Perang Berkecamuk, Cadangan Devisa Terendah Sejak Agustus 2024
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Posisi cadangan devisa Indonesia hingga Maret 2026 turun signifikan. Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia (BI), cadangan devisa berada di level US$148,15 miliar, turun dibandingkan posisi Februari 2026 yang sebesar US$151,90 miliar.
Secara tren, penurunan ini melanjutkan pelemahan yang sudah terjadi sejak awal tahun. Pada Januari 2026, cadangan devisa masih berada di level US$154,58 miliar, sebelum terus menyusut dalam dua bulan berikutnya.
Jika ditarik lebih panjang, posisi Maret 2026 juga lebih rendah dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Pada Desember 2025, cadangan devisa sempat berada di level relatif tinggi, yakni US$156,47 miliar. Artinya, dalam tiga bulan pertama 2026, terjadi penurunan sekitar US$8,32 miliar.
Angka cadangan devisa terakhir per Maret 2026 adalah angka terendah sejak Agustus 2024. Angka terendah sebelumnya pada Juli 2024 sebesar US$ 145,41 miliar.
Bank Indonesia dalam siaran pers Rabu (8/4) menyebutkan bahwa ada penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak dan jasa. Hal ini menambah pasokan dolar domestik. Di sisi lain, ada pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Kebijakan stabilisasi rupiah ini adalah respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. Nilai tukar rupiah terus melemah hingga awal kuartal kedua 2026. Bahkan, rupiah telah beberapa hari berada di atas level Rp 17.000 per dolar AS di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Tekanan Berlapis Sejak Paruh Kedua 2025
Penurunan cadangan devisa sebenarnya bukan fenomena yang tiba-tiba terjadi di 2026. Sepanjang paruh kedua 2025, tren pelemahan sudah terlihat cukup jelas.
Dari posisi US$152,57 miliar pada Juni 2025, cadangan devisa terus menurun hingga mencapai titik terendah di US$148,74 miliar pada September 2025. Meski sempat mengalami pemulihan terbatas pada Oktober–Desember 2025, tekanan kembali muncul memasuki awal 2026.
Fluktuasi ini mengindikasikan adanya dinamika eksternal yang cukup kuat, mulai dari volatilitas pasar keuangan global hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dengan kondisi global yang masih dibayangi suku bunga tinggi di negara maju dan ketegangan geopolitik, tekanan terhadap cadangan devisa menjadi semakin relevan.
Masih dalam Batas Aman
Meski mengalami penurunan, level cadangan devisa Indonesia saat ini masih tergolong aman.
Dalam hitungan Bank Indonesia, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Outlook: Waspadai Tekanan Global
Ke depan, arah cadangan devisa akan sangat bergantung pada beberapa faktor kunci:
Jika tekanan eksternal masih tinggi, cadangan devisa berpotensi tetap tergerus. Namun, jika terjadi pembalikan arus modal dan penguatan ekspor, posisi devisa bisa kembali menguat seperti yang sempat terjadi di akhir 2025.