1. Home
  2. Infografik

10 Negara Pengekspor Minyak Mentah Terbesar ke AS

Sumber: U.S. Energy Information Administration
Update : 20 Maret 2026

Turun 6,61%, Impor Minyak Mentah oleh AS Mencapai 2,25 Miliar Barel pada 2025

Meski mengekspor minyak dalam jumlah besar, Amerika Serikat (AS) juga merupakan salah satu importer minyak mentah terbesar. Data Energy Information & Administration AS menunjukkan, total impor minyak mentah AS di tahun 2025 mencapai 2,25 miliar barel, turun 6,61% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2,41 miliar barel.

 

Impor minyak AS dari negara-negara OPEC mencapai 313,80 juta barel pada sepanjang 2025. Angka ini turun 15,53% dari tahun sebelumnya yang mencapai 371,48 juta barel.

 

Sedangkan impor minyak AS dari negara-negara non-OPEC mencapai 1,94 miliar barel, turun 4,99% dari sebelumnya 2,04 miliar barel.

 

Salah satu keuntungan perluasan pengendalian AS terhadap Venezuela tampak pada bisnis minyak. AS tercatat membeli minyak mentah 50,98 juta barel pada tahun lalu. 

 

Impor minyak AS dari Venezuela ini anjlok 38,86% ketimbang tahun sebelumnya yang mencapai 83,39 juta barel.

 

Meski impor turun, Venezuela merupakan 10 besar negara sumber impor minyak AS.

 

AS mulai melakukan penyesuaian strategi pasokan energi di tengah dinamika geopolitik dan kebijakan tarif yang semakin agresif. Pada 2025, AS masih sangat bergantung pada Kanada sebagai pemasok utama dengan volume 1,42 miliar barel, meskipun turun 3,99% dibanding tahun sebelumnya.

 

Penurunan juga terjadi pada hampir seluruh pemasok tradisional seperti Meksiko (-17,61%), Arab Saudi (-1,91%), hingga Irak (-10,18%).

 

Namun, di tengah tren penurunan tersebut, terdapat beberapa negara yang justru mencatat lonjakan signifikan.

 

Lonjakan terbesar berasal dari Gabon dengan kenaikan ekstrem 345,72%, diikuti Argentina sebesar 90,60% dan Senegal sebesar 91,96%. Selain itu, Guyana juga mencatat kenaikan cukup tinggi sebesar 18,20%.

 

Kenaikan impor dari negara-negara ini mencerminkan strategi diversifikasi sumber pasokan. Guyana, misalnya, menjadi pemain baru yang berkembang pesat dalam industri minyak global, sementara Argentina mulai meningkatkan ekspor dari kawasan shale seperti Vaca Muerta.

 

Di sisi lain, penurunan paling tajam terjadi pada Angola (-43,03%), Venezuela (-38,86%), dan Ghana (-57,89%). Penurunan dari Venezuela menjadi salah satu yang paling menarik, mengingat faktor kebijakan AS yang secara langsung menargetkan perdagangan minyak negara tersebut.

 

Kebijakan tarif AS memainkan peran penting dalam perubahan ini. Melalui kebijakan seperti Executive Order 14245, pemerintah AS mengenakan tarif hingga 25% terhadap negara yang mengimpor minyak dari Venezuela. Kebijakan ini menciptakan efek berantai: negara-negara yang ingin tetap menjaga hubungan dagang dengan AS cenderung mengurangi ketergantungan pada minyak Venezuela, sehingga secara tidak langsung menekan arus perdagangan global minyak tersebut.

 

Selain itu, perang dagang dengan China juga berdampak pada pasar energi global. China menerapkan tarif atas minyak mentah AS, yang berpotensi menurunkan ekspor AS dan memaksa pengalihan pasokan ke pasar lain.

 

Dari sisi domestik, tarif terhadap impor minyak juga berdampak pada biaya produksi. Kenaikan biaya crude input dapat meningkatkan harga bahan bakar di dalam negeri dan menekan daya saing ekspor produk olahan AS seperti bensin dan diesel.

 

Secara keseluruhan, data 2024–2025 menunjukkan tiga tren utama. Pertama, AS mulai mengurangi ketergantungan pada pemasok tradisional dan meningkatkan impor dari negara non-tradisional. Kedua, kebijakan tarif menciptakan distorsi perdagangan yang mendorong realokasi aliran minyak global. Ketiga, geopolitik semakin menjadi faktor dominan dalam menentukan arah perdagangan energi.

Negara
2024
2025
Kanada
1.486.610,00
1.427.220,00
Meksiko
169.827,00
139.928,00
Arab Saudi
100.196,00
98.278,00
Guyana
64.356,00
76.070,00
Brasil
80.750,00
72.382,00
Kolombia
78.379,00
70.883,00
Irak
72.546,00
65.160,00
Venezuela
83.393,00
50.983,00
Nigeria
56.351,00
50.087,00
Argentina
24.983,00
47.618,00

Infografik Terbaru

Cadangan Devisa Maret 2026 Terendah Dalam 20 Bulan Terakhir
Bank Indonesia | 08 April 2026
Cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 turun tajam menjadi US$ 148,15 miliar dari sebelumnya US$ 151,90 miliar, salah satunya untuk intervensi rupiah
CEO Index April 2026
KONTAN | 06 April 2026
Keyakinan CEO akan kondisi ekonomi dan bisnis pada kuartal kedua 2026 turun akibat kenaikan tensi geopolitik global
Inflasi Maret 2026 Mencapai 3,48% Secara Tahunan
BPS | 06 April 2026
Inflasi Indonesia pada Maret 2026 mencapai 3,48% secara tahunan dan 0,41% secara bulanan
Neraca Dagang Indonesia Februari 2026 Surplus US$ 1,27 Miliar
BPS | 01 April 2026
Kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada awal 2026, tetapi menunjukkan tanda perlambatan seiring lonjakan impor yang jauh lebih tinggi
Harga Emas Tumbang Dalam Beberapa Hari Karena Kekhawatiran Inflasi
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga emas tumbang dalam beberapa hari terakhir meski konflik AS-Israel versus Iran masih panas dalam tiga pekan. Harga emas turun karena kekhawatiran inflasi
Harga Minyak Dunia 23 Maret 2026
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga minyak masih menanjak naik sejak meletusnya perang AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026
Volume Transaksi QRIS Melesat Sejalan dengan Kenaikan Nilai Tranasksi
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Volume transaksi QRIS secara total menunjukkan lonjakan yang makin tajam sejak tahun 2024
Jumlah Pengguna QRIS Periode 2022-2025
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Laju pertumbuhan jumlah pengguna QRIS mulai melambat, ditunjukkan oleh grafik yang mulai mendatar sejak 2024
Nilai Transaksi QRIS Terus Melejit Hingga Akhir 2025
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Nilai transaksi dengan menggunakan QRIS terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Pada kuartal keempat 2025, nilai transaksi bahkan mencapai Rp 170 triliun
Defisit Anggaran 2026 Diprediksi Tembus 3%, Pemerintah Rencanakan Efisiensi K/L
Kementerian Keuangan | 20 Maret 2026
Defisit anggaran tahun 2026 diprediksikan akan melewati ketentuan 3% dari PDB. Pemerintah berniat menempuh jalur efisiensi anggaran K/L
loading
Close [X]