Perputaran Uang Lebaran Mulai Stabil, Tak Lagi Setinggi Pascapandemi
Periode Lebaran selalu menjadi momen penting bagi perputaran uang di masyarakat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, nilainya menunjukkan pola yang berubah—dari lonjakan tinggi pascapandemi hingga kini mulai kembali stabil.
Data terbaru memperlihatkan jumlah uang beredar selama Lebaran 2026 diperkirakan mencapai Rp148,39 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan 2025 sebesar Rp137,98 triliun, tetapi masih lebih rendah dari capaian 2024 yang mencapai Rp157,3 triliun.
Jika ditarik ke belakang, pergerakan ini menunjukkan dinamika yang cukup tajam. Pada 2021, jumlah uang beredar tercatat sekitar Rp154,5 triliun, lalu sedikit turun menjadi Rp150 triliun pada 2022 seiring masih terbatasnya aktivitas masyarakat.
Lonjakan besar terjadi pada 2023, ketika nilai perputaran uang melonjak hingga Rp240 triliun. Kenaikan drastis ini tidak lepas dari pelonggaran mobilitas setelah pandemi, yang mendorong konsumsi masyarakat secara signifikan selama periode Lebaran.
Namun, setelah mencapai puncak tersebut, tren mulai menurun. Pada 2024, jumlah uang beredar turun menjadi Rp157,3 triliun, lalu kembali melemah pada 2025 sebelum sedikit pulih di 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fase “euforia konsumsi” pascapandemi telah berakhir. Pada 2023, masyarakat cenderung membelanjakan lebih banyak uang, baik untuk perjalanan mudik, belanja kebutuhan Lebaran, maupun aktivitas rekreasi. Namun, perilaku tersebut tidak berlanjut dalam jangka panjang.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi normalisasi ini. Pertama, tekanan terhadap daya beli. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, termasuk saat Lebaran.
Kedua, perubahan pola konsumsi. Setelah lonjakan besar pada 2023, konsumsi masyarakat kembali ke pola yang lebih rasional. Belanja tetap meningkat saat Lebaran, tetapi tidak lagi bersifat “balas dendam” seperti sebelumnya.
Ketiga, faktor basis perbandingan. Tingginya angka pada 2023 membuat penurunan di tahun-tahun berikutnya terlihat cukup tajam, meskipun secara nominal masih berada pada level yang relatif besar dibandingkan periode sebelum pandemi.
Meski demikian, kenaikan kembali pada 2026 mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi selama Lebaran tetap terjaga. Perputaran uang masih menjadi motor penting bagi konsumsi domestik, terutama di sektor ritel, transportasi, dan pariwisata.
Ke depan, jumlah uang beredar saat Lebaran diperkirakan akan bergerak dalam kisaran yang lebih stabil. Tidak lagi melonjak ekstrem seperti masa pemulihan pascapandemi, tetapi tetap cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.