Impor batubara Amerika Serikat (AS) dari Indonesia cenderung turun dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Energy Information Administration (EIA) AS, puncak impor batubara dari Indonesia terjadi pada tahun 2007.
Saat itu, AS mengimpor 3,66 juta batubara dari Indonesia. Setelah itu, impor batubara dari Indonesia cenderung menurun. Bahkan pada tahun 2023, AS tidak mencatat impor batubara dari Indonesia sama sekali.
Fluktuasi Impor Batubara Indonesia ke AS
Pada 2014, AS masih mengimpor sekitar 1,52 juta ton batubara dari Indonesia. Ini adalah angka impor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Namun, setelah itu, tren impor terus mengalami penurunan:
- 2015: 890 ribu ton, turun lebih dari 40% dibanding tahun sebelumnya.
- 2016: 613 ribu ton, penurunan lebih lanjut seiring dengan kebijakan energi AS yang beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
- 2017: 699 ribu ton, sedikit peningkatan, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan 2014.
- 2018: 915 ribu ton, menunjukkan adanya pemulihan dalam permintaan.
Sementara itu, total impor batubara AS dari semua negara juga mengalami tren penurunan, yang menandakan berkurangnya ketergantungan negara tersebut pada bahan bakar fosil.
AS sebenarnya adalah merupakan negara produsen batubara terbesar keempat dunia setelah China, India, dan Indonesia.
Produksi batubara AS di tahun 2023 mencapai 577,95 juta ton menurut data Energy Information Administration (EIA) AS. Angka produksi ini turun 2,73% jika dibandingkan dengan produksi tahun 2022 yang mencapai 594,15 juta ton.
Angka produksi ini lebih tinggi ketimbang konsumsi batubara domestik AS yang mencapai 425,89 juta ton di tahun 2023 dan 515,53 juta ton di tahun 2022.
Artinya, AS masih memiliki surplus dari produksi dan konsumi. AS pun menjadi negara dengan ekspor batubara terbesar keempat dunia.
Tahun 2023, impor batubara AS dari Kolombia mencapai 2,65 juta ton dari total impor 4,01 juta ton. Sedangkan impor batubara AS dari Kanada sebesar 789.989 ton. Tidak ada impor batubara dari Indonesia pada tahun 2023.