Negara-Negara Pengimpor Minyak Mentah dari AS, Impor Indonesia Naik 414%
Perkembangan ekspor minyak mentah Amerika Serikat (AS) sepanjang 2024–2025 menunjukkan dinamika yang cukup tajam, baik dari sisi negara tujuan utama maupun perubahan pola perdagangan global.
Berdasarkan data terbaru, terdapat pergeseran signifikan pada beberapa mitra dagang utama, yang tidak hanya dipengaruhi faktor pasar, tetapi juga kebijakan perdagangan AS, termasuk penetapan tarif.
Menurut data Energy Information Administration (EIA), Amerika Serikat (AS) mengekspor total 1,45 miliar barel minyak mentah sepanjang tahun 2025 lalu. Total ekspor minyak AS ini turun 3,33% jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai 1,5 miliar barel.
Pada 2025, beberapa negara mencatat lonjakan impor minyak mentah dari AS. Peningkatan terbesar berasal dari Belanda, yang menambah impor sebesar 34,21 juta barel atau 11,83% menjadi 323,29 juta barel.
India mengikuti dengan kenaikan 33,54 juta barel atau 41,34% menjadi 114,66 juta barel. Kenaikan signifikan juga terjadi di Jepang sebesar 30,3 juta barel atau 357,51% menjadi 38,77 juta barel dan Nigeria sebesar 25,34 juta barel atau 160,52% menjadi 41,13 juta barel.
Kenaikan impor oleh Belanda mencerminkan perannya sebagai hub energi di Eropa, di mana sebagian besar minyak mentah tersebut kemungkinan besar didistribusikan kembali ke negara-negara Uni Eropa lainnya.
Sementara itu, lonjakan permintaan dari India menunjukkan strategi diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah. Jepang juga tampak meningkatkan pembelian sebagai bagian dari penyesuaian pasokan energi pasca fluktuasi geopolitik global.
Jika dilihat dari persentase, kenaikan impor minyak mentah Indonesia dari AS merupakan yang terbesar jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Indonesia mengimpor 3,24 juta minyak mentah dari AS pada tahun 2025. Angka ini melonjak 414% ketimbang tahun sebelumnya yang hanya 630.000 barel minyak mentah.
Menurut data EIA AS, Indonesia mengimpor minyak mentah dari AS sejak tahun 2019. Berikut data impor minyak mentah Indonesia dari AS sejak tahun tersebut:
Selain Indonesia, persentase lonjakan penjualan minyak mentah AS terjadi di sejumlah negara. Negara-negara dengan persentase kenaikan penjualan minyak terbesar AS adalah:
Di sisi lain, penurunan impor paling tajam terjadi di China, dengan penurunan sebesar 70,91 juta barel atau 89,50% menjadi hanya 8,32 juta barel (2025) dari sebelumnya 79,23 juta barel (2024).
Penurunan besar juga terjadi di Singapura 66,65 juta barel atau 74,55% menjadi hanya impor 22,75 juta barel (2025) dari sebelumnya 89,40 juta barel (2024).
Inggris juga mengurangi impor minyak mentah dari AS sebesar 37,47 juta barel atau 35,63% menjadi 67,7 juta barel (2025) dari sebelumnya 105,17 juta barel.
Penurunan drastis dari China menjadi sinyal penting. Selain faktor perlambatan ekonomi domestik, kebijakan perdagangan dan ketegangan geopolitik dengan AS berperan besar dalam mengurangi impor minyak mentah dari Negeri Paman Sam. China kemungkinan beralih ke pemasok alternatif seperti Rusia atau Timur Tengah yang menawarkan harga lebih kompetitif atau skema pembayaran yang lebih fleksibel.
Sementara itu, penurunan di Singapura sebagai pusat perdagangan minyak global mengindikasikan adanya perubahan arus distribusi regional. Bisa jadi sebagian perdagangan dialihkan langsung ke negara tujuan akhir tanpa melalui hub tersebut, atau adanya penyesuaian strategi logistik perusahaan energi global.
Kebijakan tarif AS turut memberi dampak terhadap pola perdagangan ini. Penetapan tarif, baik secara langsung pada energi maupun secara tidak langsung melalui kebijakan perdagangan yang lebih luas, menciptakan efek domino. Negara-negara yang memiliki hubungan dagang kurang harmonis dengan AS cenderung mengurangi ketergantungan dan mencari alternatif pasokan. Sebaliknya, negara yang memiliki hubungan strategis atau melihat peluang arbitrase harga justru meningkatkan impor.
Efek lainnya adalah fragmentasi pasar energi global. Alih-alih satu pasar yang terintegrasi, perdagangan minyak mentah kini semakin tersegmentasi berdasarkan blok geopolitik dan kepentingan ekonomi. Hal ini dapat meningkatkan volatilitas harga serta mengubah jalur distribusi energi dunia dalam jangka menengah.