Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29% pada Kuartal II 2026, Konsumsi Pemerintah Melonjak
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perekonomian Indonesia melanjutkan pertumbuhan pada kuartal II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan atau year on year (yoy) pada periode April–Juni 2026.
Pertumbuhan tersebut membawa ekonomi Indonesia sepanjang semester I 2026 tumbuh 5,45% dibandingkan semester I 2025. Sementara dibandingkan kuartal sebelumnya, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73% secara quarter to quarter (qoq).
Berdasarkan data BPS yang dirilis Rabu (5/8/2026), nilai PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2026 mencapai Rp 6.552,1 triliun. Adapun PDB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 3.576,2 triliun.
Konsumsi Pemerintah Tumbuh 15,97%
Dilihat dari sisi pengeluaran, seluruh komponen PDB mencatatkan pertumbuhan secara tahunan pada kuartal II 2026.
Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) yang mencapai 15,97% yoy. Setelah itu, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 6,93% dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,87%.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% yoy, sedangkan ekspor barang dan jasa tumbuh 4,13%. Impor barang dan jasa, yang menjadi faktor pengurang dalam penghitungan PDB, tumbuh 8,82%.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia. Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga menyumbang 53,32% terhadap PDB.
PMTB memiliki kontribusi 29,36%, disusul ekspor barang dan jasa sebesar 23,13%, konsumsi pemerintah 7,57%, perubahan inventori 2,50%, serta konsumsi LNPRT sebesar 1,35%. Sementara impor barang dan jasa memiliki porsi 24,06% sebagai faktor pengurang PDB.
Industri Pengolahan Tetap Jadi Penopang Utama
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor ekonomi mencatatkan pertumbuhan pada kuartal II 2026 secara tahunan. Pengecualian terjadi pada sektor Pertambangan dan Penggalian, yang terkontraksi 1,64% yoy.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 10,81% yoy. Selanjutnya, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 10,60%.
Sementara itu, Industri Pengolahan, yang memiliki peranan terbesar terhadap perekonomian Indonesia, tumbuh 4,52% yoy.
Dari sisi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29%, Industri Pengolahan memberikan sumber pertumbuhan sebesar 0,90 poin persentase. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menyumbang 0,83 poin persentase, sedangkan Konstruksi memberikan 0,62 poin persentase.
Struktur ekonomi Indonesia juga masih didominasi Industri Pengolahan dengan pangsa 18,50% terhadap PDB. Kemudian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memiliki porsi 13,57%, Perdagangan 13,02%, Konstruksi 9,79%, serta Pertambangan dan Penggalian 8,87%.
Kelima lapangan usaha tersebut secara bersama-sama menguasai 63,75% perekonomian Indonesia.
Ekonomi Kuartal II Naik 3,73% dari Kuartal I
Dibandingkan kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73% qoq. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 12,26%.
Pengadaan Listrik dan Gas menyusul dengan pertumbuhan 9%, Transportasi dan Pergudangan 4,21%, serta Jasa Perusahaan 4,13%. Industri Pengolahan tumbuh 0,88%.
Di sisi lain, Jasa Keuangan dan Asuransi menjadi satu-satunya lapangan usaha yang mengalami kontraksi secara kuartalan, yakni sebesar 0,03%.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan kuartalan paling tinggi sebesar 15,08%, disusul ekspor barang dan jasa 8,45%, PMTB 5%, konsumsi rumah tangga 2,69%, serta konsumsi LNPRT 1,13%.
Ekonomi Semester I 2026 Tumbuh 5,45%
Dengan capaian kuartal II tersebut, ekonomi Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari–Juni 2026 tumbuh 5,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi sepanjang semester I terjadi pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 11,83%. Jasa Lainnya tumbuh 8,09% dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial tumbuh 7,24%.
Sementara Pertambangan dan Penggalian masih mengalami kontraksi sebesar 1,89%.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah kembali mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 18,62%. Konsumsi LNPRT tumbuh 6,61%, PMTB 6,43%, konsumsi rumah tangga 5,28%, serta ekspor barang dan jasa 2,56%.
Jawa Kuasai 56,47% Ekonomi Indonesia
Secara spasial, perekonomian Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kelompok provinsi di Jawa menyumbang 56,47% terhadap perekonomian nasional pada kuartal II 2026.
Sumatera menyumbang 22,50%, Kalimantan 8,15%, Sulawesi 7,28%, Bali dan Nusa Tenggara 2,84%, serta Maluku dan Papua 2,76%.
Namun, pertumbuhan ekonomi tertinggi justru terjadi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10% yoy. Jawa tumbuh 5,65%, Sulawesi 5,53%, Sumatera 5,06%, dan Kalimantan 4,10%.
Adapun Maluku dan Papua mencatatkan pertumbuhan paling rendah, yakni 1,36% yoy.