1. Home
  2. Infografik

Harga SBN acuan tenor 5 tahun FR0109 dan 10 tahun FR0108 turun

Sumber: Bloomberg
Update : 23 Januari 2026

Harga SBN Acuan Tertekan di Awal 2026

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) dibuka dengan tekanan pada awal 2026. Dua seri acuan, yakni SBN acuan tenor 5 tahun seri FR0109 dan tenor 10 tahun seri FR0108, mencatatkan penurunan harga yang cukup terasa sepanjang Januari 2026.

Pelemahan ini terjadi di tengah kombinasi faktor eksternal dan domestik. Tak cuma SBN, nilai tukar rupiah pun sempat menyentuh level paling lemah sepanjang masa di level Rp 16.956 per dolar AS.

Penurunan harga SBN tersebut sekaligus mencerminkan kenaikan imbal hasil (yield), yang menandakan investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi untuk memegang surat utang rupiah tenor menengah hingga panjang.

Yield FR0109 tenor 5 tahun naik dari 5,47% di akhir 2025 menjadi 5,74% pada 23 Januari 2025. Pada periode yang sama, yield FR0108 tenor 10 tahun naik dari 6,08% menjadi 6,34%.

Ini adalah level tertinggi yield FR0108 sejak akhir September 2025. Salah satu pemicu utama pelemahan harga FR0109 dan FR0108 adalah melemahnya nilai tukar rupiah. Sepanjang Januari 2026, rupiah bergerak di level yang semakin dekat dengan Rp 17.000 per dolar AS, menciptakan kekhawatiran baru di pasar keuangan domestik.

Bagi investor, khususnya investor asing, pelemahan rupiah meningkatkan risiko nilai tukar (currency risk). Meski imbal hasil SBN relatif menarik, potensi kerugian akibat depresiasi rupiah membuat sebagian investor memilih bersikap defensif. Dampaknya, permintaan terhadap SBN menurun dan harga pun tertekan.

Kondisi ini terlihat jelas pada seri acuan seperti FR0109 dan FR0108 yang likuid dan sensitif terhadap perubahan sentimen pasar. Saat investor melepas kepemilikan, tekanan jual langsung tercermin pada penurunan harga.

Ketegangan Global Memperburuk Sentimen

Dari sisi global, ketegangan ekonomi internasional masih menjadi bayang-bayang besar di awal 2026. Ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju, tensi geopolitik yang belum mereda, serta perlambatan ekonomi global mendorong investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk obligasi negara emerging market seperti Indonesia.

Dalam situasi global yang tidak kondusif, aset berdenominasi dolar AS kembali menjadi tujuan utama. Arus modal yang mengalir keluar dari pasar keuangan domestik turut menekan rupiah dan memperbesar tekanan di pasar SBN.

Penurunan harga FR0109 dan FR0108 memiliki beberapa implikasi penting. Bagi pasar, kenaikan yield SBN berpotensi menular ke instrumen keuangan lain, termasuk suku bunga kredit dan biaya pendanaan secara umum. Jika berlanjut, kondisi ini dapat memperketat likuiditas dan menahan laju ekspansi ekonomi.

Sementara bagi pemerintah, kenaikan imbal hasil SBN berarti biaya pembiayaan utang menjadi lebih mahal, terutama jika tekanan pasar berlangsung dalam jangka waktu lama. Hal ini menuntut pengelolaan utang yang lebih hati-hati, termasuk strategi penerbitan SBN yang adaptif terhadap dinamika pasar.

Ke depan, pergerakan harga SBN acuan seperti FR0109 dan FR0108 akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan arah sentimen global. Upaya menjaga kepercayaan pasar melalui bauran kebijakan moneter dan fiskal yang kredibel menjadi kunci untuk meredam volatilitas.

Jika tekanan global mereda dan rupiah kembali stabil, peluang pemulihan harga SBN tetap terbuka. Namun selama ketidakpastian masih tinggi, pasar obligasi domestik kemungkinan akan tetap bergerak hati-hati, dengan volatilitas yang relatif tinggi.

