Kepemilikan Bank Indonesia di Instrumen SBN Kembali Naik
Kepemilikan instrumen utang pemerintah oleh Bank Indonesia kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Data terbaru menunjukkan bank sentral memperbesar porsi kepemilikan Surat Berharga Negara, terutama sejak awal 2026, di tengah dinamika pasar keuangan global dan kebutuhan menjaga stabilitas pasar domestik di Indonesia.
Berdasarkan data kepemilikan SBN per investor, posisi Bank Indonesia sempat turun pada awal 2026 sebelum kembali melonjak tajam pada Februari.
Pada Desember 2025, kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia tercatat sekitar Rp1.641,66 triliun. Angka ini kemudian turun menjadi Rp1.560,47 triliun pada Januari 2026.
Namun pada bulan berikutnya terjadi lonjakan signifikan. Kepemilikan BI meningkat menjadi Rp1.647,27 triliun pada Februari 2026, atau naik sekitar Rp86,8 triliun dalam satu bulan. Pada 9 Maret 2026, kepemilikan tersebut masih berada di level tinggi yakni sekitar Rp1.625,06 triliun.
Kenaikan ini menjadikan Bank Indonesia kembali sebagai salah satu pemegang terbesar SBN di pasar domestik, bersama sektor perbankan dan investor institusi lainnya.
Secara keseluruhan, total outstanding SBN di pasar juga meningkat dari Rp6.568,81 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp6.746,55 triliun pada Februari 2026, dan kembali naik menjadi sekitar Rp6.773,55 triliun pada awal Maret 2026.
Bank masih menjadi investor terbesar
Di sisi lain, sektor perbankan tetap menjadi pemegang terbesar SBN di pasar domestik. Kepemilikan bank tercatat sekitar Rp1.453,83 triliun pada Januari 2026, kemudian berada di kisaran Rp1.390,26 triliun pada Februari dan Rp1.425,50 triliun pada awal Maret.
Investor asing juga masih memiliki porsi signifikan di pasar SBN, meskipun pergerakannya cenderung fluktuatif mengikuti dinamika global.
Mengapa Bank Indonesia menambah kepemilikan SBN?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa Bank Indonesia kembali meningkatkan kepemilikan SBN dalam beberapa bulan terakhir.
Pertama, stabilisasi pasar obligasi.?Kondisi pasar keuangan global yang masih bergejolak—dipengaruhi ketidakpastian suku bunga global dan tensi geopolitik—mendorong bank sentral untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik. Dengan membeli SBN, Bank Indonesia dapat menahan tekanan kenaikan yield yang terlalu tajam.
Kedua, operasi moneter untuk mengelola likuiditas.?Pembelian SBN juga menjadi bagian dari strategi operasi moneter. Bank sentral dapat menggunakan portofolio SBN sebagai instrumen dalam operasi pasar terbuka untuk mengatur likuiditas di sistem keuangan.
Ketiga, menjaga transmisi kebijakan moneter.?Pergerakan yield SBN memiliki pengaruh langsung terhadap suku bunga di pasar keuangan, termasuk suku bunga kredit. Dengan menjaga stabilitas pasar SBN, Bank Indonesia berupaya memastikan transmisi kebijakan moneter tetap berjalan efektif.
Keempat, mengantisipasi volatilitas aliran modal asing.?Kepemilikan asing di pasar obligasi Indonesia seringkali bergerak mengikuti sentimen global. Ketika terjadi tekanan keluar modal, peran bank sentral sebagai pembeli di pasar sekunder menjadi penting untuk menjaga stabilitas harga obligasi.
Peran strategis di tengah ketidakpastian global
Peningkatan kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia menunjukkan semakin aktifnya peran bank sentral dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Di tengah ketidakpastian global, langkah ini menjadi salah satu instrumen penting untuk menahan volatilitas di pasar obligasi sekaligus memastikan pembiayaan pemerintah tetap berjalan dengan stabil.
Dengan total outstanding SBN yang terus meningkat dan struktur investor yang beragam, peran Bank Indonesia sebagai penyeimbang pasar diperkirakan masih akan tetap penting dalam beberapa waktu ke depan.