1. Home
  2. Infografik

Neraca Dagang Indonesia Januari 2026

Sumber: BPS
Update : 02 Maret 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perdagangan Indonesia pada Januari 2026 masih mencetak surplus, namun nilainya menyusut dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan surplus ini terjadi di tengah koreksi ekspor dan lonjakan impor pada awal tahun.

Merujuk rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$22,16 miliar. Sementara itu, impor mencapai US$21,20 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus US$0,95 miliar.

Surplus Menyusut Tajam dari Desember

Meski masih surplus, capaian Januari 2026 lebih rendah dibandingkan posisi Desember 2025. Secara bulanan (month-to-month), total ekspor turun 15,91 persen dari US$26,35 miliar pada Desember 2025 menjadi US$22,16 miliar pada Januari 2026.

Di sisi lain, impor memang juga turun 11,05 persen dibandingkan Desember 2025, tetapi secara tahunan (year-on-year) justru melonjak 18,21 persen menjadi US$21,20 miliar . Kombinasi penurunan ekspor bulanan dan tingginya impor membuat ruang surplus semakin menyempit.

Surplus Januari 2026 terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus US$3,22 miliar. Namun, sektor migas masih mengalami defisit sebesar US$2,27 miliar, sehingga menggerus surplus keseluruhan.

Ekspor: Nonmigas Tumbuh, Migas Tertekan

Secara tahunan, ekspor Januari 2026 sebenarnya tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 4,38 persen menjadi US$21,26 miliar.

Sebaliknya, ekspor migas turun 15,62 persen menjadi US$891,8 juta. Penurunan tajam terjadi pada ekspor minyak mentah yang tercatat nol pada Januari 2026, serta turunnya ekspor gas alam.

Dari sisi komoditas, lonjakan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewani/nabati (termasuk CPO) yang naik 46,05 persen secara tahunan. Kenaikan juga terjadi pada nikel dan produk turunannya, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.

Namun, beberapa komoditas berbasis sumber daya alam seperti bahan bakar mineral mengalami penurunan 11,85 persen secara tahunan, mencerminkan tekanan harga dan permintaan global.

Struktur Ekspor: Industri Pengolahan Makin Dominan

Dilihat dari sektornya, ekspor nonmigas industri pengolahan tumbuh 8,19 persen secara tahunan dan menyumbang 83,52 persen dari total ekspor Januari 2026. Ini menunjukkan struktur ekspor Indonesia semakin ditopang oleh produk manufaktur.

Sebaliknya, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 20,36 persen, sementara sektor pertambangan dan lainnya menyusut 14,59 persen secara tahunan.

Dari sisi tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama dengan nilai ekspor US$5,27 miliar, disusul Amerika Serikat dan India. Ketiga negara ini menyumbang lebih dari 43 persen total ekspor nonmigas Indonesia.

Impor Melonjak karena Bahan Baku dan Barang Modal

Di sisi impor, kenaikan tahunan 18,21 persen didorong oleh peningkatan impor migas sebesar 27,52 persen dan nonmigas 16,71 persen.

Lonjakan impor minyak mentah menjadi faktor utama peningkatan impor migas. Sementara itu, pada nonmigas, kenaikan signifikan terjadi pada mesin/perlengkapan elektrik, logam mulia dan perhiasan, serta kendaraan udara dan bagiannya.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong meningkat 14,67 persen secara tahunan. Impor barang modal bahkan melonjak 35,23 persen, mengindikasikan adanya aktivitas investasi dan ekspansi industri di awal tahun. Impor barang konsumsi juga naik 11,81 persen.

Awal Tahun yang Penuh Tantangan

Secara keseluruhan, Januari 2026 mencerminkan pola musiman awal tahun: ekspor terkoreksi setelah lonjakan akhir tahun, sementara impor tetap tinggi karena kebutuhan produksi dan energi.

Meski surplus masih terjaga, penyusutan nilainya menjadi sinyal bahwa ketahanan neraca perdagangan akan sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas global, kinerja manufaktur, serta dinamika permintaan dari mitra dagang utama.

Jika tren impor tetap tinggi dan ekspor tidak kembali menguat pada bulan-bulan berikutnya, ruang surplus berpotensi semakin terbatas. Namun, kuatnya kinerja industri pengolahan memberi bantalan penting bagi struktur ekspor Indonesia ke depan.

Ekspor
Impor
Neraca Dagang
Desember-24
23,46
21,22
2,24
Januari-25
21,43
17,94
3,49
Februari-25
21,94
18,85
3,09
Maret-25
23,25
18,92
4,33
April-25
20,74
20,58
0,16
Mei-25
24,61
20,31
4,30
Juni-25
23,44
19,33
4,11
Juli-25
24,75
20,57
4,17
Agustus-25
24,96
19,47
5,49
September-25
24,68
20,34
4,34
Oktober-25
24,24
21,84
2,39
November-25
22,52
19,86
2,66
Desember-25
26,35
23,83
2,51
Januari-26
22,16
21,20
0,95

Infografik Terbaru

BI Rate Mei 2026 Naik 50 Bps Jadi 5,25% di Tengah Pelemahan Rupiah
Bank Indonesia | 20 Mei 2026
Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis points (bps) pada Mei 2026, lebih tinggi ketimbang prediksi pasar
Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
Cadangan Devisa Turun Dalam Empat Bulan Beruntun Hingga April 2026
Bank Indonesia | 09 Mei 2026
Cadangan devisa turun lagi menjadi US$ 146,2 miliar per April 2026. Ini adalah penurunan dalam empat bulan beruntun dan terendah sejak Agustus 2024
Neraca migas Indonesia terus defisit secara konsisten sejak tahun 2012 hingga Maret 2026
BPS | 06 Mei 2026
Neraca dagang Indonesia secara total terus mencatat surplus dalam 71 bulan hingga Maret 2026
Distribusi PDB Menurut Pengeluaran Q1-2026
BPS | 05 Mei 2026
Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin penggerak ekonomi dengan kontribusi 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Mencapai Level Tertinggi Sejak Kuartal IV-2022
BPS | 05 Mei 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY), naik dari 4,87% di kuartal I 2025
Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Kembali Surplus
BPS | 04 Mei 2026
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dibandingkan surplus US$ 1,27 miliar pada Februari 2026
Inflasi April 2026 Turun Menjadi 2,42% Secara Tahunan
BPS | 04 Mei 2026
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, terjadi inflasi 2,42% pada April 2026. Tingkat inflasi bulanan sebesar 0,13% dan year to date 1,06%
10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024
FAO | 29 April 2026
Produk komersial cokelat hasil laboratorium diperkirakan akan masuk pasar AS pada akhir 2026 atau 2027, memunculkan kekhawatiran bisnis kakao tradisional
Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI
BEI | 23 April 2026
Sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan sejak awal tahun. Penurunan terutama terjadi pada BREN dan DSSA
loading
Close [X]