1. Home
  2. Infografik

Negara-Negara Pengimpor Minyak Mentah AS 2024-2025

Sumber: US. Energy Information Administration
Update : 19 Maret 2026

Negara-Negara Pengimpor Minyak Mentah dari AS, Impor Indonesia Naik 414%

Perkembangan ekspor minyak mentah Amerika Serikat (AS) sepanjang 2024–2025 menunjukkan dinamika yang cukup tajam, baik dari sisi negara tujuan utama maupun perubahan pola perdagangan global. 

Berdasarkan data terbaru, terdapat pergeseran signifikan pada beberapa mitra dagang utama, yang tidak hanya dipengaruhi faktor pasar, tetapi juga kebijakan perdagangan AS, termasuk penetapan tarif.

Menurut data Energy Information Administration (EIA), Amerika Serikat (AS) mengekspor total 1,45 miliar barel minyak mentah sepanjang tahun 2025 lalu. Total ekspor minyak AS ini turun 3,33% jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai 1,5 miliar barel.

Pada 2025, beberapa negara mencatat lonjakan impor minyak mentah dari AS. Peningkatan terbesar berasal dari Belanda, yang menambah impor sebesar 34,21 juta barel atau 11,83% menjadi 323,29 juta barel. 

India mengikuti dengan kenaikan 33,54 juta barel atau 41,34% menjadi 114,66 juta barel. Kenaikan signifikan juga terjadi di Jepang sebesar 30,3 juta barel atau 357,51% menjadi 38,77 juta barel dan Nigeria sebesar 25,34 juta barel atau 160,52% menjadi 41,13 juta barel.

Kenaikan impor oleh Belanda mencerminkan perannya sebagai hub energi di Eropa, di mana sebagian besar minyak mentah tersebut kemungkinan besar didistribusikan kembali ke negara-negara Uni Eropa lainnya. 

Sementara itu, lonjakan permintaan dari India menunjukkan strategi diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah. Jepang juga tampak meningkatkan pembelian sebagai bagian dari penyesuaian pasokan energi pasca fluktuasi geopolitik global.

Jika dilihat dari persentase, kenaikan impor minyak mentah Indonesia dari AS merupakan yang terbesar jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Indonesia mengimpor 3,24 juta minyak mentah dari AS pada tahun 2025. Angka ini melonjak 414% ketimbang tahun sebelumnya yang hanya 630.000 barel minyak mentah.

Menurut data EIA AS, Indonesia mengimpor minyak mentah dari AS sejak tahun 2019. Berikut data impor minyak mentah Indonesia dari AS sejak tahun tersebut:

  • 2019: impor minyak mentah 1,32 juta barel
  • 2020: impor minyak mentah 5,25 juta barel
  • 2021: impor minyak mentah 1,4 juta barel
  • 2022: impor minyak mentah 1,72 juta barel
  • 2023: impor minyak mentah 6,69 juta barel
  • 2024: impor minyak mentah 0,63 juta barel
  • 2025: impor minyak mentah 3,24 juta barel

Selain Indonesia, persentase lonjakan penjualan minyak mentah AS terjadi di sejumlah negara. Negara-negara dengan persentase kenaikan penjualan minyak terbesar AS adalah:

  • Indonesia: 414,13% menjadi 3,24 juta barel
  • Uruguay: 388,51% menjadi 6,89 juta barel
  • Jepang: 357,51% menjadi 38,77 juta barel
  • Norwegia: 198,42% menjadi 7,76 juta barel
  • Vietnam: 160,95% menjadi 1,05 juta barel
  • Nigeria: 160,52% menjadi 41,13 juta barel
  • Peru: 132,07% menjadi 15,12 juta barel

Di sisi lain, penurunan impor paling tajam terjadi di China, dengan penurunan sebesar 70,91 juta barel atau 89,50% menjadi hanya 8,32 juta barel (2025) dari sebelumnya 79,23 juta barel (2024). 

Penurunan besar juga terjadi di Singapura 66,65 juta barel atau 74,55% menjadi hanya impor 22,75 juta barel (2025) dari sebelumnya 89,40 juta barel (2024).

Inggris juga mengurangi impor minyak mentah dari AS sebesar 37,47 juta barel atau 35,63% menjadi 67,7 juta barel (2025) dari sebelumnya 105,17 juta barel.

Penurunan drastis dari China menjadi sinyal penting. Selain faktor perlambatan ekonomi domestik, kebijakan perdagangan dan ketegangan geopolitik dengan AS berperan besar dalam mengurangi impor minyak mentah dari Negeri Paman Sam. China kemungkinan beralih ke pemasok alternatif seperti Rusia atau Timur Tengah yang menawarkan harga lebih kompetitif atau skema pembayaran yang lebih fleksibel.

