1. Home
  2. Infografik

Kepemilikan SBN Per Maret 2026

Sumber: DJPPR Kemenkeu
Update : 11 Maret 2026

Kepemilikan Bank Indonesia di Instrumen SBN Kembali Naik

Kepemilikan instrumen utang pemerintah oleh Bank Indonesia kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Data terbaru menunjukkan bank sentral memperbesar porsi kepemilikan Surat Berharga Negara, terutama sejak awal 2026, di tengah dinamika pasar keuangan global dan kebutuhan menjaga stabilitas pasar domestik di Indonesia.

Berdasarkan data kepemilikan SBN per investor, posisi Bank Indonesia sempat turun pada awal 2026 sebelum kembali melonjak tajam pada Februari.

Pada Desember 2025, kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia tercatat sekitar Rp1.641,66 triliun. Angka ini kemudian turun menjadi Rp1.560,47 triliun pada Januari 2026.

Namun pada bulan berikutnya terjadi lonjakan signifikan. Kepemilikan BI meningkat menjadi Rp1.647,27 triliun pada Februari 2026, atau naik sekitar Rp86,8 triliun dalam satu bulan. Pada 9 Maret 2026, kepemilikan tersebut masih berada di level tinggi yakni sekitar Rp1.625,06 triliun.

Kenaikan ini menjadikan Bank Indonesia kembali sebagai salah satu pemegang terbesar SBN di pasar domestik, bersama sektor perbankan dan investor institusi lainnya.

Secara keseluruhan, total outstanding SBN di pasar juga meningkat dari Rp6.568,81 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp6.746,55 triliun pada Februari 2026, dan kembali naik menjadi sekitar Rp6.773,55 triliun pada awal Maret 2026.

Bank masih menjadi investor terbesar

Di sisi lain, sektor perbankan tetap menjadi pemegang terbesar SBN di pasar domestik. Kepemilikan bank tercatat sekitar Rp1.453,83 triliun pada Januari 2026, kemudian berada di kisaran Rp1.390,26 triliun pada Februari dan Rp1.425,50 triliun pada awal Maret.

Investor asing juga masih memiliki porsi signifikan di pasar SBN, meskipun pergerakannya cenderung fluktuatif mengikuti dinamika global.

Mengapa Bank Indonesia menambah kepemilikan SBN?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa Bank Indonesia kembali meningkatkan kepemilikan SBN dalam beberapa bulan terakhir.

Pertama, stabilisasi pasar obligasi.?Kondisi pasar keuangan global yang masih bergejolak—dipengaruhi ketidakpastian suku bunga global dan tensi geopolitik—mendorong bank sentral untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik. Dengan membeli SBN, Bank Indonesia dapat menahan tekanan kenaikan yield yang terlalu tajam.

Kedua, operasi moneter untuk mengelola likuiditas.?Pembelian SBN juga menjadi bagian dari strategi operasi moneter. Bank sentral dapat menggunakan portofolio SBN sebagai instrumen dalam operasi pasar terbuka untuk mengatur likuiditas di sistem keuangan.

Ketiga, menjaga transmisi kebijakan moneter.?Pergerakan yield SBN memiliki pengaruh langsung terhadap suku bunga di pasar keuangan, termasuk suku bunga kredit. Dengan menjaga stabilitas pasar SBN, Bank Indonesia berupaya memastikan transmisi kebijakan moneter tetap berjalan efektif.

Keempat, mengantisipasi volatilitas aliran modal asing.?Kepemilikan asing di pasar obligasi Indonesia seringkali bergerak mengikuti sentimen global. Ketika terjadi tekanan keluar modal, peran bank sentral sebagai pembeli di pasar sekunder menjadi penting untuk menjaga stabilitas harga obligasi.

Peran strategis di tengah ketidakpastian global

Peningkatan kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia menunjukkan semakin aktifnya peran bank sentral dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Di tengah ketidakpastian global, langkah ini menjadi salah satu instrumen penting untuk menahan volatilitas di pasar obligasi sekaligus memastikan pembiayaan pemerintah tetap berjalan dengan stabil.

Dengan total outstanding SBN yang terus meningkat dan struktur investor yang beragam, peran Bank Indonesia sebagai penyeimbang pasar diperkirakan masih akan tetap penting dalam beberapa waktu ke depan.

