1. Home
  2. Infografik

Dana Kelolaan Reksadana Turun pada Maret 2026

Sumber: OJK
Update : 10 April 2026

Dana Kelolaan Reksadana Turun pada Maret 2026, Setelah Tren Menguat di Awal Tahun

Industri reksadana mencatat koreksi pada Maret 2026 setelah sempat menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat sejak akhir tahun lalu. Data terbaru menunjukkan total dana kelolaan (asset under management/AUM) reksadana turun menjadi Rp699,65 triliun pada Maret 2026.

Penurunan ini terjadi setelah AUM sempat mencapai Rp717,55 triliun pada Februari 2026. Secara bulanan (month-to-month), dana kelolaan menyusut Rp17,9 triliun atau sekitar 2,5%.

Meski demikian, secara tahunan (year-on-year), industri reksadana masih mencatat pertumbuhan signifikan. Dibandingkan posisi Maret 2025 yang sebesar Rp497,62 triliun, AUM per Maret 2026 meningkat Rp202,03 triliun atau tumbuh sekitar 40,6%.

Koreksi Setelah Reli Panjang

Penurunan pada Maret terjadi setelah fase ekspansi yang cukup agresif. Sejak pertengahan 2025 hingga Februari 2026, dana kelolaan terus meningkat, bahkan sempat menembus Rp700 triliun pada awal 2026.

Kenaikan tersebut didorong oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Masuknya dana investor ritel yang semakin besar
  • Kinerja pasar keuangan yang relatif positif sepanjang 2025
  • Diversifikasi produk reksadana yang semakin luas

Namun, koreksi pada Maret mengindikasikan adanya tekanan jangka pendek, baik dari sisi pasar maupun perilaku investor.

Unit Penyertaan Tetap Naik

Menariknya, di tengah penurunan AUM, jumlah unit penyertaan justru masih meningkat. Pada Maret 2026, unit penyertaan tercatat sebesar 524,62 miliar unit, naik dari 522,64 miliar unit pada Februari 2026.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa:

Secara volume, dana investor masih bertambah

Penurunan AUM kemungkinan lebih dipengaruhi oleh pelemahan nilai aset (mark-to-market), bukan karena redemption besar-besaran

Dengan kata lain, tekanan yang terjadi lebih bersifat valuasi dibandingkan arus dana keluar.

Sinyal Volatilitas Pasar

Koreksi AUM pada Maret 2026 dapat menjadi refleksi dari meningkatnya volatilitas pasar keuangan, baik domestik maupun global. Pergerakan harga saham dan obligasi yang menjadi underlying reksadana berpotensi memengaruhi nilai portofolio secara langsung.

Jika volatilitas berlanjut, kinerja reksadana—terutama yang berbasis saham—akan sangat bergantung pada stabilitas pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Outlook Industri

Ke depan, industri reksadana masih memiliki ruang pertumbuhan, terutama didukung oleh:

  • Basis investor ritel yang terus berkembang
  • Literasi keuangan yang meningkat
  • Digitalisasi distribusi produk investasi

Namun demikian, dalam jangka pendek, pergerakan dana kelolaan diperkirakan akan lebih fluktuatif seiring dinamika pasar dan sentimen ekonomi global.

Koreksi pada Maret 2026 menjadi pengingat bahwa meskipun tren jangka panjang masih positif, industri reksadana tetap tidak terlepas dari siklus pasar yang bergerak dinamis.

Periode
Total AUM (Rp triliun)
Unit Penyertaan (miliar)
Desember 2024
502,92
392,63
Januari 2025
500,90
390,47
Februari 2025
493,96
393,40
Maret 2025
497,62
394,72
April 2025
505,84
396,51
Mei 2025
515,62
397,31
Juni 2025
513,93
396,34
Juli 2025
535,44
408,40
Agustus 2025
554,26
412,58
September 2025
581,17
427,26
Oktober 2025
621,68
448,28
November 2025
656,97
461,89
Desember 2025
679,24
480,56
Januari 2026
706,37
509,64
Februari 2026
717,55
522,64
Maret 2026
699,65
524,62

Infografik Terbaru

10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024
FAO | 29 April 2026
Produk komersial cokelat hasil laboratorium diperkirakan akan masuk pasar AS pada akhir 2026 atau 2027, memunculkan kekhawatiran bisnis kakao tradisional
Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI
BEI | 23 April 2026
Sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan sejak awal tahun. Penurunan terutama terjadi pada BREN dan DSSA
DSSA dan BREN Memimpin Top Laggards IHSG 22 April 2026
Bloomberg | 22 April 2026
Meski mayoritas saham menguat, penurunan saham big cap seperti DSSA dan BREN menekan IHSG turun 0,24% ke 7.541,61
BI Rate April 2026 Tetap di Posisi 4,75%
Bank Indonesia | 22 April 2026
Bank Indonesia menahan suku bunga di angka 4,75% pada April 2026. Ini adalah posisi yang sama dalam delapan bulan berturut-turut
Saham-Saham Top Leaders IHSG 21 April 2026
Bloomberg | 21 April 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah di hari kedua berturut-turut. IHSG melorot 34,73 poin atau 0,46% menjadi 7.559,38 pada Selasa (21/4)
Saham Top Laggards IHSG 20 April 2026
Bloomberg | 20 April 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot di awal pekan ini. Senin (20/4), IHSG melorot 39,89 poin atau 0,52% menjadi 7.594,11 pada perdagangan di BEI
Anggaran Kementerian Pertahanan
Riset KONTAN, Kementerian Pertahanan | 17 April 2026
Anggaran Kementerian Pertahanan terus meningkat untuk kebutuhan peralatan pertahanan dan personel
Ukraina Jadi Importir Senjata Dengan Pangsa Pasar Terbesar, Terutama dari AS
Stockholm International Peace Research Institute | 15 April 2026
Perang Ukraina vs Rusia mengerek impor senjata Ukraina yang awalnya hanya 0,1% dari total impor global jadi 9,7%. Impor senjata Ukraina terutama berasal dari AS
Perang di Berbagai Belahan Dunia, AS Mendominasi Pangsa Pasar Senjata
Stockholm International Peace Research Institute | 15 April 2026
Ekspor senjata Amerika Serikat (AS) naik 27% dari periode 2016-2020 ke 2021-2025 menyebabkan pangsa pasarnya meningkat dari 36% menjadi 42%
Oustanding SRBI Kembali Tembus Lebih dari Rp 800 Triliun
Bank Indonesia | 14 April 2026
Frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang meningkat mulai Februari 2026 menyebabkan oustanding SRBI kembali melonjak
loading
Close [X]