Kepemilikan Asing di SRBI Cetak Rekor, Imbal Hasil Jadi Magnet Dana Global
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kembali mencetak rekor tertinggi sejak instrumen tersebut pertama kali diterbitkan pada September 2023.
Berdasarkan data kepemilikan SRBI hingga Agustus 2026, investor asing menggenggam SRBI senilai Rp 294,66 triliun. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI pada September 2023.
Kepemilikan asing tersebut meningkat dari Rp 287,06 triliun pada Juli 2026. Dengan demikian, dalam sebulan dana asing yang parkir di SRBI bertambah sekitar Rp 7,6 triliun.
Jika dibandingkan dengan posisi akhir Mei 2026 yang sebesar Rp 216,48 triliun, kepemilikan asing di SRBI telah melonjak Rp 78,18 triliun atau sekitar 36,1% hanya dalam tiga bulan.
Lonjakan tersebut juga terlihat lebih jelas sejak Juni. Pada bulan tersebut, kepemilikan asing meningkat menjadi Rp 293,16 triliun, naik Rp 76,68 triliun atau 35,4% dibandingkan Mei.
Dengan posisi Rp 294,66 triliun pada Agustus, investor asing menguasai sekitar 27,7% dari total kepemilikan SRBI yang mencapai Rp 1.062,91 triliun.
Angka tersebut menunjukkan semakin besarnya peran investor asing dalam instrumen moneter Bank Indonesia.
Dibandingkan awal penerbitan SRBI pada September 2023, peningkatan kepemilikan asing sangat signifikan.
Pada September 2023, bulan pertama penerbitan SRBI, investor asing baru memiliki sekitar Rp 4,88 triliun.
Kini, pada Agustus 2026, nilainya telah mencapai Rp 294,66 triliun.
Dengan demikian, kepemilikan asing telah bertambah sekitar Rp 289,78 triliun dibandingkan posisi awal penerbitan atau meningkat hampir 60 kali lipat.
Peningkatan ini terjadi seiring semakin berkembangnya SRBI sebagai salah satu instrumen operasi moneter Bank Indonesia sekaligus alternatif penempatan dana bagi investor, termasuk investor global.
Data Agustus juga memperlihatkan bahwa total kepemilikan SRBI mencapai Rp 1.062,91 triliun. Dari jumlah tersebut, investor bank memegang Rp 618,76 triliun, non-bank Rp 52,48 triliun, asing Rp 294,66 triliun, dan kategori lainnya Rp 97,01 triliun.
Dengan demikian, asing menjadi kelompok pemegang SRBI terbesar kedua setelah perbankan.
Rekor Asing dan Lonjakan Yield Berjalan Beriringan
Jika melihat pola sejak Mei, terdapat korelasi waktu yang cukup kuat antara kenaikan imbal hasil SRBI dan masuknya dana asing.
Mei 2026:
Kepemilikan asing Rp 216,48 triliun. Yield SRBI 12 bulan pada akhir Mei 6,92%.
Juni 2026:
Kepemilikan asing melonjak menjadi Rp 293,16 triliun. Yield SRBI 12 bulan mencapai puncak 7,74%.
Juli 2026:
Kepemilikan asing sedikit turun menjadi Rp 287,06 triliun. Yield SRBI 12 bulan berada di sekitar 7,64% pada akhir bulan.
Agustus 2026:
Kepemilikan asing kembali naik menjadi rekor Rp 294,66 triliun. Yield SRBI 12 bulan turun menjadi 7,00% pada lelang akhir Agustus.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa fase kenaikan yield pada Juni bertepatan dengan akselerasi masuknya dana asing ke SRBI. Bahkan setelah yield mulai terkoreksi, posisi asing tetap bertahan pada level rekor.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa SRBI semakin menarik bagi investor asing sebagai instrumen penempatan dana dalam rupiah. Tingginya imbal hasil pada Juni kemungkinan menjadi katalis awal, sementara bertahannya kepemilikan asing pada Juli-Agustus menunjukkan adanya faktor pendukung lain yang membuat investor tetap mempertahankan eksposurnya di SRBI.