Sementara itu, penurunan di Singapura sebagai pusat perdagangan minyak global mengindikasikan adanya perubahan arus distribusi regional. Bisa jadi sebagian perdagangan dialihkan langsung ke negara tujuan akhir tanpa melalui hub tersebut, atau adanya penyesuaian strategi logistik perusahaan energi global.

Kebijakan tarif AS turut memberi dampak terhadap pola perdagangan ini. Penetapan tarif, baik secara langsung pada energi maupun secara tidak langsung melalui kebijakan perdagangan yang lebih luas, menciptakan efek domino. Negara-negara yang memiliki hubungan dagang kurang harmonis dengan AS cenderung mengurangi ketergantungan dan mencari alternatif pasokan. Sebaliknya, negara yang memiliki hubungan strategis atau melihat peluang arbitrase harga justru meningkatkan impor.

Efek lainnya adalah fragmentasi pasar energi global. Alih-alih satu pasar yang terintegrasi, perdagangan minyak mentah kini semakin tersegmentasi berdasarkan blok geopolitik dan kepentingan ekonomi. Hal ini dapat meningkatkan volatilitas harga serta mengubah jalur distribusi energi dunia dalam jangka menengah.

Negara
2024
2025
Belanda
289.086,00
323.292,00
Korea
173.397,00
184.916,00
Kanada
142.206,00
139.722,00
India
81.122,00
114.660,00
Taiwan
81.203,00
79.277,00
Inggris
105.166,00
67.699,00
Spanyol
77.422,00
65.591,00
Thailand
39.529,00
53.826,00
Prancis
54.550,00
44.224,00
Nigeria
15.787,00
41.128,00
Jerman
48.592,00
40.481,00
Italia
48.329,00
39.263,00
Jepang
8.475,00
38.774,00
Brasil
19.172,00
25.533,00
Singapura
89.400,00
22.752,00
Malaysia
11.721,00
19.192,00
Swedia
17.448,00
17.683,00
Peru
6.514,00
15.117,00
Kolombia
9.380,00
13.773,00
Irlandia
12.300,00
12.868,00
Denmark
17.557,00
11.536,00
China
79.234,00
8.321,00
Australia
5.445,00
8.149,00
Republik Dominika
8.993,00
8.032,00
Norwegia
2.599,00
7.756,00
Afrika Selatan
3.997,00
7.525,00
Panama
19.113,00
7.477,00
Uruguay
1.410,00
6.888,00
Finlandia
5.136,00
6.602,00
Polandia
5.429,00
5.655,00
Nikaragua
3.898,00
4.459,00
Indonesia
630,00
3.239,00
Pakistan
0,00
3.140,00
Portugal
9.396,00
2.818,00
Turki
1.847,00
1.071,00
Vietnam
402,00
1.049,00

Infografik Terbaru

BI Rate Mei 2026 Naik 50 Bps Jadi 5,25% di Tengah Pelemahan Rupiah
Bank Indonesia | 20 Mei 2026
Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis points (bps) pada Mei 2026, lebih tinggi ketimbang prediksi pasar
Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
Cadangan Devisa Turun Dalam Empat Bulan Beruntun Hingga April 2026
Bank Indonesia | 09 Mei 2026
Cadangan devisa turun lagi menjadi US$ 146,2 miliar per April 2026. Ini adalah penurunan dalam empat bulan beruntun dan terendah sejak Agustus 2024
Neraca migas Indonesia terus defisit secara konsisten sejak tahun 2012 hingga Maret 2026
BPS | 06 Mei 2026
Neraca dagang Indonesia secara total terus mencatat surplus dalam 71 bulan hingga Maret 2026
Distribusi PDB Menurut Pengeluaran Q1-2026
BPS | 05 Mei 2026
Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin penggerak ekonomi dengan kontribusi 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Mencapai Level Tertinggi Sejak Kuartal IV-2022
BPS | 05 Mei 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY), naik dari 4,87% di kuartal I 2025
Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Kembali Surplus
BPS | 04 Mei 2026
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dibandingkan surplus US$ 1,27 miliar pada Februari 2026
Inflasi April 2026 Turun Menjadi 2,42% Secara Tahunan
BPS | 04 Mei 2026
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, terjadi inflasi 2,42% pada April 2026. Tingkat inflasi bulanan sebesar 0,13% dan year to date 1,06%
10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024
FAO | 29 April 2026
Produk komersial cokelat hasil laboratorium diperkirakan akan masuk pasar AS pada akhir 2026 atau 2027, memunculkan kekhawatiran bisnis kakao tradisional
Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI
BEI | 23 April 2026
Sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan sejak awal tahun. Penurunan terutama terjadi pada BREN dan DSSA
loading
Close [X]