Tanggal
FR0108 (10 tahun)
FR0109 (5 tahun)
7/31/2025
99,80
100,24
8/1/2025
99,73
100,13
8/4/2025
99,99
100,09
8/5/2025
100,06
100,61
8/6/2025
100,01
100,65
8/7/2025
100,22
100,52
8/8/2025
100,41
100,55
8/11/2025
100,21
100,75
8/12/2025
100,22
101,02
8/13/2025
100,47
101,19
8/14/2025
100,93
100,92
8/15/2025
100,75
100,64
8/19/2025
100,59
100,89
8/20/2025
100,76
100,74
8/21/2025
101,32
100,75
8/22/2025
101,21
100,62
8/25/2025
101,30
100,49
8/26/2025
101,39
100,68
8/27/2025
101,45
101,08
8/28/2025
101,54
101,25
8/29/2025
101,12
101,44
9/1/2025
100,78
101,57
9/2/2025
101,13
101,85
9/3/2025
101,04
102,60
9/4/2025
101,08
102,68
9/8/2025
101,06
102,51
9/9/2025
100,68
102,54
9/10/2025
100,74
102,21
9/11/2025
101,07
101,99
9/12/2025
101,13
101,90
9/15/2025
101,55
102,17
9/16/2025
101,58
102,00
9/17/2025
101,89
102,09
9/18/2025
102,20
102,22
9/19/2025
102,08
102,30
9/22/2025
101,92
102,34
9/23/2025
101,76
102,39
9/24/2025
101,48
102,42
9/25/2025
101,23
102,41
9/26/2025
101,17
102,41
9/29/2025
101,27
102,43
9/30/2025
101,22
102,51
10/1/2025
101,44
102,56
10/2/2025
101,59
102,59
10/3/2025
101,73
102,57
10/6/2025
101,86
102,55
10/7/2025
102,19
102,60
10/8/2025
102,55
102,54
10/9/2025
102,87
102,43
10/10/2025
103,05
102,49
10/13/2025
103,08
102,36
10/14/2025
103,15
102,35
10/15/2025
103,53
102,36
10/16/2025
104,41
102,21
10/17/2025
104,54
102,05
10/20/2025
104,46
101,66
10/21/2025
104,55
101,68
10/22/2025
104,47
101,62
10/23/2025
104,26
101,59
10/24/2025
104,38
101,79
10/27/2025
104,24
101,85
10/28/2025
104,30
102,01
10/29/2025
104,37
102,15
10/30/2025
104,07
102,18
10/31/2025
103,81
102,11
11/3/2025
103,07
102,13
11/4/2025
103,17
102,03
11/5/2025
103,13
101,55
11/6/2025
103,08
101,25
11/14/2025
103,54
101,24
11/19/2025
103,37
101,07
11/20/2025
103,25
100,94
11/21/2025
103,06
100,61
11/24/2025
102,75
100,63
11/25/2025
102,56
100,90
11/26/2025
102,34
101,46
12/1/2025
101,85
101,54
12/2/2025
101,93
101,38
12/3/2025
102,28
101,46
12/4/2025
102,41
101,45
12/5/2025
102,44
101,52
12/10/2025
102,47
101,59
12/12/2025
102,82
101,49
12/15/2025
102,76
101,50
12/16/2025
102,72
101,54
12/17/2025
102,81
101,58
12/18/2025
102,74
101,54
12/19/2025
102,78
101,57
12/22/2025
102,72
101,61
12/23/2025
102,79
101,64
12/24/2025
102,77
101,60
12/29/2025
102,84
101,67
12/30/2025
102,96
101,71
12/31/2025
103,15
101,82
1/2/2026
103,34
101,94
1/5/2026
103,23
101,95
1/6/2026
103,17
101,86
1/7/2026
103,12
101,82
1/8/2026
102,94
101,73
1/9/2026
102,89
101,67
1/12/2026
102,50
101,40
1/13/2026
102,37
101,31
1/14/2026
102,08
101,23
1/15/2026
101,97
101,12
1/19/2026
101,63
100,80
1/20/2026
101,41
100,74
1/21/2026
101,36
100,70
1/22/2026
101,31
100,75
1/23/2026
101,14
100,58

Infografik Terbaru

DSSA dan BREN Memimpin Top Laggards IHSG 22 April 2026
Bloomberg | 22 April 2026
Meski mayoritas saham menguat, penurunan saham big cap seperti DSSA dan BREN menekan IHSG turun 0,24% ke 7.541,61
BI Rate April 2026 Tetap di Posisi 4,75%
Bank Indonesia | 22 April 2026
Bank Indonesia menahan suku bunga di angka 4,75% pada April 2026. Ini adalah posisi yang sama dalam delapan bulan berturut-turut
Saham-Saham Top Leaders IHSG 21 April 2026
Bloomberg | 21 April 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah di hari kedua berturut-turut. IHSG melorot 34,73 poin atau 0,46% menjadi 7.559,38 pada Selasa (21/4)
Saham Top Laggards IHSG 20 April 2026
Bloomberg | 20 April 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot di awal pekan ini. Senin (20/4), IHSG melorot 39,89 poin atau 0,52% menjadi 7.594,11 pada perdagangan di BEI
Anggaran Kementerian Pertahanan
Riset KONTAN, Kementerian Pertahanan | 17 April 2026
Anggaran Kementerian Pertahanan terus meningkat untuk kebutuhan peralatan pertahanan dan personel
Ukraina Jadi Importir Senjata Dengan Pangsa Pasar Terbesar, Terutama dari AS
Stockholm International Peace Research Institute | 15 April 2026
Perang Ukraina vs Rusia mengerek impor senjata Ukraina yang awalnya hanya 0,1% dari total impor global jadi 9,7%. Impor senjata Ukraina terutama berasal dari AS
Perang di Berbagai Belahan Dunia, AS Mendominasi Pangsa Pasar Senjata
Stockholm International Peace Research Institute | 15 April 2026
Ekspor senjata Amerika Serikat (AS) naik 27% dari periode 2016-2020 ke 2021-2025 menyebabkan pangsa pasarnya meningkat dari 36% menjadi 42%
Oustanding SRBI Kembali Tembus Lebih dari Rp 800 Triliun
Bank Indonesia | 14 April 2026
Frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang meningkat mulai Februari 2026 menyebabkan oustanding SRBI kembali melonjak
Imbal Hasil Naik Saat BI Menambah Frekuensi Lelang SRBI
Bank Indonesia | 14 April 2026
Bank Indonesia menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dua kali sepekan mulai Februari 2026
Dana Kelolaan Reksadana Turun pada Maret 2026
OJK | 10 April 2026
Total dana kelolaan industri reksadana turun menjadi Rp 699,65 triliun per Maret 2026 di tengah kenaikan unit penyertaan
loading
Close [X]