Industri reksadana Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang kuat hingga akhir 2025. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis Kamis (8/1), total dana kelolaan reksadana pada Desember 2025 mencapai Rp 679,24 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan Desember 2024 yang sebesar Rp 502,92 triliun, atau tumbuh sekitar 35,1% secara year on year (YoY).
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap produk investasi reksadana tetap terjaga, meski sepanjang 2025 perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian.
Berdasarkan data Infovesta Utama, reksadana saham mencetak return tertinggi dibanding reksadana jenis lainnya, yakni 20,84% sepanjang tahun 2025. Berikutnya, reksadana campuran mencatat return 14,92%, reksadana pendapatan tetap membukukan return 7,17% dan reksadana pasar uang memiliki return 4,73%.
Jika dirinci, sepuluh produk reksadana saham terbaik membukukan return 125,70% sampai 232,13%.
Berkaca pada tahun 2025, Direktur Investasi PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Stefanus Winarto melihat reksadana yang memiliki return paling tinggi adalah reksadana saham. Berdasarkan salah satu data reksadana yang dipasarkan di platform Makmur, return reksadana saham tertinggi di 2025 mencapai 56,82% yang didukung tren saham konglomerasi dan meningkatnya minat investor terhadap sejumlah saham IPO.
Sementara itu, di platform Makmur terdapat pula reksadana campuran yang mampu mencatat return 48,12%, jauh lebih tinggi dibandingkan kinerja IHSG di 2025 sebesar 22,13%.
“Memasuki 2026, momentum positif ini berpotensi masih berlanjut,” ucap Stefanus kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).
Meski ketidakpastian geopolitik global tetap tinggi, Stefanus menilai sentimen terhadap saham konglomerasi dan sektor metal mining berpotensi masih menjadi faktor pendukung pasar saham domestik. Kondisi ini tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik signifikan hingga menyentuh all-time-high pada 7 Januari 2026.
“Dalam kondisi pasar saham yang bullish seperti saat ini, reksadana saham dan reksadana campuran menjadi pilihan menarik untuk dicermati, karena berpotensi memberikan return optimal dari momentum domestik yang positif," ucap Stefanus.
Adapun, untuk meminimalisir risiko, Stefanus menyebut alokasi reksadana pendapatan tetap (RDPT) tetap perlu dipertahankan untuk meredam volatilitas jangka pendek dan stabilitas portofolio.
Sementara itu, Freddy Tedja, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai bahwa reksadana saham dan reksadana obligasi bisa menjadi pilihan yang menarik bagi para investor. Alasannya, prospek ekonomi domestik yang berpeluang membaik dibanding tahun 2025 bisa membangkitkan minat investor terhadap aset saham. Sementara iklim tingkat suku bunga rendah di 2026 tetap potensial untuk pasar obligasi.
Meski begitu, Freddy berharap bahwa investor tetap berinvestasi sesuai tujuan investasi dan profil risikonya masing-masing agar fluktuasi yang terjadi di pasar tidak membuat investor mengambil keputusan secara impulsif dan terburu-buru. Selain itu MAMI tetap menyarankan agar diversifikasi investasi tetap dilakukan untuk mengelola risiko pasar.
Sejalan dengan dinamisnya kondisi pasar finansial ke depan dipengaruhi berbagai tantangan di pasar global maupun domestik, Freddy menilai strategi diversifikasi kelas aset tetap menjadi opsi yang ideal. Kelas aset obligasi masih punya potensi untuk melanjutkan pertumbuhan yang apik sementara kelas aset saham menawarkan peluang menarik setelah tertekan cukup lama imbas dari ketidakpastian di pasar sejauh ini.
“Kami kembali mengingatkan agar para investor berinvestasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi agar mereka bisa berinvestasi dengan nyaman dan menikmati fluktuasi pasar yang terjadi sebagai bagian dari perjalanan mencapai financial goal yang mereka impikan,” jelas Freddy.
Reporter: Vendy Susanto