Dana Kelolaan Reksadana Tumbuh 35% Secara Tahunan, Investor Makin Aktif di Tengah Tantangan Global
Industri reksadana Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang kuat hingga akhir 2025. Berdasarkan data terbaru, total dana kelolaan reksadana pada Desember 2025 mencapai Rp 679,24 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan Desember 2024 yang sebesar Rp 502,92 triliun, atau tumbuh sekitar 35,1% secara year on year (YoY).
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap produk investasi reksadana tetap terjaga, meski sepanjang 2025 perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian.
Reksadana Pendapatan Tetap Masih Jawara
Adapun reksadana pendapatan tetap masih menjadi reksadana dengan total dana kelolaan terbesar, yakni Rp 244,45 triliun. Selain dana kelolaan terbesar, reksadana yang berbasis surat utang ini pun mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 66,94% secara tahunan jika dibandingkan dengan reksadana pasar uang, saham, maupun campuran.
Kinerja ini didukung oleh imbal hasil obligasi yang relatif menarik serta ekspektasi stabilisasi arah suku bunga ke depan.
Pertumbuhan reksadana pendapatan tetap hanya kalah oleh reksadana syariah yang melonjak 70,13% dari Desember 2024 ke Desember 2025. Tetapi nominal dana kelolaan reksadana syariah ini hanya Rp 9,51 triliun pada akhir tahun lalu.
Reksadana pasar uang mencatat kinerja terbesar setelah reksadana pendapatan tetap, yakni 60,03% sepanjang 2025. Total dana kelolaan reksadana pasar uang mencapai Rp 144,84 triliun pada akhir Desember 2024.
Kenaikan ini menegaskan kecenderungan investor untuk memilih instrumen yang lebih aman dan likuid.
Di tengah suku bunga global yang masih tinggi dan fluktuasi nilai tukar, reksadana pasar uang menjadi “tempat parkir dana” favorit sambil menunggu momentum pasar yang lebih kondusif.
Dana kelolaan reksadana global pun meningkat pesat. Asset under management (AUM) reksadana global meningkat 25,27% menjadi Rp 15,12 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 12,07 triliun.
Sementara AUM reksadana saham hanya naik tipis 0,08% sepanjang tahun 2025 menjadi Rp 76,62 triliun dari akhir tahun 2024 yang sebesar Rp 76,56 triliun.
Aset saham yang bergejolak sepanjang tahun lalu menyebabkan AUM reksadana sempat turun dari awal tahun hingga Maret 2025. Setelah itu, AUM reksadana saham merangkak naik menjadi sedikit lebih tinggi ketimbang awal 2024.