Hanya Reksa Dana Terproteksi dan Global yang Tumbuh pada Juni 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reksa dana masih menghadapi tekanan pada Juni 2026. Di tengah penurunan total dana kelolaan industri, hanya dua jenis reksa dana yang mampu mencatat pertumbuhan aset kelolaan, yakni reksa dana terproteksi dan reksa dana global.
Data menunjukkan dana kelolaan reksa dana terproteksi meningkat dari Rp 143,64 triliun pada Mei 2026 menjadi Rp 148,26 triliun pada Juni 2026. Dengan demikian, aset kelolaan produk ini bertambah Rp 4,62 triliun atau sekitar 3,2% secara bulanan (month on month/mom).
Kinerja yang lebih mencolok dicatat oleh reksa dana global. Dana kelolaan kategori ini melonjak dari Rp 15,76 triliun pada Mei menjadi Rp 21,05 triliun pada Juni 2026. Kenaikan sebesar Rp 5,29 triliun tersebut setara dengan pertumbuhan 33,6% dalam satu bulan.
Sebaliknya, seluruh kategori reksa dana lainnya mengalami penurunan dana kelolaan. Reksa dana pendapatan tetap, yang merupakan kategori dengan aset terbesar, mencatat penurunan paling dalam secara nominal. Dana kelolaannya turun dari Rp 240,75 triliun menjadi Rp 223,77 triliun atau berkurang Rp 16,98 triliun dalam sebulan.
Tekanan juga terlihat pada reksa dana pasar uang yang dana kelolaannya menyusut dari Rp 152,53 triliun menjadi Rp 136,16 triliun. Penurunan sebesar Rp 16,37 triliun tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menekan total aset industri pada Juni 2026.
Sementara itu, dana kelolaan reksa dana saham turun dari Rp 67,85 triliun menjadi Rp 62,45 triliun. Reksa dana campuran juga melemah dari Rp 35,71 triliun menjadi Rp 33,69 triliun. Adapun reksa dana indeks turun dari Rp 9,55 triliun menjadi Rp 8,82 triliun, sedangkan exchange traded fund (ETF) berkurang dari Rp 16,63 triliun menjadi Rp 16,02 triliun.
Penurunan juga terjadi pada reksa dana syariah yang aset kelolaannya turun dari Rp 7,30 triliun menjadi Rp 6,64 triliun pada Juni 2026.
Jika dilihat sejak awal tahun, reksa dana terproteksi menjadi salah satu kategori dengan kinerja paling stabil. Dana kelolaannya terus meningkat dari Rp 137,44 triliun pada Januari menjadi Rp 148,26 triliun pada Juni 2026. Tren ini menunjukkan investor masih mencari instrumen yang menawarkan perlindungan pokok investasi dan tingkat risiko yang relatif lebih terukur di tengah volatilitas pasar keuangan.
Sementara itu, lonjakan dana kelolaan reksa dana global pada Juni mengindikasikan meningkatnya minat investor untuk melakukan diversifikasi ke aset luar negeri. Ketidakpastian di pasar domestik serta peluang investasi pada pasar global yang lebih menarik diduga menjadi faktor yang mendorong aliran dana ke kategori ini.
Secara keseluruhan, data Juni 2026 menunjukkan investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih defensif dan memiliki potensi diversifikasi yang lebih baik. Hal itu tercermin dari pertumbuhan reksa dana terproteksi dan reksa dana global di tengah pelemahan hampir seluruh kategori reksa dana lainnya.
Jika untuk kebutuhan media, artikel ini juga bisa diperkaya dengan kutipan pengamat yang menjelaskan mengapa investor beralih ke reksa dana terproteksi dan global di tengah koreksi pasar saham dan obligasi domestik.