Anggaran Pertahanan Tembus Rekor Rp 187 Triliun pada 2026
JAKARTA. Anggaran Kementerian Pertahanan (Kemhan) menunjukkan tren peningkatan dalam lebih dari satu dekade terakhir, meskipun diwarnai fluktuasi tajam dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data 2013–2026, alokasi anggaran pertahanan mencapai Rp 187,1 triliun pada 2026, menjadi level tertinggi sepanjang periode tersebut.
Kenaikan ini menandai lonjakan lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2013 yang sebesar Rp 87,7 triliun. Namun, di balik tren jangka panjang yang meningkat, pola anggaran dalam lima tahun terakhir menunjukkan dinamika yang semakin tidak stabil.
Pada periode 2013–2016, anggaran pertahanan relatif stagnan di kisaran Rp 86 triliun hingga Rp 101 triliun. Memasuki 2017–2019, pemerintah mulai meningkatkan belanja menjadi Rp 106 triliun hingga Rp 117 triliun, seiring dorongan awal modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Lonjakan lebih signifikan terjadi pada 2020, ketika anggaran melonjak ke Rp 136,9 triliun. Tren kenaikan berlanjut hingga mencapai Rp 150,3 triliun pada 2022. Peningkatan ini tidak lepas dari meningkatnya dinamika geopolitik global serta kebutuhan penguatan sistem pertahanan nasional.
Namun, sejak 2023, pola anggaran menjadi lebih bergejolak. Setelah turun ke Rp 139,27 triliun pada 2023, anggaran melonjak tajam ke Rp 175,1 triliun pada 2024. Setahun kemudian, anggaran kembali turun ke Rp 139,27 triliun pada 2025, sebelum akhirnya naik signifikan ke Rp 187,1 triliun pada 2026.
Fluktuasi ini mencerminkan adanya penyesuaian fiskal yang cukup agresif, di tengah kebutuhan pembiayaan proyek strategis pertahanan dan tekanan terhadap ruang fiskal negara. Lonjakan pada tahun-tahun tertentu diduga berkaitan dengan realisasi proyek besar, termasuk pengadaan alutsista dan program modernisasi.
Di sisi lain, pola penurunan berulang ke kisaran Rp 139 triliun pada 2023 dan 2025 mengindikasikan kemungkinan adanya revisi anggaran atau perbedaan antara pagu dan realisasi belanja.
Secara keseluruhan, tren ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap menempatkan sektor pertahanan sebagai prioritas strategis, dengan level anggaran baru yang berada di kisaran Rp 140 triliun hingga Rp 180 triliun pasca-2020. Namun, volatilitas yang meningkat juga menegaskan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pertahanan dan stabilitas fiskal.
Ke depan, konsistensi perencanaan anggaran dinilai menjadi kunci agar program modernisasi pertahanan dapat berjalan optimal tanpa menimbulkan tekanan berlebih terhadap keuangan negara.
Informasi tambahan, impor senjata Indonesia berada di 20 besar dunia. Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Indonesia menjadi negara dengan pangsa pasar impor terbesar ke-18. Pangsa pasar impor senjata Indonesia periode 2021-2025 sebesar 1,5%.
Angka ini turun tipis dari pangsa pasar periode 2016-2020 yang ada di 1,7%. Penurunan ini terutama terjadi karena lonjakan besar pangsa pasar Ukraina.
Impor senjata Indonesia pada periode 2021-2025 turun 4,1% jika dibandingkan dengan periode lima tahun sebelumnya.
Italia menjadi negara pemasok senjata terbesar Indonesia, yakni 40% dari total impor. AS menjadi pemasok terbesar kedua dengan pangsa pasar 16%, disusul Prancis dengan pangsa pasar 14%.