkat dari US$26,22 miliar pada Juli menjadi US$26,61 miliar pada Agustus 2026, atau naik 1,51% mtm. 

Kenaikan tersebut terutama berasal dari ekspor migas. Ekspor migas naik 25,98% mtm, dari US$787,6 juta menjadi US$992,2 juta.

Sementara itu, ekspor nonmigas yang menjadi komponen terbesar justru hanya meningkat 0,75% mtm, dari US$25,43 miliar menjadi US$25,62 miliar.

Dengan demikian, kenaikan ekspor secara keseluruhan pada Agustus belum menunjukkan lonjakan yang besar dari sisi bulanan.

 Ekspor nonmigas masih ditopang industri pengolahan

Jika dilihat berdasarkan sektor, ekspor industri pengolahan pada Agustus 2026 mencapai US$22,29 miliar, naik 2,46% mtm dari US$21,76 miliar pada Juli.

Sebaliknya, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 5,90% mtm menjadi US$532,1 juta. Ekspor sektor pertambangan dan lainnya juga turun 10,03% menjadi US$2,79 miliar. 

Impor turun 11,63%

Berbeda dengan ekspor, impor mengalami kontraksi cukup dalam secara bulanan.

Nilai impor Indonesia turun dari US$26,09 miliar pada Juli menjadi US$23,06 miliar pada Agustus, atau berkurang 11,63% mtm. 

Penurunan terjadi baik pada impor nonmigas maupun migas.

Impor nonmigas turun 12,52% mtm, dari US$22,33 miliar menjadi US$19,53 miliar. Sementara impor migas turun 6,37%, dari US$3,77 miliar menjadi US$3,53 miliar.

Penurunan impor nonmigas secara nominal mencapai sekitar US$2,79 miliar, sedangkan impor migas berkurang sekitar US$240 juta.

Hampir seluruh kelompok impor turun

Berdasarkan penggunaan barang, penurunan impor pada Agustus terjadi pada seluruh kelompok utama.

Impor bahan baku/penolong turun 11,11% mtm menjadi US$16,67 miliar dari US$18,76 miliar pada Juli.

Impor barang modal turun lebih dalam, yakni 16,04% mtm, menjadi US$4,28 miliar dari US$5,10 miliar.

Sementara impor barang konsumsi turun 5,95% mtm menjadi US$2,10 miliar. 

Data tersebut menunjukkan bahwa penurunan impor Agustus terutama berasal dari kelompok bahan baku/penolong, yang memang memiliki porsi terbesar dalam struktur impor Indonesia.

Surplus perdagangan melonjak

Perubahan ekspor dan impor tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia berbalik lebih kuat pada Agustus.

Pada Juli 2026, Indonesia hanya mencatat surplus perdagangan US$121,9 juta. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi US$3,55 miliar pada Agustus.

Dari jumlah tersebut, sektor nonmigas mencatat surplus US$6,09 miliar, sedangkan sektor migas masih mengalami defisit US$2,54 miliar. 

Jika dibandingkan secara bulanan, surplus nonmigas meningkat dari US$3,10 miliar pada Juli menjadi US$6,09 miliar pada Agustus.

Sementara defisit migas sedikit menyempit, dari US$2,98 miliar menjadi US$2,54 miliar.

Artinya, pelebaran surplus perdagangan Agustus terutama terjadi karena kontraksi impor, khususnya impor nonmigas, bukan karena lonjakan ekspor.

Secara tahunan, ekspor dan impor sama-sama tumbuh

Meski secara bulanan impor turun cukup dalam, secara tahunan kondisi perdagangan Indonesia menunjukkan gambaran berbeda.

Ekspor Agustus 2026 tumbuh 6,72% dibandingkan Agustus 2025, sedangkan impor tumbuh jauh lebih tinggi, yakni 19,09% yoy.  

