Kepemilikan Asing SRBI Melonjak di Akhir 2025, Sinyal Kembalinya Minat Investor Global
Kepemilikan asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menunjukkan peningkatan signifikan pada Desember 2025, setelah sempat tertekan hampir sepanjang paruh kedua tahun lalu.
Data menunjukkan, porsi kepemilikan asing naik dari Rp 86,66 triliun pada November 2025 menjadi Rp 114,05 triliun pada Desember 2025, atau melonjak sekitar Rp 27,39 triliun dalam satu bulan.
Kenaikan ini terjadi di tengah total outstanding SRBI yang juga meningkat dari Rp 723,23 triliun menjadi Rp 730,90 triliun. Artinya, kenaikan kepemilikan asing bukan sekadar efek penurunan porsi investor domestik, melainkan mencerminkan arus dana baru (fresh inflow) ke pasar SRBI.
Berbalik Arah Setelah Tren Penurunan Panjang
Sepanjang 2025, kepemilikan asing di SRBI cenderung melemah. Pada awal tahun, investor asing masih menguasai di kisaran Rp 230–238 triliun (Januari–Maret 2025). Namun memasuki semester II, angkanya terus turun hingga mencapai titik terendah di Oktober–November 2025, yang berada di bawah Rp 90 triliun.
Lonjakan pada Desember 2025 menandai perubahan arah yang cukup tajam, sekaligus menjadi salah satu kenaikan bulanan terbesar sepanjang tahun.
Apa yang Mendorong Kenaikan Kepemilikan Asing?
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan menguatnya minat investor asing terhadap SRBI di akhir 2025:
1. Daya tarik imbal hasil SRBI
Dengan suku bunga domestik yang masih relatif tinggi dan volatilitas global yang mulai mereda, SRBI kembali menarik sebagai instrumen jangka pendek dengan imbal hasil kompetitif.
2. Persepsi stabilitas kebijakan moneter
Konsistensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas rupiah meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap aset berbasis rupiah.
3. Strategi parkir dana jangka pendek
SRBI kerap digunakan investor global sebagai instrumen penempatan dana sementara (liquidity parking), terutama ketika ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang tetapi risiko di emerging market mulai lebih terukur.
Karena SRBI adalah instrumen jangka pendek, kepemilikan asing di dalamnya relatif sensitif terhadap perubahan sentimen global. Arus masuk yang besar juga berpotensi berbalik cepat jika kondisi eksternal memburuk.