Dana Kelolaan Reksa Dana Menyusut pada Semester I-2026, Turun 7% hingga Juni
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reksa dana menghadapi tekanan pada paruh pertama tahun 2026. Setelah sempat mencetak rekor dana kelolaan pada awal tahun, total aset kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana terus mengalami penurunan hingga Juni 2026.
Data menunjukkan total dana kelolaan reksa dana pada Januari 2026 mencapai Rp 706,37 triliun. Nilai tersebut bahkan meningkat menjadi Rp 717,55 triliun pada Februari 2026, yang menjadi posisi tertinggi sepanjang semester pertama tahun ini.
Namun, tren berbalik arah mulai Maret 2026. Dana kelolaan turun menjadi Rp 699,65 triliun, kemudian relatif stagnan pada April di level Rp 700,29 triliun. Penurunan kembali berlanjut pada Mei menjadi Rp 689,72 triliun dan semakin dalam pada Juni 2026 menjadi Rp 656,87 triliun.
Jika dibandingkan dengan posisi Januari 2026, total dana kelolaan reksa dana pada Juni 2026 telah menyusut Rp 49,5 triliun atau sekitar 7,0%. Sementara jika dibandingkan dengan puncaknya pada Februari 2026, penurunan mencapai Rp 60,68 triliun atau 8,46%.
Penurunan dana kelolaan tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah unit penyertaan yang dimiliki investor. Pada Januari 2026, total unit penyertaan tercatat sebanyak 509,64 miliar unit. Angka tersebut sempat meningkat menjadi 522,64 miliar unit pada Februari dan mencapai puncak 524,62 miliar unit pada Maret 2026.
Setelah itu, jumlah unit penyertaan mulai menyusut. Pada April tercatat 523,47 miliar unit, turun menjadi 520,28 miliar unit pada Mei, dan kembali merosot menjadi 506,96 miliar unit pada Juni 2026.
Dibandingkan posisi awal tahun, jumlah unit penyertaan hingga Juni turun sekitar 2,68 miliar unit atau 0,53%. Sementara dibandingkan posisi tertinggi pada Maret 2026, penurunannya mencapai 17,66 miliar unit atau sekitar 3,37%.
Data tersebut menunjukkan bahwa pelemahan industri reksa dana pada semester I-2026 tidak hanya dipengaruhi oleh penurunan nilai aset akibat fluktuasi pasar, tetapi juga disertai berkurangnya kepemilikan unit penyertaan investor. Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan ganda, yakni penurunan nilai portofolio investasi sekaligus berkurangnya aliran dana masuk ke produk reksa dana.
Meski demikian, total dana kelolaan reksa dana pada Juni 2026 masih berada di atas level yang tercatat pada pertengahan 2025. Pada Juni 2025, total dana kelolaan industri reksa dana masih berada di kisaran Rp 513,93 triliun dengan unit penyertaan sebanyak 396,34 miliar unit.
Penurunan dana kelolaan reksa dana sepanjang semester I-2026 diperkirakan dipengaruhi oleh kombinasi faktor pasar dan perilaku investor. Dari sisi pasar, kinerja pasar saham domestik yang masih berfluktuasi pada paruh pertama tahun ini menekan nilai portofolio reksa dana saham dan reksa dana campuran.
Koreksi harga saham menyebabkan nilai aktiva bersih (NAB) sejumlah produk investasi mengalami penurunan sehingga berdampak langsung pada total aset kelolaan industri.
Selain itu, pasar obligasi juga menghadapi tekanan akibat masih tingginya ketidakpastian global. Pergerakan imbal hasil (yield) surat utang yang cenderung naik membuat harga obligasi bergerak melemah. Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja reksa dana pendapatan tetap yang selama ini menjadi salah satu kontributor terbesar dana kelolaan industri.
Dari sisi investor, berkurangnya jumlah unit penyertaan mengindikasikan adanya aksi pencairan dana (redemption) yang lebih besar dibandingkan pembelian baru. Sebagian investor kemungkinan memilih memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik, seperti deposito perbankan maupun Surat Berharga Negara (SBN).
Data menunjukkan penurunan dana kelolaan berlangsung lebih cepat dibandingkan penyusutan unit penyertaan. Hingga Juni 2026, dana kelolaan turun sekitar 7% dibandingkan awal tahun, sedangkan unit penyertaan hanya berkurang sekitar 0,5%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penurunan nilai aset akibat pelemahan pasar menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan arus keluar dana investor.
Meski demikian, besarnya dana kelolaan yang masih berada di atas Rp 650 triliun menunjukkan industri reksa dana tetap memiliki basis investor yang kuat. Ke depan, arah pergerakan pasar saham, pasar obligasi, serta tren suku bunga akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah industri reksa dana dapat kembali mencatat pertumbuhan pada paruh kedua tahun 2026.