1. Home
  2. Infografik

Total Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Turun pada September 2026

Sumber: OJK
Update : 09 Oktober 2026

Ada Perpindahan Dana, Total Kelolaan Industri Reksadana Turun pada September 2026

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan industri reksadana mengalami penurunan pada September 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total dana kelolaan reksadana pada September 2026 tercatat sebesar Rp 641,10 triliun.

Angka tersebut turun Rp 15,80 triliun atau 2,41% dibandingkan posisi Agustus 2026 yang mencapai Rp 656,90 triliun.

Penurunan dana kelolaan tersebut terjadi di tengah berkurangnya jumlah unit penyertaan reksadana. Pada September 2026, unit penyertaan tercatat sebanyak 488,93 miliar unit, turun 5,71 miliar unit atau 1,15% dibandingkan Agustus 2026 yang sebanyak 494,64 miliar unit.

Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan tekanan terutama terjadi pada reksadana konvensional yang dijual kepada publik.

Katanya, sentimen utama yang menekan industri saat ini berasal dari kinerja pasar saham yang lemah, volatilitas pasar obligasi, serta kecenderungan investor menghindari aset berisiko.

Wawan menambahkan, terdapat indikasi pergeseran dana investor ke instrumen lain. Investor institusi cenderung masuk langsung ke Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan deposito. Sementara itu, investor ritel banyak melirik emas.

"Penurunan AUM dan NAB secara bulanan maupun YtD menunjukkan industri sedang tertekan dari dua sisi sekaligus, yaitu turunnya nilai aset dasar dan pencairan oleh investor," ungkap Wawan kepada Kontan, Selasa (6/10/2926).

Berdasarkan jenis produk, tekanan terbesar terjadi pada reksadana saham dan campuran. Ia mencatat mayoritas produk pada kedua kategori tersebut mencatatkan return negatif secara YtD, sehingga AUM tergerus akibat penurunan harga aset dan aksi redemption investor.

Berdasarkan data Infovesta per 30 September 2026 kinerja indeks reksadana saham turun 5,47% secara MoM dan reksadana campuran melemah 2,62% MoM pada September 2026.

Di tengah tekanan tersebut, kinerja reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja 0%, atau mengalami stagnasi. Sementara reksadana pasar uang masih mampu tumbuh sebesar 0,42% MoM.

"Sebaliknya, reksadana pasar uang masih mampu menghimpun dana karena kinerjanya stabil dan likuid. Reksadana pendapatan tetap berada di tengah. Sebagian produk masih diminati, tetapi kinerjanya bervariasi dan ada yang negatif," jelas Wawan.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan mengatakan, sepanjang 2026 pasar keuangan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari volatilitas pasar saham global dan domestik, perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga global, hingga meningkatnya risiko geopolitik.

Menurut dia, tekanan terhadap pasar saham domestik dan volatilitas nilai tukar turut memengaruhi preferensi investor. Di sisi lain, investor kini memiliki semakin banyak alternatif instrumen investasi dengan karakteristik risiko, likuiditas, dan imbal hasil yang berbeda.

“Net redemption yang terjadi saat ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari siklus pasar dan proses rebalancing portofolio investor,” ujar Reza kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).

Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, investor cenderung lebih selektif dan meningkatkan porsi pada instrumen yang dianggap lebih defensif sembari menunggu visibilitas pasar yang lebih jelas.

Reza mengatakan, terdapat kemungkinan realokasi dana dari reksadana ke instrumen lain seperti deposito, Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), saham, emas, maupun aset lainnya. 

CEO Pinnacle Investment Guntur Putra mengamini, penurunan AUM dan NAB reksadana merupakan kombinasi antara kondisi pasar dan rebalancing portofolio investor.

Ia mencontohkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat berada di kisaran 6.670 pada awal September, sebelum turun ke level 6.000-an pada akhir bulan. 

Kondisi tersebut membuat sejumlah instrumen lain seperti deposito, Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan emas menjadi alternatif bagi investor.

"Jadi menurut kami, ini bukan semata-mata dana keluar dari reksadana, tetapi lebih kepada reallocation of capital ke instrumen dengan risk-adjusted return yang dianggap lebih menarik," imbuhnya.

