1. Home
  2. Infografik

Cadangan Devisa Februari 2026 Turun Dua Bulan Beruntun

Sumber: Bank Indonesia
Update : 11 Maret 2026

Cadangan Devisa Terus Menurun, Capai US$ 151,9 Miliar Pada Februari 2026

Bank Indoensia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa mencapai US$ 151,9 miliar pada Februari 2026, atau menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2026 sebesar US$ 154,6 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso membeberkan, penurunan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” tutur Denny dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).

Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, Denny membeberkan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tandasnya.

Penurunan cadangan devisa bisa berlanjut

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, meski menurun, kondisi cadangan devisa tersebut masih mencerminkan daya tahan Indonesia kuat untuk menghadapi gejolak jangka pendek, termasuk gangguan geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi cadangan devisa tersebut juga ukurannya masih setara 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sehingga jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Artinya, Indonesia masih memiliki bantalan yang memadai untuk menjaga kebutuhan impor, memenuhi kewajiban luar negeri pemerintah, dan meredam guncangan awal di pasar keuangan,” kata Josua kepada Kontan, Jumat (6/2/2926).

Meski demikian, ia menilai bantalan ini tidak tanpa batas, karena penurunan pada Februari 2026 sendiri sudah dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi rupiah, sementara kajian internal juga menilai cadangan devisa dalam jangka dekat masih berpotensi turun jika ketegangan geopolitik berlanjut.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah sangat berpotensi meningkat bila konflik yang berdampak pada Selat Hormuz berlangsung lama. Dalam simulasi yang ada, konflik berkepanjangan dapat mendorong harga minyak ke atas US$ 75-100 per barel, sedangkan gangguan Selat Hormuz dapat mendorongnya meningkat menjadi US$ 100-130 per barel.

“Dalam kondisi seperti itu, tekanan ke rupiah biasanya datang bersamaan dari naiknya kebutuhan devisa untuk impor energi, memburuknya sentimen pasar, dan potensi keluarnya aliran modal, sehingga BI cenderung lebih memprioritaskan stabilitas rupiah dan menggunakan cadangan devisa,” kata Josua.

Bahkan, ia memperkirakan, ruang penurunan suku bunga akan terbatas ketika rata-rata harga minyak mencapai US$ 75 per barel dan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 sekitar 16.750 per dolar AS, sementara kebijakan moneter dapat menjadi lebih ketat bila harga minyak mencapai rata-rata US$ 80 per barel dan rupiah mendekati 17.000 per dollar AS.

Lebih lanjut, Josua membeberkan, kenaikan harga minyak akibat gangguan jalur energi global juga memang dapat mendorong penurunan cadangan devisa Indonesia. Sebab, saat harga energi naik, nilai impor ikut membesar, surplus perdagangan tertekan, defisit transaksi berjalan berpotensi melebar, dan kebutuhan BI untuk menjaga rupiah ikut meningkat.

Hitungannya, bila rata-rata harga minyak dunia mencapai US$ 85 per barel tahun ini akibat konflik Timur Tengah yang menetap, defisit transaksi berjalan Indonesia dapat melebar sekitar 0,48 poin persentase. Risiko ini, lanjutnya, menjadi lebih penting karena surplus perdagangan Januari 2026 sudah turun menjadi 0,95 miliar dolar AS dan pertumbuhan impor sudah lebih cepat daripada ekspor.

“Jadi, jalur penurunan cadangan devisa dapat datang sekaligus dari membengkaknya tagihan impor energi dan dari penggunaan devisa untuk menstabilkan nilai tukar,” tandasnya.

Cadangan devisa bisa makin turun jika rupiah melemah

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai, tekanan terhadap nilai tukar rrupiah menjadi perhatian akibat sejumlah faktor seperti pelebaran defisit fiskal, penyesuaian outlook sovereign credit oleh beberapa lembaga pemeringkat global, serta kinerja ekspor yang berpotensi tertekan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dan kebutuhan intervensi yang lebih intensif untuk menjaga stabilitas rupiah,” tutur Banjaran kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp 16.670 hingga Rp16.770 per dollar AS pada akhir tahun 2026. Hal ini sejalan dengan perkiraan bahwa ketegangan geopolitik global akan mereda bertahap pada pertengahan tahun 2026.

“Oleh karena itu, penggunaan cadangan devisa untuk meredam tekanan nilai tukar berpotensi menyebabkan penurunan level cadangan devisa dalam jangka pendek,” tandasnya.

Reporter: Siti Masitoh

Periode
Cadangan Devisa
Desember-24
155,72
Januari-25
156,08
Februari-25
154,51
Maret-25
157,09
April-25
152,47
Mei-25
152,49
Juni-25
152,57
Juli-25
151,99
Agustus-25
150,71
September-25
148,74
Oktober-25
149,93
November-25
150,06
Desember-25
156,47
Januari-26
154,58
Februari-26
151,90

Infografik Terbaru

Inflasi Maret 2026 Mencapai 3,48% Secara Tahunan
BPS | 01 April 2026
Inflasi Indonesia pada Maret 2026 mencapai 3,48% secara tahunan dan 0,41% secara bulanan
Neraca Dagang Indonesia Februari 2026 Surplus US$ 1,27 Miliar
BPS | 01 April 2026
Kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada awal 2026, tetapi menunjukkan tanda perlambatan seiring lonjakan impor yang jauh lebih tinggi
Harga Emas Tumbang Dalam Beberapa Hari Karena Kekhawatiran Inflasi
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga emas tumbang dalam beberapa hari terakhir meski konflik AS-Israel versus Iran masih panas dalam tiga pekan. Harga emas turun karena kekhawatiran inflasi
Harga Minyak Dunia 23 Maret 2026
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga minyak masih menanjak naik sejak meletusnya perang AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026
Volume Transaksi QRIS Melesat Sejalan dengan Kenaikan Nilai Tranasksi
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Volume transaksi QRIS secara total menunjukkan lonjakan yang makin tajam sejak tahun 2024
Jumlah Pengguna QRIS Periode 2022-2025
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Laju pertumbuhan jumlah pengguna QRIS mulai melambat, ditunjukkan oleh grafik yang mulai mendatar sejak 2024
Nilai Transaksi QRIS Terus Melejit Hingga Akhir 2025
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Nilai transaksi dengan menggunakan QRIS terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Pada kuartal keempat 2025, nilai transaksi bahkan mencapai Rp 170 triliun
Defisit Anggaran 2026 Diprediksi Tembus 3%, Pemerintah Rencanakan Efisiensi K/L
Kementerian Keuangan | 20 Maret 2026
Defisit anggaran tahun 2026 diprediksikan akan melewati ketentuan 3% dari PDB. Pemerintah berniat menempuh jalur efisiensi anggaran K/L
10 Negara Pengekspor Minyak Mentah Terbesar ke AS
U.S. Energy Information Administration | 20 Maret 2026
Total impor minyak mentah AS di tahun 2025 mencapai 2,25 miliar barel, turun 6,61% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2,41 miliar barel
Negara-Negara Pengimpor Minyak Mentah AS 2024-2025
US. Energy Information Administration | 19 Maret 2026
Amerika Serikat (AS) mengekspor 1,45 miliar barel minyak mentah pada tahun 2025, turun dari 1,5 miliar barel tahun sebelumnya
loading
Close [X]