1. Home
  2. Infografik

Defisit Anggaran 2026 Diprediksi Tembus 3%, Pemerintah Rencanakan Efisiensi K/L

Sumber: Kementerian Keuangan
Update : 20 Maret 2026

Defisit Anggaran Melebar Lagi, Sinyal Tekanan Fiskal Mulai Kembali Muncul

Kinerja fiskal Indonesia menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya mulus dalam beberapa tahun terakhir. Setelah sempat membaik pasca pandemi, defisit anggaran kini kembali melebar, menandakan tekanan baru terhadap keuangan negara.

Defisit anggaran Indonesia sempat turun signifikan dari level -4,75% terhadap PDB pada 2021 menjadi -1,61% pada 2023. Perbaikan ini mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam melakukan konsolidasi fiskal setelah lonjakan belanja saat pandemi.

Namun tren tersebut tidak bertahan lama.

Memasuki 2024, defisit kembali meningkat ke -2,29%, lalu melebar lebih jauh ke -2,92% pada 2025. Untuk 2026, pemerintah menargetkan defisit sedikit lebih rendah di -2,68% terhadap PDB.

Sementara itu, realisasi hingga Februari 2026 baru mencapai -0,53%, angka yang masih relatif kecil dan belum mencerminkan tekanan sepanjang tahun karena belanja negara biasanya meningkat di paruh kedua.

Tekanan Belanja Mulai Mendominasi

Kembalinya pelebaran defisit mengindikasikan bahwa pertumbuhan belanja negara lebih cepat dibandingkan peningkatan penerimaan. Faktor pendorongnya antara lain kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi, program sosial, serta berbagai agenda pembangunan prioritas.

Di sisi lain, ruang peningkatan penerimaan negara cenderung terbatas, terutama ketika ekonomi global belum sepenuhnya stabil.

Kondisi ini membuat pemerintah berada dalam posisi yang tidak mudah: menjaga momentum pertumbuhan tanpa membebani fiskal secara berlebihan.

Dampak ke Utang: Risiko Bertambah, Tapi Masih Terkendali

Defisit anggaran yang melebar berarti kebutuhan pembiayaan juga meningkat. Artinya, pemerintah harus menerbitkan lebih banyak surat utang.

Dalam jangka pendek, hal ini akan:

* Meningkatkan rasio utang terhadap PDB

* Menambah beban bunga dalam APBN

Namun selama defisit tetap dijaga di bawah batas 3% PDB, risiko terhadap keberlanjutan fiskal masih relatif terkendali. Tantangannya adalah menjaga agar kenaikan utang tidak berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang.

Dampak ke Suku Bunga: Potensi Tekanan Naik

Kebutuhan pembiayaan yang lebih besar juga berpotensi memengaruhi pasar keuangan, khususnya suku bunga.

Ketika pemerintah menerbitkan lebih banyak obligasi:

* Pasokan surat utang meningkat

* Investor menuntut imbal hasil (yield) lebih tinggi

Hal ini dapat mendorong kenaikan suku bunga, baik di pasar obligasi maupun secara lebih luas di sistem keuangan.

Jika tekanan ini berlanjut, biaya pinjaman bagi dunia usaha dan masyarakat juga bisa ikut naik.

Dampak ke Daya Beli: Efek Tidak Langsung Tapi Nyata

Bagi masyarakat, dampak defisit anggaran memang tidak selalu terasa secara langsung. Namun efek turunannya cukup signifikan.

Jika defisit dibiayai dengan utang yang semakin besar dan mendorong kenaikan suku bunga, maka:

* Kredit konsumsi menjadi lebih mahal

* Cicilan rumah dan kendaraan meningkat

* Aktivitas ekonomi bisa melambat

Di sisi lain, jika pemerintah menahan belanja untuk menjaga defisit, efeknya juga bisa terasa pada perlambatan ekonomi dan penurunan pendapatan masyarakat.

Artinya, baik defisit yang terlalu besar maupun pengetatan fiskal yang terlalu cepat sama-sama memiliki konsekuensi terhadap daya beli.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Ketidakpastian

Dengan target defisit -2,68% pada 2026, pemerintah terlihat mencoba menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kebutuhan mendorong ekonomi.

Kuncinya ke depan adalah:

* Meningkatkan kualitas belanja agar lebih produktif

* Memperkuat penerimaan negara tanpa menekan ekonomi

* Menjaga kepercayaan pasar terhadap pengelolaan fiskal

Jika tidak dikelola dengan hati-hati, tren pelebaran defisit bisa menjadi sinyal awal tekanan yang lebih besar, baik terhadap utang, suku bunga, maupun daya beli masyarakat.

Namun jika dijaga dengan disiplin, defisit tetap bisa menjadi alat untuk menjaga pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas.

Tahun
Defisit Anggaran
2021
4,75
2022
2,35
2023
1,61
2024
2,29
2025
2,92
2026
2,68

Infografik Terbaru

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Turun pada Juli 2026, Terendah Sejak Oktober 2025
Bank Indonesia | 10 Agustus 2026
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dalam tiga bulan beruntun hingga Juli 2026 ke level terendah sejak Oktober 2025
Cadangan Devisa Juli 2026 Turun Tipis Menjadi US$ 145,34 Miliar
Bank Indonesia | 07 Agustus 2026
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 sebesar US$ 145,3 miliar, turun tipis jika dibandingkan dengan posisi akhir Juni sebesar US$ 145,6 miliar
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Mencapai 5,29%
BPS | 05 Agustus 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2026 berada di angka 5,29%, turun ketimbang kuartal pertama karena pergeseran musim Lebaran
Neraca Dagang Kembali Defisit pada Juni 2026
BPS | 7 Hari 40 Menit lalu
BPS mencatat defisit perdagangan Indonesia sebesar US$450,5 juta pada Juni 2026, menipis dari defisit bulan sebelumnya sebesar US$ 1,61 miliar
Inflasi Juli 2026 Melandai, Makanan dan Transportasi Penyumbang Terbesar
BPS | 03 Agustus 2026
Inflasi tahunan utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,97% YoY diikuti kelompok transportasi sebesar 5,12% YoY
Bank Indonesia Menahan BI Rate di Level 5,75% pada Juli 2026
Bank Indonesia | 22 Juli 2026
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga atau BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 Juli 2026
Imbal Hasil SRBI dalam Lelang Tak Juga Turun Meski Ada Kabar Rating Tetap
Bank Indonesia | 16 Juli 2026
Meski tak lagi naik, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SBRI) cenderung stabil dalam sebulan terakhir sejak pertengahan Juni 2026
Rekor, Outstanding SRBI Tembus Rp 1.000 Triliun
Bank Indonesia | 16 Juli 2026
Outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp 1.072,62 pada Juni 2026, tertinggi sepanjang masa
Cadangan Devisa Mei 2025 Hingga Juni 2026
Bank Indonesia | 09 Juli 2026
Cadangan devisa Juni 2026 meningkat jadi US$ 145,59 miliar setelah bulan sebelumnya berada di titik terendah dalam hampir dua tahun
Perkembangan Dana Kelolaan Reksadana Per Jenis Hingga Juni 2026
OJK | 08 Juli 2026
Dari semua jenis reksadana, hanya reksadana terproteksi dan reksadana global yang naik pada Juni 2026
loading
Close [X]