Dengan demikian, surplus Agustus lebih tepat dibaca dalam konteks penurunan impor secara bulanan setelah impor mencapai US$26,09 miliar pada Juli.

Sementara itu, kinerja ekspor relatif stabil karena hanya meningkat 1,51% dalam sebulan.

Januari-Agustus masih surplus US$7,25 miliar

Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, ekspor Indonesia mencapai US$193,64 miliar, naik 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, impor mencapai US$186,39 miliar, tumbuh jauh lebih tinggi yakni 19,84%.

Alhasil, neraca perdagangan Indonesia Januari-Agustus 2026 masih mencatat surplus US$7,25 miliar. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar US$28,54 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit US$21,29 miliar. 

Dengan demikian, perkembangan perdagangan pada Agustus 2026 memperlihatkan bahwa pelebaran surplus secara bulanan bukan terutama karena akselerasi ekspor. Faktor yang lebih dominan adalah turunnya impor sebesar US$3,03 miliar dari Juli, sementara ekspor hanya bertambah sekitar US$395,5 juta.

Ekspor
Impor
Neraca Dagang
Juni-25
23,44
19,33
4,11
Juli-25
24,75
20,57
4,17
Agustus-25
24,96
19,47
5,49
September-25
24,68
20,34
4,34
Oktober-25
24,24
21,84
2,39
November-25
22,52
19,86
2,66
Desember-25
26,35
23,83
2,51
Januari-26
22,16
21,20
0,95
Februari-26
22,17
20,89
1,27
Maret-26
22,53
19,21
3,32
April-26
25,30
25,21
0,09
Mei-26
23,20
24,81
-1,61
Juni-26
25,46
25,91
-0,45
Juli-26
26,22
26,09
0,12
Agustus-26
26,21
23,06
3,55

Infografik Terbaru

Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus Karena Penurunan Impor
BPS | 01 Oktober 2026
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus hanya US$121,9 juta pada Juli 2026
Inflasi Tahunan Naik Menjadi 3,28% pada September 2026
BPS | 01 Oktober 2026
Laju inflasi meningkat menjadi 3,28% pada September 2026 dari posisi Agustus yang berada di 3,19%
Bank Indonesia (BI) Menahan BI Rate di Angka 5,75% pada September 2026
Bank Indonesia | 23 September 2026
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75%. BI Rate bertahan sejak Juni 2026 setelah BI mengerek suku bunga 100 bps dua bulan beruntun
Hasil Lelang SRBI Tahun 2026, Yield Mulai Turun pada Bulan Agustus
Bank Indonesia | 10 September 2026
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menurun setelah berada di atas 7% sejak Juni 2026
Kepemilikan Asing di SRBI Tembus Rekor Tertinggi pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 10 September 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai angka tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI September 2023
Dana Kelolaan Reksadana Agustus 2026
OJK | 08 September 2026
Dana kelolaan reksadana naik tipis pada Agustus 2026, berbalik dari penurunan tiga bulan sebelumnya. Tetapi unit penyertaan reksadana turun 5 bulan beruntun
Kepemilikan SBN per 4 September 2026 Asing Tertinggi Setahun Terakhir
DJPPR Kemenkeu | 08 September 2026
Investor asing mulai kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ini terlihat dari dari kepemilikan asing yang naik 3 bulan beruntun
Cadangan Devisa Agustus 2026
Bank Indonesia | 07 September 2026
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 146,51 miliar pada Agustus 2026 ketimbang Juli yang sebesar US$ 145,34 miliar
Inflasi Agustus 2026 Naik Menjadi 3,19%
BPS | 01 September 2026
Inflasi tahunan mencapai 3,59% pada Agustus 2026, meningkat dari 2,88% pada Juli 2026
Neraca Dagang Juni 2025-Juli 2026
BPS | 01 September 2026
Neraca dagang Juli 2026 menunjukkan surplus tipis US$ 121,9 juta setelah defisit dua bulan beruntun
loading
Close [X]