Outstanding SRBI Naik Rp 100 Triliun Dalam Dua Bulan
Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kembali menunjukkan peningkatan minat dari pelaku pasar. Dalam beberapa bulan terakhir, total outstanding SRBI tercatat naik berturut-turut, didorong oleh peningkatan penempatan dana oleh perbankan serta kembalinya minat investor asing.
SRBI merupakan instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia untuk menyerap likuiditas di pasar sekaligus menarik aliran modal ke pasar keuangan domestik di Indonesia.
Berdasarkan data terbaru, total outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia mencapai Rp837,22 triliun pada Februari 2026. Angka ini meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp754,76 triliun pada Januari 2026.
Jika ditarik ke belakang, kenaikan ini melanjutkan tren peningkatan yang terjadi sejak akhir 2025. Outstanding SRBI tercatat:
Dengan demikian, dalam dua bulan pertama tahun ini saja, nilai SRBI yang beredar telah bertambah lebih dari Rp106 triliun.
Kenaikan tersebut mencerminkan semakin besarnya penempatan dana di instrumen moneter Bank Indonesia, di tengah kondisi pasar keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian.
Perbankan masih menjadi pemegang terbesar
Dari sisi kepemilikan, perbankan domestik masih mendominasi SRBI. Pada Februari 2026, bank tercatat memegang sekitar Rp637,64 triliun, atau lebih dari 76% dari total outstanding.
Porsi bank yang besar menunjukkan bahwa instrumen ini menjadi salah satu pilihan utama bagi perbankan untuk menempatkan likuiditas jangka pendek dengan risiko yang sangat rendah. Selain memberikan imbal hasil yang menarik, SRBI juga relatif likuid dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Kepemilikan bank tersebut meningkat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat sekitar Rp614,78 triliun.
Investor asing kembali meningkatkan eksposur
Selain perbankan, peningkatan juga terlihat pada investor asing. Kepemilikan asing pada SRBI naik cukup signifikan dari Rp121,90 triliun pada Januari 2026 menjadi Rp150,79 triliun pada Februari 2026.
Kenaikan hampir Rp29 triliun dalam satu bulan ini menandakan minat investor global terhadap aset rupiah kembali meningkat. Imbal hasil SRBI yang relatif kompetitif dibandingkan instrumen negara lain menjadi salah satu faktor penarik, terutama di tengah dinamika suku bunga global.
Namun demikian, posisi investor asing masih jauh di bawah kepemilikan perbankan domestik. Porsi asing di SRBI pada Februari 2026 berada di kisaran 18% dari total outstanding.
Instrumen pengelola likuiditas sekaligus penarik modal
Meningkatnya outstanding SRBI menunjukkan bahwa instrumen ini semakin penting dalam kerangka kebijakan moneter Bank Indonesia. Di satu sisi, SRBI membantu menyerap kelebihan likuiditas di sistem keuangan domestik. Di sisi lain, instrumen ini juga berperan sebagai sarana untuk menarik aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Dengan dominasi perbankan domestik dan meningkatnya partisipasi investor asing, SRBI menjadi salah satu instrumen kunci dalam menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung efektivitas transmisi kebijakan moneter.