Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450,5 Juta pada Juni 2026, Surplus Semester I Menyusut Tajam
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia sebesar US$450,5 juta pada Juni 2026.
Defisit terjadi karena nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor. Nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$25,46 miliar, sedangkan nilai impor mencapai US$25,91 miliar.
Defisit perdagangan Juni 2026 sekaligus memutus tren surplus yang terjadi pada empat bulan pertama tahun ini. Pada Mei 2026, neraca perdagangan juga telah mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar.
Data BPS menunjukkan neraca perdagangan Januari 2026 masih surplus US$954,3 juta. Surplus kemudian meningkat menjadi US$1,27 miliar pada Februari dan US$3,32 miliar pada Maret. Surplus menyusut menjadi US$89,1 juta pada April, sebelum berbalik defisit US$1,61 miliar pada Mei dan US$450,5 juta pada Juni.
Dibandingkan Juni 2025, perubahan neraca perdagangan terlihat lebih mencolok. Pada Juni tahun lalu, Indonesia masih menikmati surplus sebesar US$4,10 miliar. Saat itu ekspor mencapai US$23,39 miliar dan impor sebesar US$19,30 miliar.
Defisit Migas US$3,49 Miliar
Defisit perdagangan pada Juni 2026 terutama berasal dari sektor minyak dan gas (migas). Neraca perdagangan migas mengalami defisit US$3,49 miliar, sedangkan perdagangan nonmigas masih menghasilkan surplus US$3,04 miliar. Alhasil, secara keseluruhan neraca perdagangan mengalami defisit US$450,5 juta.
Pada Juni 2026, ekspor migas tercatat US$1,07 miliar, sedangkan impor migas mencapai US$4,56 miliar. Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai US$24,39 miliar, lebih tinggi daripada impor nonmigas sebesar US$21,35 miliar.
Nilai ekspor secara keseluruhan naik 8,84% secara tahunan (year on year/YoY) dari US$23,39 miliar pada Juni 2025 menjadi US$25,46 miliar pada Juni 2026. Secara bulanan, ekspor juga naik 9,72% dibandingkan Mei 2026.
Kenaikan terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai US$24,39 miliar, naik 9,46% secara tahunan dan 8,68% secara bulanan. Sebaliknya, ekspor migas turun 3,78% secara tahunan menjadi US$1,07 miliar.
Impor Melonjak 34,27%
Di sisi lain, pertumbuhan impor jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Nilai impor Juni 2026 mencapai US$25,91 miliar, melonjak 34,27% YoY dibandingkan US$19,30 miliar pada Juni 2025. Dibandingkan Mei 2026, impor meningkat 4,41%.
Impor nonmigas pada Juni mencapai US$21,35 miliar atau naik 25,05% dibandingkan Juni 2025. BPS mencatat tiga pemasok barang impor nonmigas terbesar sepanjang Januari-Juni 2026 adalah Tiongkok sebesar US$48,82 miliar, Jepang US$6,41 miliar, dan Australia US$5,71 miliar.
Berdasarkan penggunaan barang, impor pada Juni 2026 didominasi bahan baku dan penolong senilai US$18,55 miliar, meningkat 38,94% YoY. Impor barang modal mencapai US$5,25 miliar atau tumbuh 26,53%, sedangkan barang konsumsi mencapai US$2,11 miliar atau meningkat 17,46%.
Semester I 2026 Masih Surplus US$3,58 Miliar
Meski mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 masih membukukan surplus US$3,58 miliar.
Surplus tersebut berasal dari neraca perdagangan nonmigas sebesar US$19,35 miliar, yang mampu menutup sebagian defisit perdagangan migas sebesar US$15,77 miliar.
Namun, surplus semester pertama tahun ini jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Januari-Juni 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$19,60 miliar.
Penyusutan surplus terjadi seiring pertumbuhan impor yang jauh melampaui ekspor. Sepanjang Januari-Juni 2026, ekspor Indonesia mencapai US$140,81 miliar, naik 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas tumbuh 4,90% menjadi US$134,58 miliar.
Pada periode yang sama, impor mencapai US$137,24 miliar, melonjak 18,69% secara tahunan. Impor nonmigas naik 15,50% menjadi US$115,23 miliar.
Dengan demikian, selisih pertumbuhan ekspor dan impor membuat surplus perdagangan semester I-2026 menyusut sekitar US$16,02 miliar dibandingkan semester I-2025. Dari US$19,60 miliar pada Januari-Juni 2025, surplus tersisa US$3,58 miliar pada Januari-Juni 2026.