Turun 6,61%, Impor Minyak Mentah oleh AS Mencapai 2,25 Miliar Barel pada 2025
Meski mengekspor minyak dalam jumlah besar, Amerika Serikat (AS) juga merupakan salah satu importer minyak mentah terbesar. Data Energy Information & Administration AS menunjukkan, total impor minyak mentah AS di tahun 2025 mencapai 2,25 miliar barel, turun 6,61% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2,41 miliar barel.
Impor minyak AS dari negara-negara OPEC mencapai 313,80 juta barel pada sepanjang 2025. Angka ini turun 15,53% dari tahun sebelumnya yang mencapai 371,48 juta barel.
Sedangkan impor minyak AS dari negara-negara non-OPEC mencapai 1,94 miliar barel, turun 4,99% dari sebelumnya 2,04 miliar barel.
Salah satu keuntungan perluasan pengendalian AS terhadap Venezuela tampak pada bisnis minyak. AS tercatat membeli minyak mentah 50,98 juta barel pada tahun lalu.
Impor minyak AS dari Venezuela ini anjlok 38,86% ketimbang tahun sebelumnya yang mencapai 83,39 juta barel.
Meski impor turun, Venezuela merupakan 10 besar negara sumber impor minyak AS.
AS mulai melakukan penyesuaian strategi pasokan energi di tengah dinamika geopolitik dan kebijakan tarif yang semakin agresif. Pada 2025, AS masih sangat bergantung pada Kanada sebagai pemasok utama dengan volume 1,42 miliar barel, meskipun turun 3,99% dibanding tahun sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada hampir seluruh pemasok tradisional seperti Meksiko (-17,61%), Arab Saudi (-1,91%), hingga Irak (-10,18%).
Namun, di tengah tren penurunan tersebut, terdapat beberapa negara yang justru mencatat lonjakan signifikan.
Lonjakan terbesar berasal dari Gabon dengan kenaikan ekstrem 345,72%, diikuti Argentina sebesar 90,60% dan Senegal sebesar 91,96%. Selain itu, Guyana juga mencatat kenaikan cukup tinggi sebesar 18,20%.
Kenaikan impor dari negara-negara ini mencerminkan strategi diversifikasi sumber pasokan. Guyana, misalnya, menjadi pemain baru yang berkembang pesat dalam industri minyak global, sementara Argentina mulai meningkatkan ekspor dari kawasan shale seperti Vaca Muerta.
Di sisi lain, penurunan paling tajam terjadi pada Angola (-43,03%), Venezuela (-38,86%), dan Ghana (-57,89%). Penurunan dari Venezuela menjadi salah satu yang paling menarik, mengingat faktor kebijakan AS yang secara langsung menargetkan perdagangan minyak negara tersebut.
Kebijakan tarif AS memainkan peran penting dalam perubahan ini. Melalui kebijakan seperti Executive Order 14245, pemerintah AS mengenakan tarif hingga 25% terhadap negara yang mengimpor minyak dari Venezuela. Kebijakan ini menciptakan efek berantai: negara-negara yang ingin tetap menjaga hubungan dagang dengan AS cenderung mengurangi ketergantungan pada minyak Venezuela, sehingga secara tidak langsung menekan arus perdagangan global minyak tersebut.
Selain itu, perang dagang dengan China juga berdampak pada pasar energi global. China menerapkan tarif atas minyak mentah AS, yang berpotensi menurunkan ekspor AS dan memaksa pengalihan pasokan ke pasar lain.
Dari sisi domestik, tarif terhadap impor minyak juga berdampak pada biaya produksi. Kenaikan biaya crude input dapat meningkatkan harga bahan bakar di dalam negeri dan menekan daya saing ekspor produk olahan AS seperti bensin dan diesel.
Secara keseluruhan, data 2024–2025 menunjukkan tiga tren utama. Pertama, AS mulai mengurangi ketergantungan pada pemasok tradisional dan meningkatkan impor dari negara non-tradisional. Kedua, kebijakan tarif menciptakan distorsi perdagangan yang mendorong realokasi aliran minyak global. Ketiga, geopolitik semakin menjadi faktor dominan dalam menentukan arah perdagangan energi.