Volume dan Nilai Transaksi QRIS Melonjak Tajam, Tanda Pembayaran Digital Kian Mendalam
Perkembangan QRIS dalam tiga tahun terakhir menunjukkan akselerasi yang sangat kuat, terutama dari sisi volume dan nilai transaksi. Data periode 2022 hingga 2025 memperlihatkan pertumbuhan yang bukan lagi sekadar tinggi, tetapi juga makin dalam.
QRIS kini terlihat semakin mengakar dalam aktivitas pembayaran harian masyarakat, dari transaksi kecil di tingkat ritel hingga pembayaran dengan nominal yang kian besar.
Dari sisi volume, lonjakan transaksi QRIS terjadi sangat cepat. Pada Maret 2022, volume transaksi masih berada di level 66 juta transaksi. Angka itu meningkat menjadi 80 juta pada Juni 2022, lalu 112 juta pada September, dan 128 juta pada Desember 2022.
Memasuki 2023, kenaikannya semakin tajam. Volume transaksi QRIS naik menjadi 125 juta pada Maret 2023, 155 juta pada Juni, 201 juta pada September, dan 301 juta transaksi pada Desember 2023. Dalam satu tahun, pertumbuhan volume sudah menunjukkan percepatan yang jelas.
Akselerasi berlanjut pada 2024. Pada Maret 2024, volume transaksi QRIS mencapai 374 juta. Tiga bulan kemudian naik menjadi 494 juta, lalu 619 juta pada September, dan 779 juta transaksi pada Desember 2024. Kenaikan ini menegaskan bahwa QRIS sudah semakin rutin digunakan dalam transaksi sehari-hari.
Laju pertumbuhan tersebut bahkan makin besar pada 2025. Volume transaksi QRIS tercatat 1,021 miliar pada Maret 2025, naik menjadi 1,192 miliar pada Juni, lalu 1,469 miliar pada September, dan mencapai 1,847 miliar transaksi pada Desember 2025.
Dalam waktu kurang dari empat tahun, volume transaksi QRIS melonjak hampir 28 kali lipat. Pergerakan ini menunjukkan bahwa QRIS telah berubah dari instrumen pembayaran digital yang sebelumnya banyak dipakai secara terbatas, menjadi sistem transaksi massal yang menembus berbagai aktivitas ekonomi.
Sementara itu, dari sisi nilai transaksi, polanya juga menunjukkan kenaikan yang sangat signifikan. Pada Maret 2022, nilai transaksi QRIS masih sebesar Rp 6 triliun. Angka ini naik menjadi Rp 10 triliun pada Juni, Rp 11 triliun pada September, dan Rp 12 triliun pada Desember 2022.
Pada 2023, nominal transaksi meningkat menjadi Rp 13 triliun pada Maret, Rp 17 triliun pada Juni, Rp 20 triliun pada September, dan Rp 34 triliun pada Desember. Ini menandakan bahwa pertumbuhan transaksi QRIS tidak hanya didorong oleh frekuensi, tetapi juga oleh mulai meningkatnya nilai belanja yang dibayarkan melalui kanal tersebut.
Pertumbuhan makin tajam terlihat pada 2024. Nilai transaksi QRIS mencapai Rp 42 triliun pada Maret, lalu naik menjadi Rp 52 triliun pada Juni, Rp 66 triliun pada September, dan Rp 82 triliun pada Desember 2024.
Kemudian pada 2025, nominal transaksi QRIS menembus Rp 104 triliun pada Maret, Rp 110 triliun pada Juni, Rp 128 triliun pada September, dan mencapai Rp 170 triliun pada Desember 2025. Dibanding awal 2022, nilai transaksi telah naik lebih dari 28 kali lipat.
Kenaikan volume dan nilai transaksi yang sama-sama sangat tinggi memberi pesan penting. Pertama, QRIS tidak lagi hanya dipakai oleh lebih banyak orang, tetapi juga makin intens digunakan. Ketika volume melonjak dari puluhan juta menjadi miliaran transaksi per bulan, itu berarti QRIS telah menjadi bagian dari rutinitas pembayaran masyarakat.
Kedua, lonjakan nominal transaksi menunjukkan perubahan kualitas penggunaan. QRIS yang sebelumnya identik dengan pembayaran bernilai kecil di pedagang mikro kini tampak semakin luas dipakai untuk transaksi dengan nilai lebih besar. Ini bisa berarti penggunaan sudah meluas ke lebih banyak jenis merchant, sektor usaha, dan kebutuhan konsumsi.
Ketiga, pertumbuhan ini menunjukkan bahwa ekosistem pembayaran digital Indonesia memasuki fase pendalaman. Pada tahap awal, ekspansi biasanya ditandai oleh adopsi merchant dan pengguna baru.
Namun ketika volume dan nilai transaksi tumbuh sangat cepat, itu menjadi sinyal bahwa QRIS sudah benar-benar tertanam dalam perilaku transaksi, bukan hanya sekadar tersedia sebagai opsi pembayaran.
Hal ini juga diperkuat oleh pertumbuhan transaksi off-us, yakni transaksi lintas penyedia jasa pembayaran. Dari sisi volume, transaksi off-us meningkat dari 32 juta pada Maret 2022 menjadi 1,657 miliar pada Desember 2025.
Sementara dari sisi nilai, nominal off-us naik dari Rp 4 triliun menjadi Rp 150 triliun dalam periode yang sama. Ini menandakan interoperabilitas QRIS berjalan semakin efektif dan menjadi pendorong utama pendalaman ekosistem.
Bagi ekonomi digital nasional, tren ini punya arti strategis. Semakin besar volume dan nilai transaksi QRIS, semakin kuat posisi sistem pembayaran digital sebagai tulang punggung aktivitas konsumsi domestik. QRIS bukan hanya mendorong efisiensi pembayaran, tetapi juga memperluas digitalisasi transaksi di sektor usaha kecil, ritel, hingga layanan sehari-hari.
Namun di balik pertumbuhan yang impresif, tantangan berikutnya juga makin besar. Ketika transaksi sudah tumbuh dalam skala sangat tinggi, perhatian tidak bisa lagi hanya tertuju pada ekspansi. Fokus ke depan akan bergeser pada kualitas layanan, kecepatan proses, keamanan sistem, efisiensi biaya, dan kemampuan menjaga keandalan infrastruktur di tengah lonjakan transaksi.
Secara keseluruhan, data 2022–2025 menunjukkan bahwa QRIS tengah mengalami transformasi besar. Volume transaksi melonjak dari 66 juta menjadi 1,847 miliar, sementara nilai transaksi naik dari Rp 6 triliun menjadi Rp 170 triliun. Angka-angka ini menegaskan bahwa QRIS telah berkembang menjadi instrumen pembayaran digital yang semakin dominan dalam kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia.
Bukan hanya tumbuh tinggi, QRIS kini tumbuh semakin dalam. Dan justru di situlah makna terbesarnya: pembayaran digital di Indonesia tidak lagi sekadar berkembang, tetapi mulai benar-benar menjadi kebiasaan.