1. Home
  2. Infografik

Neraca Dagang Juni 2025-Juli 2026

Sumber: BPS
Update : 01 September 2026

Neraca Dagang Indonesia Juli 2026 Surplus Tipis US$ 121,9 Juta

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026. Namun, surplus perdagangan menyusut tajam dibandingkan bulan sebelumnya seiring nilai impor yang masih lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus US$ 121,9 juta. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar US$ 3,10 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$ 2,98 miliar.

Surplus Juli 2026 tersebut membaik jika dibandingkan Juni 2026 yang masih mencatat defisit US$ 450,5 juta. 

Jika dibandingkan dengan Juli 2025, ketika surplus perdagangan mencapai US$ 4,18 miliar, surplus Juli 2026 bahkan anjlok sekitar 97,1%.

Data BPS menunjukkan surplus perdagangan Indonesia dalam beberapa bulan terakhir juga sempat mengalami tekanan. Pada April 2026 surplus hanya US$ 89,1 juta, kemudian berbalik defisit US$ 1,61 miliar pada Mei dan defisit US$ 450,5 juta pada Juni sebelum kembali surplus pada Juli.

Ekspor naik, tetapi impor melonjak

Penyusutan surplus pada Juli terjadi ketika ekspor Indonesia memang masih tumbuh, tetapi kenaikan impor jauh lebih tinggi secara tahunan.

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$ 26,22 miliar, naik 6,05% dibandingkan Juli 2025. Secara bulanan, ekspor juga meningkat 2,98% dari US$ 25,46 miliar pada Juni 2026.

Pertumbuhan ekspor terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai US$ 25,43 miliar, naik 6,84% secara tahunan dan 4,25% secara bulanan. Sebaliknya, ekspor migas turun 14,58% secara tahunan menjadi US$ 787,6 juta.

Di sisi lain, impor Juli 2026 mencapai US$ 26,09 miliar, tumbuh 27,02% dibandingkan Juli 2025. Secara bulanan, impor masih meningkat 0,72% dari US$ 25,91 miliar pada Juni 2026.

Kenaikan impor terjadi baik pada migas maupun nonmigas. Impor migas naik 49,91% secara tahunan menjadi US$ 3,77 miliar, sedangkan impor nonmigas tumbuh 23,83% menjadi US$ 22,33 miliar.

Impor bahan baku mendominasi

Dilihat berdasarkan golongan penggunaan barang, kenaikan impor masih didominasi oleh bahan baku/penolong.

Pada Juli 2026, impor bahan baku/penolong mencapai US$ 18,76 miliar, naik 32,33% dibandingkan Juli 2025. Impor barang modal juga meningkat 17,38% menjadi US$ 5,10 miliar, sementara impor barang konsumsi naik 10,50% menjadi US$ 2,24 miliar.

Secara kumulatif Januari–Juli 2026, impor bahan baku/penolong mencapai US$ 116,70 miliar, tumbuh 20,42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai tersebut menyumbang 71,45% dari total impor.

Impor barang modal mencapai US$ 32,46 miliar atau 19,88% dari total impor, sedangkan barang konsumsi sebesar US$ 14,16 miliar atau 8,67%. Seluruh golongan penggunaan barang tersebut mencatat pertumbuhan dibandingkan Januari–Juli 2025.

Neraca dagang Januari–Juli masih surplus

Meski surplus Juli menipis, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif masih berada di zona surplus.

Sepanjang Januari–Juli 2026, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 3,70 miliar. Surplus tersebut ditopang sektor nonmigas yang mencapai US$ 22,45 miliar, sedangkan sektor migas mencatat defisit US$ 18,75 miliar.

Namun, surplus kumulatif tersebut jauh lebih kecil dibandingkan periode Januari–Juli 2025 yang mencapai US$ 23,77 miliar. Artinya, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut sekitar 84,4% secara tahunan.

Kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan impor sepanjang tujuh bulan pertama 2026 jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Nilai impor Januari–Juli 2026 mencapai US$ 163,33 miliar, naik 19,94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara ekspor hanya meningkat 4,43% menjadi US$ 167,03 miliar.

Dengan demikian, selisih antara ekspor dan impor Indonesia semakin menipis. Jika tren tersebut berlanjut, ruang surplus perdagangan Indonesia sepanjang 2026 akan semakin terbatas, terutama karena defisit sektor migas masih cukup besar.

China masih menjadi mitra dagang utama

Dari sisi perdagangan nonmigas, China masih menjadi tujuan ekspor sekaligus sumber impor terbesar Indonesia.

Pada Januari–Juli 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$ 40,62 miliar, atau 25,39% dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan US$ 19,19 miliar, disusul India sebesar US$ 11,00 miliar.

Sementara dari sisi impor nonmigas, China menyumbang US$ 58,29 miliar atau 42,38% dari total impor nonmigas Indonesia. Jepang berada di posisi kedua sebesar US$ 7,71 miliar dan Australia US$ 6,47 miliar.

Komoditas utama yang diekspor Indonesia ke China selama Januari–Juli 2026 antara lain besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.

Ekspor
Impor
Neraca Dagang
Juni-25
23,44
19,33
4,11
Juli-25
24,75
20,57
4,17
Agustus-25
24,96
19,47
5,49
September-25
24,68
20,34
4,34
Oktober-25
24,24
21,84
2,39
November-25
22,52
19,86
2,66
Desember-25
26,35
23,83
2,51
Januari-26
22,16
21,20
0,95
Februari-26
22,17
20,89
1,27
Maret-26
22,53
19,21
3,32
April-26
25,30
25,21
0,09
Mei-26
23,20
24,81
-1,61
Juni-26
25,46
25,91
-0,45
Juli-26
26,22
26,09
0,12

Infografik Terbaru

Hasil Lelang SRBI Tahun 2026, Yield Mulai Turun pada Bulan Agustus
Bank Indonesia | 10 September 2026
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menurun setelah berada di atas 7% sejak Juni 2026
Kepemilikan Asing di SRBI Tembus Rekor Tertinggi pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 10 September 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai angka tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI September 2023
Dana Kelolaan Reksadana Agustus 2026
OJK | 08 September 2026
Dana kelolaan reksadana naik tipis pada Agustus 2026, berbalik dari penurunan tiga bulan sebelumnya. Tetapi unit penyertaan reksadana turun 5 bulan beruntun
Kepemilikan SBN per 4 September 2026 Asing Tertinggi Setahun Terakhir
DJPPR Kemenkeu | 08 September 2026
Investor asing mulai kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ini terlihat dari dari kepemilikan asing yang naik 3 bulan beruntun
Cadangan Devisa Agustus 2026
Bank Indonesia | 07 September 2026
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 146,51 miliar pada Agustus 2026 ketimbang Juli yang sebesar US$ 145,34 miliar
Inflasi Agustus 2026 Naik Menjadi 3,19%
BPS | 01 September 2026
Inflasi tahunan mencapai 3,59% pada Agustus 2026, meningkat dari 2,88% pada Juli 2026
Neraca Dagang Juni 2025-Juli 2026
BPS | 01 September 2026
Neraca dagang Juli 2026 menunjukkan surplus tipis US$ 121,9 juta setelah defisit dua bulan beruntun
BI Rate Tetap Berada di Level 5,75% pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 19 Agustus 2026
Bank Indonesia menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 18-19 Agustus 2026
Utang Luar Negeri Pemerintah Tembus US$ 217 Miliar
Bank Indonesia | 13 Agustus 2026
Sempat turun saat periode pandemi, total utang pemerintah terus naik dalam empat tahun terakhir hingga Mei 2026
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Turun pada Juli 2026, Terendah Sejak Oktober 2025
Bank Indonesia | 10 Agustus 2026
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dalam tiga bulan beruntun hingga Juli 2026 ke level terendah sejak Oktober 2025
loading
Close [X]