Yield SRBI Tembus 7,7%, Naik Tajam Saat Rupiah Tertekan dan BI Rate Meningkat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan melonjak tajam sepanjang semester I-2026. Yield SRBI yang pada awal Januari masih berada di level 4,87% meningkat hingga mencapai rekor 7,74% pada lelang 19 Juni 2026.
Kenaikan hampir 300 basis poin (bps) dalam enam bulan tersebut mencerminkan perubahan besar di pasar keuangan domestik. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), hingga meningkatnya premi risiko aset keuangan Indonesia menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan yield SRBI.
Sepanjang paruh pertama 2026, rupiah mengalami tekanan yang cukup berat. Nilai tukar sempat menembus rekor terlemah mendekati Rp 18.000 per dolar AS pada awal Juni. Pada saat yang sama, investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang akibat tingginya ketidakpastian global dan menguatnya dolar AS.
Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia membutuhkan instrumen yang mampu menarik likuiditas sekaligus menjaga daya tarik aset rupiah. SRBI menjadi salah satu instrumen utama yang digunakan bank sentral.
Kenaikan yield SRBI dapat dipandang sebagai kompensasi yang diminta investor untuk menempatkan dana dalam instrumen rupiah ketika risiko nilai tukar meningkat. Semakin besar tekanan terhadap rupiah, semakin tinggi pula imbal hasil yang harus ditawarkan agar investor tetap bersedia membeli instrumen tersebut.
Faktor lain yang mendorong kenaikan yield adalah perubahan kebijakan moneter Bank Indonesia. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026, BI menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%.
Kenaikan suku bunga acuan tersebut secara otomatis menggeser ekspektasi tingkat pengembalian di pasar uang. Investor kemudian meminta imbal hasil yang lebih tinggi pada berbagai instrumen, termasuk SRBI.
Selain itu, lonjakan yield SRBI juga terjadi beriringan dengan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN). Yield SUN tenor 10 tahun sempat menembus 7,4% pada pertengahan Juni, mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar obligasi domestik. Karena SRBI dan SBN bersaing memperebutkan dana investor yang sama, kenaikan yield SBN turut menarik naik imbal hasil SRBI.
Namun menariknya, setelah mencapai puncak 7,74% pada 19 Juni, yield SRBI cenderung bergerak datar di kisaran 7,6%-7,7% hingga pertengahan Juli.
Stabilisasi tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai menilai tingkat imbal hasil SRBI sudah cukup menarik untuk mengkompensasi risiko yang ada. Dengan kata lain, proses repricing aset rupiah yang berlangsung sejak awal tahun mulai mencapai titik keseimbangan baru.
Perkembangan nilai tukar rupiah juga turut membantu meredakan tekanan. Setelah sempat mendekati Rp 18.000 per dolar AS pada awal Juni, rupiah berangsur menguat ke kisaran Rp 17.700-an pada paruh kedua Juni. Penguatan ini mengurangi kebutuhan kenaikan premi risiko yang lebih tinggi pada instrumen rupiah.
Di sisi lain, keputusan BI menaikkan BI Rate menjadi 5,75% memberikan sinyal kuat bahwa bank sentral berkomitmen menjaga stabilitas rupiah dan menarik aliran modal asing. Setelah kenaikan tersebut, ekspektasi pasar terhadap pengetatan moneter tambahan mulai berkurang sehingga tekanan kenaikan yield SRBI ikut mereda.
Faktor penting lainnya adalah meningkatnya minat investor asing terhadap SRBI. Pada Juni 2026, kepemilikan asing melonjak lebih dari 35% menjadi Rp 293,16 triliun. Arus dana masuk tersebut membantu menyerap pasokan SRBI yang diterbitkan Bank Indonesia sehingga menahan kenaikan yield lebih lanjut.
Kombinasi penguatan rupiah, kenaikan BI Rate, serta masuknya dana asing membuat pasar mulai menemukan titik keseimbangan baru. Alhasil, meskipun outstanding SRBI terus mencetak rekor dan menembus Rp 1.072,62 triliun pada Juni 2026, yield instrumen ini tidak lagi melonjak seperti yang terjadi pada periode Januari hingga pertengahan Juni.
Ke depan, arah yield SRBI akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan rupiah, prospek suku bunga Bank Indonesia, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang. Selama tekanan terhadap rupiah tidak kembali meningkat dan arus modal asing tetap terjaga, yield SRBI berpotensi bertahan di kisaran saat ini meskipun masih berada jauh di atas level awal tahun.