Neraca Dagang Indonesia Juli 2026 Surplus Tipis US$ 121,9 Juta
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026. Namun, surplus perdagangan menyusut tajam dibandingkan bulan sebelumnya seiring nilai impor yang masih lebih tinggi dibandingkan ekspor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus US$ 121,9 juta. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar US$ 3,10 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$ 2,98 miliar.
Surplus Juli 2026 tersebut membaik jika dibandingkan Juni 2026 yang masih mencatat defisit US$ 450,5 juta.
Jika dibandingkan dengan Juli 2025, ketika surplus perdagangan mencapai US$ 4,18 miliar, surplus Juli 2026 bahkan anjlok sekitar 97,1%.
Data BPS menunjukkan surplus perdagangan Indonesia dalam beberapa bulan terakhir juga sempat mengalami tekanan. Pada April 2026 surplus hanya US$ 89,1 juta, kemudian berbalik defisit US$ 1,61 miliar pada Mei dan defisit US$ 450,5 juta pada Juni sebelum kembali surplus pada Juli.
Ekspor naik, tetapi impor melonjak
Penyusutan surplus pada Juli terjadi ketika ekspor Indonesia memang masih tumbuh, tetapi kenaikan impor jauh lebih tinggi secara tahunan.
BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$ 26,22 miliar, naik 6,05% dibandingkan Juli 2025. Secara bulanan, ekspor juga meningkat 2,98% dari US$ 25,46 miliar pada Juni 2026.
Pertumbuhan ekspor terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai US$ 25,43 miliar, naik 6,84% secara tahunan dan 4,25% secara bulanan. Sebaliknya, ekspor migas turun 14,58% secara tahunan menjadi US$ 787,6 juta.
Di sisi lain, impor Juli 2026 mencapai US$ 26,09 miliar, tumbuh 27,02% dibandingkan Juli 2025. Secara bulanan, impor masih meningkat 0,72% dari US$ 25,91 miliar pada Juni 2026.
Kenaikan impor terjadi baik pada migas maupun nonmigas. Impor migas naik 49,91% secara tahunan menjadi US$ 3,77 miliar, sedangkan impor nonmigas tumbuh 23,83% menjadi US$ 22,33 miliar.
Impor bahan baku mendominasi
Dilihat berdasarkan golongan penggunaan barang, kenaikan impor masih didominasi oleh bahan baku/penolong.
Pada Juli 2026, impor bahan baku/penolong mencapai US$ 18,76 miliar, naik 32,33% dibandingkan Juli 2025. Impor barang modal juga meningkat 17,38% menjadi US$ 5,10 miliar, sementara impor barang konsumsi naik 10,50% menjadi US$ 2,24 miliar.
Secara kumulatif Januari–Juli 2026, impor bahan baku/penolong mencapai US$ 116,70 miliar, tumbuh 20,42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai tersebut menyumbang 71,45% dari total impor.
Impor barang modal mencapai US$ 32,46 miliar atau 19,88% dari total impor, sedangkan barang konsumsi sebesar US$ 14,16 miliar atau 8,67%. Seluruh golongan penggunaan barang tersebut mencatat pertumbuhan dibandingkan Januari–Juli 2025.
Neraca dagang Januari–Juli masih surplus
Meski surplus Juli menipis, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif masih berada di zona surplus.
Sepanjang Januari–Juli 2026, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 3,70 miliar. Surplus tersebut ditopang sektor nonmigas yang mencapai US$ 22,45 miliar, sedangkan sektor migas mencatat defisit US$ 18,75 miliar.
Namun, surplus kumulatif tersebut jauh lebih kecil dibandingkan periode Januari–Juli 2025 yang mencapai US$ 23,77 miliar. Artinya, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut sekitar 84,4% secara tahunan.
Kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan impor sepanjang tujuh bulan pertama 2026 jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Nilai impor Januari–Juli 2026 mencapai US$ 163,33 miliar, naik 19,94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor hanya meningkat 4,43% menjadi US$ 167,03 miliar.
Dengan demikian, selisih antara ekspor dan impor Indonesia semakin menipis. Jika tren tersebut berlanjut, ruang surplus perdagangan Indonesia sepanjang 2026 akan semakin terbatas, terutama karena defisit sektor migas masih cukup besar.
China masih menjadi mitra dagang utama
Dari sisi perdagangan nonmigas, China masih menjadi tujuan ekspor sekaligus sumber impor terbesar Indonesia.
Pada Januari–Juli 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$ 40,62 miliar, atau 25,39% dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan US$ 19,19 miliar, disusul India sebesar US$ 11,00 miliar.
Sementara dari sisi impor nonmigas, China menyumbang US$ 58,29 miliar atau 42,38% dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua sebesar US$ 7,71 miliar dan Australia US$ 6,47 miliar.
Komoditas utama yang diekspor Indonesia ke China selama Januari–Juli 2026 antara lain besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.