Inflasi Indonesia kembali memanas pada Februari 2026. Laju kenaikan harga barang dan jasa tercatat menjadi yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir, menandakan tekanan biaya hidup yang semakin terasa di kantong masyarakat.
Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2026 mencapai 4,76%. Angka ini melonjak dibandingkan Januari 2026 dan menjadi level tertinggi sejak April 2023.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Februari tercatat 0,68%, sementara secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi sudah mencapai 0,53%.
Kenapa Inflasi Naik Tajam?
Kenaikan inflasi Februari terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
Harga beras masih menjadi penyumbang utama inflasi, disusul cabai merah, telur ayam ras, dan bawang merah. Kenaikan harga pangan ini terjadi di tengah gangguan pasokan dan faktor musiman.
Di sisi lain, tarif listrik dan harga beberapa komoditas energi juga ikut mendorong inflasi. Tekanan dari sektor energi membuat kelompok perumahan dan utilitas mencatat kenaikan signifikan.
Kelompok transportasi juga menyumbang inflasi, terutama karena kenaikan tarif angkutan udara dan bahan bakar.
Inflasi Inti Ikut Menguat
Tidak hanya harga pangan yang bergejolak, inflasi inti—yang mencerminkan tekanan harga lebih fundamental—juga meningkat menjadi 2,63% (yoy) . Kenaikan inflasi inti menunjukkan bahwa tekanan harga tidak semata-mata bersifat sementara, melainkan mulai merata ke berbagai sektor.
Inflasi inti biasanya dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, nilai tukar, dan ekspektasi pelaku usaha terhadap harga di masa depan.
Dampaknya ke Masyarakat dan Dunia Usaha
Kenaikan inflasi mendekati 5% membuat daya beli masyarakat tertekan, terutama kelompok berpendapatan rendah yang sebagian besar pengeluarannya untuk kebutuhan pangan.
Bagi pelaku usaha, lonjakan inflasi berarti kenaikan biaya produksi, terutama untuk bahan baku dan energi. Jika biaya terus meningkat, perusahaan berpotensi menaikkan harga jual, yang pada akhirnya bisa memperpanjang tekanan inflasi.
Tantangan bagi Bank Sentral
Lonjakan inflasi ini menjadi tantangan bagi Bank Indonesia (BI). Selama ini BI menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5% ±1%. Dengan inflasi kini 4,76%, ruang kebijakan moneter bisa menjadi lebih ketat.
BI harus menyeimbangkan antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Jika suku bunga dinaikkan terlalu agresif, konsumsi dan investasi bisa tertahan. Namun jika terlalu longgar, inflasi bisa semakin sulit dikendalikan.
Apakah Ini Sinyal Bahaya?
Meski menjadi yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, inflasi Februari 2026 belum tentu menjadi awal lonjakan jangka panjang. Banyak faktor yang masih akan menentukan arah harga ke depan, termasuk stabilitas pasokan pangan, kebijakan energi, serta kondisi global.
Namun satu hal yang pasti: tekanan harga saat ini nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Pemerintah dan otoritas moneter perlu bergerak cepat menjaga pasokan, menstabilkan harga pangan, serta memastikan ekspektasi inflasi tetap terkendali agar lonjakan ini tidak berlarut-larut.