Di Pinnacle Investment, total AUM reksadana pada September masih relatif datar. Namun, ia mencatat terdapat peningkatan AUM terutama dari Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) yang berinvestasi pada instrumen global offshore berbasis dolar AS.

Menurut Guntur, kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan investor untuk melakukan diversifikasi secara global, baik dari sisi aset maupun mata uang. 

Tren tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun seiring meningkatnya kesadaran investor terhadap pentingnya diversifikasi global untuk membangun portofolio jangka panjang.

Prospek Reksadana

Untuk strategi hingga akhir 2026, Guntur berpandangan reksadana pasar uang dan pendapatan tetap masih menarik dari sisi risk-adjusted basis. 

Sementara itu, volatilitas pasar juga dapat membuka peluang akumulasi saham yang memiliki fundamental dan valuasi menarik.

Bagi investor ritel, ia menyarankan pendekatan barbell strategy, yakni mempertahankan porsi pada pasar uang dan fixed income untuk memperoleh carry dan likuiditas, sembari melakukan akumulasi saham secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA).

"Investor tidak perlu terlalu fokus menebak market bottom. Disiplin investasi dan konsistensi justru lebih penting daripada mencoba melakukan market timing," pungkas Guntur.

Di tengah tekanan industri, Reza memandang prospek reksadana masih memiliki ruang pertumbuhan. Hal ini didukung oleh peningkatan literasi investasi, semakin luasnya akses distribusi, serta berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap instrumen pengelolaan dana secara profesional.

Meski demikian, pergerakan AUM masing-masing manajer investasi tetap akan dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya kondisi pasar, kinerja investasi, aktivitas subscription dan redemption, serta perubahan preferensi investor.

Sementara itu, di tengah volatilitas pasar, Reza melihat reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap masih relevan bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat.

Kedua jenis reksadana tersebut memiliki karakteristik volatilitas yang relatif lebih rendah serta potensi pendapatan yang lebih stabil. Kondisi tersebut membuatnya menarik bagi investor yang saat ini lebih mengutamakan stabilitas dan likuiditas.

Adapun bagi investor dengan horizon investasi lebih panjang dan toleransi risiko lebih tinggi, reksadana saham masih memiliki peluang. Terutama apabila valuasi aset menjadi lebih menarik dan terdapat katalis positif terhadap fundamental ekonomi maupun pasar.

Menurut Reza, koreksi pasar juga tidak selalu harus direspons dengan keluar sepenuhnya dari aset berisiko. Investor dapat memanfaatkan koreksi sebagai momentum untuk melakukan rebalancing secara bertahap dan selektif.

Untuk investor ritel, ia menyarankan agar tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset. Diversifikasi berdasarkan profil risiko dan horizon investasi menjadi penting agar portofolio tetap memiliki instrumen defensif untuk menjaga stabilitas sekaligus eksposur terhadap aset pertumbuhan.

Untuk kuartal IV-2026, Infovesta melihat AUM industri reksa dana cenderung stagnan dengan risiko masih melanjutkan penurunan.

Wawan mengatakan, menjelang akhir tahun biasanya terdapat kebutuhan likuiditas dari investor institusi. Di saat yang sama, sentimen pasar saham dinilai belum cukup kuat untuk menarik dana investor kembali ke reksa dana.

Meski demikian, Wawan memperkirakan peluang pertumbuhan AUM masih terbuka apabila suku bunga dan nilai tukar rupiah bergerak stabil. Selain itu, kembalinya dana asing ke pasar saham dan obligasi juga dapat menjadi katalis bagi industri reksadana.

"Jika itu terjadi, pemulihan akan lebih dulu terlihat di reksadana pendapatan tetap dan pasar uang, baru kemudian reksadana saham," pungkas Wawan.

