Net Interest Margin (NIM) merupakan indikator penting dalam industri perbankan yang mencerminkan efisiensi bank dalam mengelola pendapatan bunga dibandingkan dengan aset produktifnya.
Berdasarkan data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan laporan keuangan bank, terjadi beberapa perubahan dalam NIM bank beraset besar di Indonesia pada tahun 2023 dan 2024.
Secara keseluruhan, rata-rata NIM industri mengalami penurunan dari 4,81% pada tahun 2023 menjadi 4,62% pada tahun 2024. Penurunan ini mencerminkan berbagai tantangan yang dihadapi perbankan, seperti meningkatnya biaya dana dan persaingan yang semakin ketat dalam industri keuangan.
Kinerja NIM Bank-Bank Besar
1. Bank Rakyat Indonesia (BRI) tetap menjadi bank dengan NIM tertinggi, meskipun mengalami sedikit penurunan dari 7,95% pada 2023 menjadi 7,74% pada 2024.
2. Bank Central Asia (BCA) justru mengalami kenaikan NIM dari 5,5% pada 2023 menjadi 5,8% pada 2024, menunjukkan efektivitas bank dalam mengelola pendapatan bunga.
3. Bank Mandiri mengalami sedikit penurunan dari 5,48% menjadi 5,15% pada 2024.
4. Bank Panin juga mengalami penurunan dari 4,93% menjadi 4,44%.
5. BNI mengalami penurunan dari 4,6% menjadi 4,2%, yang mencerminkan tekanan dalam perolehan margin bunga.
6. Bank Danamon mencatat penurunan cukup signifikan dari 5,14% menjadi 4,76%.
7. CIMB Niaga mengalami penurunan dari 4,2% menjadi 3,85%.
8. Bank Permata juga mengalami sedikit penurunan dari 4,5% menjadi 4,34%.
9. OCBC NISP justru mengalami kenaikan NIM dari 4,4% menjadi 4,47%.
10. Bank BTPN mengalami kenaikan dari 4,07% menjadi 4,09%, yang menunjukkan stabilitas dalam pengelolaan margin bunga.
11. BTN mengalami penurunan cukup signifikan dari 3,75% menjadi 2,9%, yang bisa disebabkan oleh strategi pembiayaan perumahan yang lebih kompetitif.
Perubahan NIM pada bank-bank besar ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain: