1. Home
  2. Infografik

Oustanding SRBI Kembali Tembus Lebih dari Rp 800 Triliun

Sumber: Bank Indonesia
Update : 14 April 2026

SRBI Makin Menarik di 2026: Yield Naik, Asing Masuk Agresif

Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) semakin menunjukkan peran strategisnya dalam kebijakan moneter sejak awal 2026. Tidak hanya dari sisi imbal hasil yang meningkat, perubahan juga terlihat dari komposisi kepemilikan investor—terutama masuknya dana asing.

Yield Naik Signifikan, Cerminkan Pengetatan Likuiditas

Sejak Januari hingga April 2026, imbal hasil SRBI mengalami kenaikan tajam. Setelah sempat turun di awal tahun ke kisaran 4,6%–4,8%, yield kini telah menembus:

  • 5,49% (tenor 6 bulan)
  • 5,62% (tenor 9 bulan)
  • 5,76% (tenor 12 bulan)

Kenaikan ini menandakan dua hal:

  • Likuiditas domestik yang semakin ketat
  • Meningkatnya daya tarik SRBI sebagai instrumen investasi jangka pendek

Langkah Bank Indonesia menaikkan frekuensi lelang turut memperkuat transmisi kebijakan moneter melalui instrumen ini.

Kepemilikan Asing Meningkat Tajam

Data terbaru menunjukkan adanya pergeseran penting dalam struktur kepemilikan SRBI. Investor asing mulai meningkatkan eksposurnya secara signifikan sepanjang kuartal I-2026.

Beberapa tren yang terlihat:

  • Porsi asing meningkat secara bertahap seiring kenaikan yield
  • Kepemilikan domestik (perbankan dan institusi lokal) tetap dominan, namun mulai berbagi ruang
  • Kenaikan partisipasi asing terjadi terutama pada tenor menengah (9–12 bulan)

Fenomena ini mencerminkan bahwa SRBI mulai dipandang sebagai:

  • Alternatif menarik dibanding instrumen pasar uang global
  • Instrumen carry trade berbasis rupiah

Mengapa Asing Masuk?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong masuknya investor asing:

1. Spread yield yang menarik

Kenaikan imbal hasil SRBI membuat selisih dengan suku bunga global semakin kompetitif.

2. Stabilitas rupiah relatif terjaga

Ekspektasi stabilitas nilai tukar meningkatkan kepercayaan investor.

3. Instrumen yang likuid dan fleksibel

Dengan frekuensi lelang yang meningkat, SRBI menjadi lebih mudah diakses dan diperdagangkan.

Dampak ke Pasar Keuangan

Masuknya dana asing ke SRBI membawa efek ganda:

Positif:

  • Mendukung stabilitas rupiah
  • Menambah likuiditas valas domestik
  • Memperkuat cadangan devisa secara tidak langsung

Risiko:

  • Potensi outflow cepat jika sentimen global berubah
  • Meningkatkan volatilitas pasar uang
  • Ketergantungan pada dana jangka pendek
  • Peran SRBI Semakin Sentral

Dengan perkembangan ini, SRBI kini tidak hanya berfungsi sebagai:

  • Instrumen operasi moneter
  • tetapi juga sebagai:
  • Magnet aliran modal portofolio
  • Indikator kondisi likuiditas jangka pendek

Bank Indonesia tampaknya semakin mengandalkan SRBI untuk menjaga keseimbangan antara:

  • Stabilitas nilai tukar
  • Pengendalian likuiditas
  • Transmisi suku bunga
Bulan
Bank
Non-Bank
Asing
Lainnya
Total
Februari-25
560,49
81,92
230,13
20,85
893,39
Maret-25
526,17
81,70
234,22
49,04
891,13
April-25
549,09
79,94
212,12
40,66
881,81
Mei-25
538,14
77,25
213,39
38,64
867,42
Juni-25
523,49
43,53
190,06
25,90
782,97
Juli-25
549,76
32,36
146,78
11,88
740,78
Agustus-25
563,50
25,70
122,52
3,89
715,61
September-25
587,55
24,76
90,82
6,00
709,13
Oktober-25
601,90
16,03
86,79
1,09
705,81
November-25
618,31
17,06
86,66
1,20
723,23
Desember-25
589,42
20,13
114,05
7,29
730,90
Januari-26
614,78
16,09
121,90
1,99
754,76
Februari-26
637,64
19,02
150,79
29,76
837,22
Maret-26
638,92
26,35
143,91
22,04
831,21

Infografik Terbaru

Oustanding SRBI Kembali Tembus Lebih dari Rp 800 Triliun
Bank Indonesia | 14 April 2026
Frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang meningkat mulai Februari 2026 menyebabkan oustanding SRBI kembali melonjak
Imbal Hasil Naik Saat BI Menambah Frekuensi Lelang SRBI
Bank Indonesia | 14 April 2026
Bank Indonesia menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dua kali sepekan mulai Februari 2026
Dana Kelolaan Reksadana Turun pada Maret 2026
OJK | 10 April 2026
Total dana kelolaan industri reksadana turun menjadi Rp 699,65 triliun per Maret 2026 di tengah kenaikan unit penyertaan
Cadangan Devisa Maret 2026 Terendah Dalam 20 Bulan Terakhir
Bank Indonesia | 08 April 2026
Cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 turun tajam menjadi US$ 148,15 miliar dari sebelumnya US$ 151,90 miliar, salah satunya untuk intervensi rupiah
CEO Index April 2026
KONTAN | 06 April 2026
Keyakinan CEO akan kondisi ekonomi dan bisnis pada kuartal kedua 2026 turun akibat kenaikan tensi geopolitik global
Inflasi Maret 2026 Mencapai 3,48% Secara Tahunan
BPS | 06 April 2026
Inflasi Indonesia pada Maret 2026 mencapai 3,48% secara tahunan dan 0,41% secara bulanan
Neraca Dagang Indonesia Februari 2026 Surplus US$ 1,27 Miliar
BPS | 01 April 2026
Kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada awal 2026, tetapi menunjukkan tanda perlambatan seiring lonjakan impor yang jauh lebih tinggi
Harga Emas Tumbang Dalam Beberapa Hari Karena Kekhawatiran Inflasi
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga emas tumbang dalam beberapa hari terakhir meski konflik AS-Israel versus Iran masih panas dalam tiga pekan. Harga emas turun karena kekhawatiran inflasi
Harga Minyak Dunia 23 Maret 2026
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga minyak masih menanjak naik sejak meletusnya perang AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026
Volume Transaksi QRIS Melesat Sejalan dengan Kenaikan Nilai Tranasksi
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Volume transaksi QRIS secara total menunjukkan lonjakan yang makin tajam sejak tahun 2024
loading
Close [X]