1. Home
  2. Infografik

Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI

Sumber: BEI
Update : 23 April 2026

Market Cap Saham Big Caps Susut, Euforia Pasar Saham Mereda?

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kapitalisasi pasar 10 emiten terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan signifikan sejak akhir 2025 hingga 23 April 2026. Penurunan ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur valuasi pasar saham domestik, terutama pada saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps).

Menurut data BEI, tidak ada perubahan penghuni 10 saham dengan nilai kapitalisasi pasar atau market cap terbesar. Hanya peringkat yang berganti posisi.

Secara total, 10 saham dengan market cap terbesar BEI memiliki market cap Rp 6.498 triliun pada akhir 2025. Total market cap 10 saham ini berkontribusi 41% dari total market cap BEI yang mencapai Rp 15.849 triliun.

Pada 23 April 2026, market cap 10 saham terbesar turun menjadi Rp 4.854 triliun. Porsi market cap 10 emiten terbesar ini turun menjadi 36,83% dari total market cap BEI yang sebesar Rp 13.180 triliun. Artinya, ada pergeseran porsi market cap di saham-saham di bawahnya.

Dalam hampir empat bulan, market cap 10 saham ini susut 25,30%. Penurunannya bahkan mencapai Rp 1.644 triliun.

Pada akhir 2025, peta kapitalisasi pasar masih didominasi oleh emiten energi dan perbankan. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 1.298 triliun, diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 985 triliun dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 778 triliun.

Namun, memasuki kuartal II-2026, mayoritas emiten tersebut mengalami koreksi nilai pasar.

Koreksi Kapitalisasi: Efek High Shareholding Concentration (HSC)?

Berdasarkan data per 23 April 2026, penurunan paling dalam terjadi pada saham berbasis energi dan konglomerasi sumber daya:

  • BREN: turun 49,15% (Rp 1.298 triliun → Rp 660 triliun)?
  • DSSA: turun 44,34% (Rp 778 triliun → Rp 433 triliun)?
  • BYAN: turun 22,56% (Rp 523 triliun → Rp 405 triliun)

Penurunan tajam ini menandai berakhirnya fase euforia saham energi yang sebelumnya didorong oleh lonjakan harga komoditas dan narasi transisi energi serta kejayaan saham-saham konglomerasi. Pada 2025, saham energi bahkan mendominasi posisi puncak kapitalisasi pasar BEI.

Namun, valuasi tinggi yang tidak sepenuhnya diimbangi fundamental jangka panjang membuat sektor ini menjadi yang paling rentan terhadap aksi ambil untung (profit taking) dan koreksi.

Baru-baru ini, BEI juga mencermati saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC. Pengumuman MSCI mengenai posisi saham dari Indonesia yang tidak berubah juga menyebabkan investor meninggalkan saham-saham yang sebelumnya masuk indeks tersebut seperti BREN dan DSSA.

Perbankan Ikut Terkoreksi, Sinyal Tekanan Makro

Tidak hanya saham energi, sektor perbankan sebagai tulang punggung kapitalisasi pasar juga mengalami penurunan:

*  BBCA: turun 20,41%

*  BBRI: turun 13,66%

*  BMRI: turun 9,13%

Padahal, bank-bank besar sebelumnya menjadi penopang utama pasar saham Indonesia karena fundamental yang kuat dan dominasi investor institusi.

Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan yang lebih luas, termasuk potensi arus keluar dana asing dan perubahan persepsi risiko terhadap pasar berkembang. Secara historis, saham perbankan sering menjadi indikator awal perubahan sentimen makro di pasar saham domestik.

Saham Teknologi dan Infrastruktur Relatif Tahan

Di tengah tekanan luas, beberapa saham menunjukkan ketahanan relatif. Kapitalisasi pasar PT DCI Indonesia Tbk (DCII) hanya mencatat penurunan tipis sebesar 0,63% menjadi Rp 474 triliun.

Stabilitas ini mencerminkan kuatnya prospek sektor data center yang masih didorong oleh pertumbuhan kebutuhan digital dan kecerdasan buatan (AI). Secara sektoral, saham berbasis teknologi cenderung lebih defensif dibandingkan komoditas dalam fase normalisasi pasar.

Sementara itu, saham-saham seperti:

*  TLKM: turun 17,39%

*  AMMN: turun 18,67%

*  TPIA: turun 12,21%

mengalami penurunan moderat. Kelompok ini berada di tengah antara saham defensif dan saham berbasis siklus, sehingga tetap terdampak koreksi pasar namun tidak sedalam saham energi.

Pergeseran Struktur Pasar

Secara keseluruhan, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran struktur kapitalisasi pasar di BEI:

1. Dari euforia ke normalisasi valuasi:?Saham dengan valuasi tinggi mengalami koreksi paling dalam.

2. Rotasi sektor:?Investor mulai berpindah dari saham berbasis cerita (story stocks) ke saham dengan fundamental lebih stabil.

3. Tekanan sistemik:?Koreksi tidak terbatas pada satu sektor, tetapi meluas ke hampir seluruh saham big caps.

Saham
Market Cap Des 2025 (Rp triliun)
Market Cap 23 Apr 2026 (Rp triliun)
BBCA
985,00
784,00
BREN
1.298,00
660,00
TPIA
606,00
532,00
DCII
477,00
474,00
BBRI
549,00
474,00
DSSA
778,00
433,00
BMRI
471,00
428,00
BYAN
523,00
405,00
AMMN
466,00
379,00
TLKM
345,00
285,00

Infografik Terbaru

Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
Cadangan Devisa Turun Dalam Empat Bulan Beruntun Hingga April 2026
Bank Indonesia | 09 Mei 2026
Cadangan devisa turun lagi menjadi US$ 146,2 miliar per April 2026. Ini adalah penurunan dalam empat bulan beruntun dan terendah sejak Agustus 2024
Neraca migas Indonesia terus defisit secara konsisten sejak tahun 2012 hingga Maret 2026
BPS | 06 Mei 2026
Neraca dagang Indonesia secara total terus mencatat surplus dalam 71 bulan hingga Maret 2026
Distribusi PDB Menurut Pengeluaran Q1-2026
BPS | 05 Mei 2026
Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin penggerak ekonomi dengan kontribusi 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Mencapai Level Tertinggi Sejak Kuartal IV-2022
BPS | 05 Mei 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY), naik dari 4,87% di kuartal I 2025
Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Kembali Surplus
BPS | 04 Mei 2026
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dibandingkan surplus US$ 1,27 miliar pada Februari 2026
Inflasi April 2026 Turun Menjadi 2,42% Secara Tahunan
BPS | 04 Mei 2026
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, terjadi inflasi 2,42% pada April 2026. Tingkat inflasi bulanan sebesar 0,13% dan year to date 1,06%
10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024
FAO | 29 April 2026
Produk komersial cokelat hasil laboratorium diperkirakan akan masuk pasar AS pada akhir 2026 atau 2027, memunculkan kekhawatiran bisnis kakao tradisional
Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI
BEI | 23 April 2026
Sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan sejak awal tahun. Penurunan terutama terjadi pada BREN dan DSSA
DSSA dan BREN Memimpin Top Laggards IHSG 22 April 2026
Bloomberg | 22 April 2026
Meski mayoritas saham menguat, penurunan saham big cap seperti DSSA dan BREN menekan IHSG turun 0,24% ke 7.541,61
loading
Close [X]