Institusi
Bank
Bank Indonesia
Reksadana
Asuransi dan Dana Pensiun
Asing
Individu
Lain-lain
Total
31 Desember 2024
1.051,40
1.618,01
186,99
1.145,27
876,64
542,50
618,71
6.039,52
31 Januari 2025
1.128,87
1.554,67
187,22
1.161,39
881,29
552,04
629,89
6.095,37
28 Februari 2025
1.207,05
1.519,60
186,37
1.171,62
890,15
576,61
638,94
6.190,33
27 Maret 2025
1.121,88
1.643,06
186,47
1.183,39
891,87
567,57
640,84
6.235,07
30 April 2025
1.132,07
1.644,82
190,42
1.189,89
899,66
568,25
641,57
6.266,67
28 Mei 2025
1.135,39
1.678,12
192,52
1.196,25
927,27
568,36
647,17
6.344,07
30 Juni 2025
1.199,96
1.592,47
182,75
1.198,85
918,68
587,11
629,44
6.309,27
31 Juli 2025
1.293,85
1.569,34
189,47
1.210,69
935,71
583,32
636,99
6.419,37
29 Agustus 2025
1.336,58
1.543,27
194,02
1.186,76
953,85
570,34
629,36
6.414,18
30 September 2025
1.374,34
1.554,32
203,34
1.215,35
908,09
559,62
641,31
6.456,36
31 Oktober 2025
1.408,46
1.538,92
220,24
1.232,76
878,09
548,52
639,71
6.466,71
28 November 2025
1.458,49
1.511,44
233,77
1.270,24
872,16
540,20
643,31
6.529,61
31 Desember 2025
1.328,64
1.641,66
242,96
1.290,67
878,65
537,33
648,90
6.568,81
30 Januari 2026
1.453,83
1.560,47
259,26
1.317,38
878,75
534,87
671,05
6.675,61
27 Februari 2026
1.390,26
1.647,27
263,57
1.331,65
875,36
547,18
691,25
6.746,55
9 Maret 2026
1.425,50
1.625,06
268,21
1.345,96
872,45
546,50
691,86
6.773,55

Infografik Terbaru

Kepemilikan Asing di SRBI Per April 2026 Meningkat, Outstanding Terbesar Sejak Desember 2024
Bank Indonesia | 02 Juni 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) melonjak jadi Rp 192,17 triliun pada April 2026 dari bulan sebelumnya yang hanya Rp 143,91 triliun
Surplus Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Sangat Tipis, Hanya US$ 89 Juta
BPS | 02 Juni 2026
Kenaikan ekspor yang disertai kenaikan impor lebih tinggi menyebabkan surplus perdagangan Indonesia makin sempit, hanya US$ 89 juta pada April 2026
Inflasi Mei 2026 Meningkat Menjadi 3,08% Secara Tahunan
BPS | 02 Juni 2026
Pada Mei 2026, terjadi inflasi year on year (YoY) sebesar 3,08%. Tingkat inflasi bulanan tercatat 0,28%
BI Rate Mei 2026 Naik 50 Bps Jadi 5,25% di Tengah Pelemahan Rupiah
Bank Indonesia | 20 Mei 2026
Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis points (bps) pada Mei 2026, lebih tinggi ketimbang prediksi pasar
Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
Cadangan Devisa Turun Dalam Empat Bulan Beruntun Hingga April 2026
Bank Indonesia | 09 Mei 2026
Cadangan devisa turun lagi menjadi US$ 146,2 miliar per April 2026. Ini adalah penurunan dalam empat bulan beruntun dan terendah sejak Agustus 2024
Neraca migas Indonesia terus defisit secara konsisten sejak tahun 2012 hingga Maret 2026
BPS | 06 Mei 2026
Neraca dagang Indonesia secara total terus mencatat surplus dalam 71 bulan hingga Maret 2026
Distribusi PDB Menurut Pengeluaran Q1-2026
BPS | 05 Mei 2026
Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin penggerak ekonomi dengan kontribusi 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Mencapai Level Tertinggi Sejak Kuartal IV-2022
BPS | 05 Mei 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY), naik dari 4,87% di kuartal I 2025
Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Kembali Surplus
BPS | 04 Mei 2026
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dibandingkan surplus US$ 1,27 miliar pada Februari 2026
loading
Close [X]