Surplus Neraca Dagang Menyempit di Awal 2026, Impor Melonjak Lebih Cepat dari Ekspor
JAKARTA. Kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada awal 2026, namun menunjukkan tanda perlambatan seiring lonjakan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar, sementara secara kumulatif Januari–Februari 2026 mencapai US$2,23 miliar.
Meski tetap positif, posisi ini mengindikasikan tekanan baru pada sektor eksternal, terutama dari sisi impor yang meningkat signifikan.
Ekspor Tumbuh Tipis, Ditopang Industri Pengolahan
Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat US$22,17 miliar, hanya tumbuh 1,01% secara tahunan (year-on-year).
Secara kumulatif, ekspor Januari–Februari mencapai US$44,32 miliar, naik tipis 2,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ekspor terutama didorong oleh sektor nonmigas, khususnya industri pengolahan yang naik 6,69%, dengan kontribusi dominan mencapai lebih dari 83% terhadap total ekspor.
Sejumlah komoditas unggulan yang menopang kinerja ekspor antara lain:
Selain itu, ekspor migas mengalami kontraksi 9,75%, menjadi faktor penekan tambahan.
Impor Melonjak Dua Digit, Sinyal Pemulihan atau Tekanan?
Di sisi lain, impor Indonesia justru meningkat tajam. Nilai impor Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar, naik 10,85% secara tahunan.
Secara kumulatif Januari–Februari 2026, impor melonjak 14,44% menjadi US$42,09 miliar.
Kenaikan ini terutama didorong oleh:
Secara struktur, impor didominasi bahan baku/penolong dengan kontribusi hampir 70%, mengindikasikan aktivitas produksi domestik yang mulai meningkat.
Surplus Ditopang Nonmigas, Migas Masih Jadi Beban
Surplus neraca perdagangan Indonesia masih sepenuhnya bergantung pada sektor nonmigas.
Pada Januari–Februari 2026:
Sementara pada Februari 2026:
Ketergantungan terhadap impor energi masih menjadi tantangan struktural yang terus menekan neraca perdagangan.
Arah Perdagangan: China Masih Dominan
Dari sisi mitra dagang, Tiongkok tetap menjadi aktor utama baik ekspor maupun impor Indonesia.
Dominasi ini menunjukkan keterkaitan rantai pasok yang kuat, sekaligus meningkatkan risiko ketergantungan eksternal.