Reporter: Vatrischa Putri

Periode
Reksadana Terproteksi
Reksadana Saham
Exchanged Traded Fund
Reksadana Pendapatan Tetap
Reksadana Global
Reksadana Indeks
Reksadana Campuran
Reksadana Pasar Uang
Reksadana Syariah
Total (Rp triliun)
Unit Penyertaan (miliar)
Agustus 2025
119,19
70,12
15,61
186,09
11,55
10,80
26,92
106,65
7,32
554,26
412,58
September 2025
123,35
71,40
15,79
200,02
11,86
11,20
27,90
111,76
7,90
581,17
427,26
Oktober 2025
125,81
72,24
16,33
223,91
12,66
11,21
28,95
122,16
8,41
621,68
448,28
November 2025
127,15
75,97
15,58
234,09
15,58
11,36
28,93
138,79
9,31
656,97
461,89
Desember 2025
130,84
76,62
16,63
244,45
15,12
11,68
29,55
144,84
9,51
679,24
480,56
Januari 2026
137,44
79,42
17,26
253,71
12,97
11,13
34,96
149,18
10,30
706,37
509,64
Februari 2026
141,09
80,95
18,08
258,11
15,04
11,11
39,39
143,48
10,28
717,55
522,64
Maret 2026
142,07
74,11
17,22
244,05
15,27
10,33
37,19
149,77
9,64
699,65
524,62
April 2026
143,09
73,91
17,01
246,21
12,69
9,94
37,62
150,43
9,40
700,29
523,47
Mei 2026
143,64
67,85
16,63
240,75
15,76
9,55
35,71
152,53
7,30
689,72
520,28
Juni 2026
148,26
62,45
16,02
223,77
21,05
8,82
33,69
136,16
6,64
656,87
506,96
Juli 2026
144,84
68,40
16,53
217,10
24,26
9,63
35,51
133,56
6,71
656,54
498,52
Agustus 2026
145,34
69,71
17,23
219,09
23,35
9,85
37,21
128,63
6,47
656,90
494,64
September 2026
146,92
67,76
16,54
212,22
24,00
9,32
35,85
122,65
5,83
641,10
488,93

Infografik Terbaru

Outstanding SRBI Turun pada September 2026, Asing Bertahan
Bank Indonesia | 09 Oktober 2026
Outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turun menjadi Rp 1.028 triliun pada September 2026 dari bulan sebelumnya Rp 1.063 triliun
Total Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Turun pada September 2026
OJK | 09 Oktober 2026
Total dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana turun pada September 2026 jika dibandingkan dengan Agustus 2026
Dana Kelolaan dan Unit Penyertaan Reksadana Turun pada September 2026
OJK | 08 Oktober 2026
Total dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana turun pada September 2026
CEO Index Oktober 2026 Naik Tipis, Ekonomi Global dan Kondisi Politik Jadi Penghambat
Survei Kontan | 05 Oktober 2026
Indeks Keyakinan CEO Indonesia (ICCI) periode kuartal IV-2026 berada di level 3,18. Para CEO menyoroti dua isu utama, yakni politik nasional dan ekonomi global
Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus Karena Penurunan Impor
BPS | 01 Oktober 2026
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus hanya US$121,9 juta pada Juli 2026
Inflasi Tahunan Naik Menjadi 3,28% pada September 2026
BPS | 01 Oktober 2026
Laju inflasi meningkat menjadi 3,28% pada September 2026 dari posisi Agustus yang berada di 3,19%
Bank Indonesia (BI) Menahan BI Rate di Angka 5,75% pada September 2026
Bank Indonesia | 23 September 2026
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75%. BI Rate bertahan sejak Juni 2026 setelah BI mengerek suku bunga 100 bps dua bulan beruntun
Hasil Lelang SRBI Tahun 2026, Yield Mulai Turun pada Bulan Agustus
Bank Indonesia | 10 September 2026
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menurun setelah berada di atas 7% sejak Juni 2026
Kepemilikan Asing di SRBI Tembus Rekor Tertinggi pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 10 September 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai angka tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI September 2023
Dana Kelolaan Reksadana Agustus 2026
OJK | 08 September 2026
Dana kelolaan reksadana naik tipis pada Agustus 2026, berbalik dari penurunan tiga bulan sebelumnya. Tetapi unit penyertaan reksadana turun 5 bulan beruntun
loading
Close [X]