Frekuensi Lelang SRBI Ditambah, Yield Meningkat
JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menambah frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai Februari 2026. Hal ini terlihat dari data hasil lelang SRBI di website BI.
Sejak awal penerbitan pada 2023 hingga Januari 2026, BI hanya menggelar lelang SRBI satu kali per pekan, yakni tiap Jumat. Mulai Februari 2026, data menunjukkan lelang SRBI dilakukan dua kali tiap pekan, yakni pada Rabu dan Jumat.
Lelang SRBI pada Februari pun terhitung ramai dengan hasil lelang yang mencapai rata-rata lebih dari Rp 16 triliun per lelang.
Kondisi berkebalikan terjadi pada Maret 2026. Nilai rata-rata lelang sepanjang Maret hanya Rp 4,37 triliun. Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang pecah di akhir Februari menjadi salah satu penyebab lelang lebih sepi.
Minat pada lelang SRBI kembali meningkat pada April 2026. Nilai SRBI yang dimenangkan dalam lelang mencapai belasan triliun rupiah dalam masing-masing tiga kali lelang yang telah tercatat.
Dengan lelang yang lebih sering, Bank Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk:
Tetapi, minat pada lelang SRBI yang tinggi ini juga disebabkan oleh imbal hasil SRBI yang meningkat. Dalam lelang terakhir tanggal 10 April 2026, imbal hasil untuk SRBI tenor 6 bulan mencapai 5,49%. Ini adalah level tertinggi sejak Agustus 2025 ketika suku bunga BI Rate masih berada di 5%.
Pada akhir Februari, yield SRBI yang dimenangkan untuk tenor 6 bulan masih berada di angka 5,03%.
Hal serupa juga terjadi untuk tenor 9 bulan dan 12 bulan (lihat grafik).
Tren Imbal Hasil: Dari Penurunan ke Kenaikan
Memasuki awal Januari 2026, imbal hasil SRBI sempat berada dalam tren menurun. Pada lelang 2 Januari 2026, yield tercatat:
Penurunan berlanjut hingga pertengahan Januari, dengan yield sempat menyentuh kisaran:
Namun, tren tersebut berbalik sejak akhir Januari. Hingga awal April 2026, imbal hasil meningkat secara konsisten. Pada lelang 10 April 2026, yield mencapai:
Kenaikan ini menunjukkan adanya pengetatan likuiditas atau meningkatnya premi risiko yang diminta investor, seiring dinamika pasar keuangan global dan domestik.
Kenaikan yield SRBI sejak Februari hingga April 2026 membawa beberapa implikasi: