Imbal Hasil SRBI Terus Turun, Frekuensi Lelang Kini Hanya Seminggu Sekali
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menunjukkan tren penurunan setelah sempat melonjak ke level tertinggi pada Juni 2026. Dalam empat lelang terakhir, tingkat imbal hasil SRBI tercatat terus bergerak turun.
Berdasarkan data hasil lelang SRBI, pada lelang 7 Agustus 2026, imbal hasil SRBI tenor 6 bulan tercatat sebesar 7,19%, tenor 9 bulan 7,40%, dan tenor 12 bulan 7,59%.
Imbal hasil kemudian turun pada lelang 14 Agustus menjadi 7,06% untuk tenor 6 bulan, 7,21% untuk tenor 9 bulan, dan 7,37% untuk tenor 12 bulan.
Penurunan semakin dalam pada lelang terakhir yang tercatat pada 28 Agustus 2026. Imbal hasil tenor 6 bulan turun menjadi 6,76%, tenor 9 bulan menjadi 6,84%, sedangkan tenor 12 bulan kembali turun menjadi 7,00%.
Dengan demikian, jika dibandingkan dengan lelang 31 Juli, yield SRBI tenor 6 bulan telah turun 44 basis poin, tenor 9 bulan turun 58 basis poin, sedangkan tenor 12 bulan turun 64 basis poin.
Yield SRBI Berbalik Turun Setelah Melonjak
Tren penurunan tersebut merupakan pembalikan dari kenaikan tajam yang terjadi sejak April hingga Juni 2026.
Pada awal April, imbal hasil SRBI tenor 12 bulan masih berada di 5,59%. Yield kemudian meningkat menjadi 6,22% pada 29 April dan terus naik hingga menembus 7% pada awal Juni.
Pada lelang 5 Juni, imbal hasil tenor 6 bulan tercatat 6,90%, tenor 9 bulan 7,04%, dan tenor 12 bulan 7,25%.
Kenaikan berlanjut pada pertengahan Juni. Bahkan pada lelang 19 Juni, yield SRBI mencapai level tertinggi dalam rangkaian data, yakni 7,42% untuk tenor 6 bulan, 7,55% untuk tenor 9 bulan, dan 7,74% untuk tenor 12 bulan.
Setelah mencapai puncak tersebut, yield mulai turun secara bertahap. Pada akhir Juni, yield tenor 12 bulan masih berada di 7,70%. Memasuki Juli, angkanya turun menjadi 7,69% pada 1 Juli dan 7,67% pada 3 Juli.
Penurunan berlanjut secara perlahan sepanjang Juli hingga mencapai 7,64% pada lelang 17 Juli dan bertahan di level tersebut pada 24 serta 31 Juli.
Artinya, dari puncak 7,74% pada 19 Juni hingga 7,00% pada lelang 28 Agustus, yield SRBI tenor 12 bulan telah turun 74 basis poin.
Frekuensi Lelang SRBI Mulai Dikurangi
Selain perubahan pada imbal hasil, terdapat perubahan pada frekuensi pelaksanaan lelang SRBI.
Pada Februari 2026, Bank Indonesia melakukan lelang SRBI dengan frekuensi dua kali dalam sepekan. Pola tersebut terlihat dari jadwal lelang yang berlangsung pada 4 dan 6 Februari, kemudian 11 dan 13 Februari. Pola dua kali sepekan berlanjut pada beberapa pekan berikutnya.
Frekuensi dua kali sepekan tersebut juga masih terlihat hingga Juni. Misalnya, terdapat lelang pada 10 dan 12 Juni, kemudian 17 dan 19 Juni, serta 24 dan 26 Juni.
Memasuki Juli, frekuensi lelang mulai berkurang. Pada awal bulan masih terdapat dua lelang dalam sepekan, yakni 1 dan 3 Juli, 8 dan 10 Juli, serta 15 dan 17 Juli.
Namun, setelah itu pola berubah menjadi satu kali lelang dalam sepekan, dengan lelang pada 24 Juli dan 31 Juli. Pola mingguan tersebut berlanjut pada Agustus, dengan lelang pada 7, 14, dan 28 Agustus.
Dengan kata lain, perubahan frekuensi berlangsung secara bertahap pada Juli sebelum kemudian menjadi pola mingguan pada paruh kedua Juli hingga Agustus.
Lelang Makin Jarang, Yield Juga Menurun
Penurunan frekuensi lelang ini berlangsung bersamaan dengan meredanya tekanan pada imbal hasil SRBI.
Pada periode Februari hingga Juni, ketika lelang dilakukan lebih sering, yield SRBI justru mengalami kenaikan cukup tajam. Yield tenor 12 bulan yang sempat berada di bawah 5% pada awal Januari meningkat menjadi 5,04% pada Februari, 5,50% pada akhir Maret, 5,91% pada 24 April, kemudian melonjak hingga 7,74% pada 19 Juni.
Setelah memasuki fase stabilisasi pada akhir Juni dan Juli, yield mulai bergerak turun. Penurunan kemudian semakin terlihat pada Agustus.
Kondisi ini membuat lelang SRBI pada akhir Agustus menjadi cukup menarik. Untuk pertama kalinya sejak awal Juni, imbal hasil tenor 6 bulan kembali berada di bawah 7%. Sementara itu, yield tenor 12 bulan tepat berada di level 7%.
Jika tren penurunan ini berlanjut, imbal hasil SRBI akan semakin menjauh dari level puncaknya pada Juni. Pergerakan yield pada lelang berikutnya akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tren penurunan tersebut mulai menjadi pola baru atau hanya koreksi setelah lonjakan tajam pada kuartal II 2026.