1. Home
  2. Infografik

Return Reksadana 2025

Sumber: Infovesta Utama
Update : 08 Januari 2026

Industri reksadana Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang kuat hingga akhir 2025. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis Kamis (8/1), total dana kelolaan reksadana pada Desember 2025 mencapai Rp 679,24 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan Desember 2024 yang sebesar Rp 502,92 triliun, atau tumbuh sekitar 35,1% secara year on year (YoY).

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap produk investasi reksadana tetap terjaga, meski sepanjang 2025 perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian.

Berdasarkan data Infovesta Utama, reksadana saham mencetak return tertinggi dibanding reksadana jenis lainnya, yakni 20,84% sepanjang tahun 2025. Berikutnya, reksadana campuran mencatat return 14,92%, reksadana pendapatan tetap membukukan return 7,17% dan reksadana pasar uang memiliki return 4,73%.

Jika dirinci, sepuluh produk reksadana saham terbaik membukukan return 125,70% sampai 232,13%.    

Berkaca pada tahun 2025, Direktur Investasi PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Stefanus Winarto melihat reksadana yang memiliki return paling tinggi adalah reksadana saham. Berdasarkan salah satu data reksadana yang dipasarkan di platform Makmur, return reksadana saham tertinggi di 2025 mencapai 56,82% yang didukung tren saham konglomerasi dan meningkatnya minat investor terhadap sejumlah saham IPO. 

Sementara itu, di platform Makmur terdapat pula reksadana campuran yang mampu mencatat return 48,12%, jauh lebih tinggi dibandingkan kinerja IHSG di 2025 sebesar 22,13%. 

“Memasuki 2026, momentum positif ini berpotensi masih berlanjut,” ucap Stefanus kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).  

Meski ketidakpastian geopolitik global tetap tinggi, Stefanus menilai sentimen terhadap saham konglomerasi dan sektor metal mining berpotensi masih menjadi faktor pendukung pasar saham domestik. Kondisi ini tercermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik signifikan hingga menyentuh all-time-high pada 7 Januari 2026. 

“Dalam kondisi pasar saham yang bullish seperti saat ini, reksadana saham dan reksadana campuran menjadi pilihan menarik untuk dicermati, karena berpotensi memberikan return optimal dari momentum domestik yang positif," ucap Stefanus.

Adapun, untuk meminimalisir risiko, Stefanus menyebut alokasi reksadana pendapatan tetap (RDPT) tetap perlu dipertahankan untuk meredam volatilitas jangka pendek dan stabilitas portofolio.

Sementara itu, Freddy Tedja, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai bahwa reksadana saham dan reksadana obligasi bisa menjadi pilihan yang menarik bagi para investor. Alasannya, prospek ekonomi domestik yang berpeluang membaik dibanding tahun 2025 bisa membangkitkan minat investor terhadap aset saham. Sementara iklim tingkat suku bunga rendah di 2026 tetap potensial untuk pasar obligasi. 

Meski begitu, Freddy berharap bahwa investor tetap berinvestasi sesuai tujuan investasi dan profil risikonya masing-masing agar fluktuasi yang terjadi di pasar tidak membuat investor mengambil keputusan secara impulsif dan terburu-buru. Selain itu MAMI tetap menyarankan agar diversifikasi investasi tetap dilakukan untuk mengelola risiko pasar. 

Sejalan dengan dinamisnya kondisi pasar finansial ke depan dipengaruhi berbagai tantangan di pasar global maupun domestik, Freddy menilai strategi diversifikasi kelas aset tetap menjadi opsi yang ideal. Kelas aset obligasi masih punya potensi untuk melanjutkan pertumbuhan yang apik sementara kelas aset saham menawarkan peluang menarik setelah tertekan cukup lama imbas dari ketidakpastian di pasar sejauh ini. 

“Kami kembali mengingatkan agar para investor berinvestasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi agar mereka bisa berinvestasi dengan nyaman dan menikmati fluktuasi pasar yang terjadi sebagai bagian dari perjalanan mencapai financial goal yang mereka impikan,” jelas Freddy.

Reporter: Vendy Susanto

Jenis Reksadana
Return 2025
Reksadana Saham
20,84
Reksadana Campuran
14,92
Reksadana Pendapatan Tetap
7,17
Reksadana Pasar Uang
4,73

Infografik Terbaru

CEO Index Oktober 2026 Naik Tipis, Ekonomi Global dan Kondisi Politik Jadi Penghambat
Survei Kontan | 05 Oktober 2026
Indeks Keyakinan CEO Indonesia (ICCI) periode kuartal IV-2026 berada di level 3,18. Para CEO menyoroti dua isu utama, yakni politik nasional dan ekonomi global
Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus Karena Penurunan Impor
BPS | 01 Oktober 2026
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus hanya US$121,9 juta pada Juli 2026
Inflasi Tahunan Naik Menjadi 3,28% pada September 2026
BPS | 01 Oktober 2026
Laju inflasi meningkat menjadi 3,28% pada September 2026 dari posisi Agustus yang berada di 3,19%
Bank Indonesia (BI) Menahan BI Rate di Angka 5,75% pada September 2026
Bank Indonesia | 23 September 2026
Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate di angka 5,75%. BI Rate bertahan sejak Juni 2026 setelah BI mengerek suku bunga 100 bps dua bulan beruntun
Hasil Lelang SRBI Tahun 2026, Yield Mulai Turun pada Bulan Agustus
Bank Indonesia | 10 September 2026
Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menurun setelah berada di atas 7% sejak Juni 2026
Kepemilikan Asing di SRBI Tembus Rekor Tertinggi pada Agustus 2026
Bank Indonesia | 10 September 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai angka tertinggi sejak penerbitan perdana SRBI September 2023
Dana Kelolaan Reksadana Agustus 2026
OJK | 08 September 2026
Dana kelolaan reksadana naik tipis pada Agustus 2026, berbalik dari penurunan tiga bulan sebelumnya. Tetapi unit penyertaan reksadana turun 5 bulan beruntun
Kepemilikan SBN per 4 September 2026 Asing Tertinggi Setahun Terakhir
DJPPR Kemenkeu | 08 September 2026
Investor asing mulai kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Ini terlihat dari dari kepemilikan asing yang naik 3 bulan beruntun
Cadangan Devisa Agustus 2026
Bank Indonesia | 07 September 2026
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 146,51 miliar pada Agustus 2026 ketimbang Juli yang sebesar US$ 145,34 miliar
Inflasi Agustus 2026 Naik Menjadi 3,19%
BPS | 01 September 2026
Inflasi tahunan mencapai 3,59% pada Agustus 2026, meningkat dari 2,88% pada Juli 2026
loading
Close [X]