1. Home
  2. Infografik

10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024

Sumber: FAO
Update : 29 April 2026

Dominasi Afrika Masih Kuat, Indonesia Bertahan di Posisi Dua Produsen Kakao Dunia

Produksi kakao global pada 2024 masih didominasi negara-negara Afrika Barat, dengan Pantai Gading memimpin jauh di atas negara lain. Berdasarkan data terbaru, negara tersebut mencatat produksi sekitar 1,89 juta ton, mempertegas posisinya sebagai tulang punggung pasokan kakao dunia.

Di posisi kedua, Indonesia menghasilkan sekitar 632 ribu ton kakao, menjadikannya produsen terbesar di Asia sekaligus pemain penting dalam rantai pasok global. Sementara itu, Ghana berada di peringkat ketiga dengan produksi sekitar 530 ribu ton, diikuti Ekuador (403 ribu ton) dan Nigeria (350 ribu ton).

Komposisi ini menunjukkan ketergantungan tinggi industri cokelat global terhadap wilayah Afrika Barat, yang selama ini menghadapi tantangan struktural seperti perubahan iklim, penyakit tanaman, serta fluktuasi harga komoditas.

Struktur Produksi yang Rentan

Ketergantungan pada segelintir negara produsen menciptakan risiko pasokan yang tidak kecil. Gangguan cuaca ekstrem atau penurunan produktivitas di Pantai Gading dan Ghana, misalnya, langsung berdampak pada harga kakao global.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga kakao bahkan sempat melonjak akibat kombinasi gagal panen dan gangguan distribusi. Kondisi ini membuka ruang bagi inovasi teknologi untuk masuk dan mengubah lanskap industri.

Ancaman (dan Peluang) dari Lab-Grown Chocolate

Salah satu inovasi yang mulai mendapat perhatian adalah lab-grown chocolate—produk cokelat yang dibuat melalui rekayasa sel atau fermentasi tanpa bergantung sepenuhnya pada biji kakao tradisional.

Jika teknologi ini mulai digunakan secara komersial pada akhir tahun ini atau tahun depan, dampaknya bisa signifikan:

1. Tekanan Harga Kakao Global

Produksi cokelat berbasis laboratorium berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan baku kakao. Jika skala produksinya meningkat, permintaan biji kakao bisa melemah, sehingga:

  •  Harga kakao berpotensi turun dalam jangka menengah
  •  Negara produsen seperti Pantai Gading, Ghana, dan Indonesia menghadapi risiko penurunan pendapatan ekspor

2. Disrupsi Rantai Pasok

Industri cokelat tradisional selama ini melibatkan rantai panjang: petani, pedagang, hingga manufaktur. Lab-grown chocolate berpotensi:

  •  Memotong rantai pasok
  •  Menggeser nilai tambah dari negara produsen ke perusahaan teknologi pangan

3. Peluang Diversifikasi bagi Indonesia

Bagi Indonesia, situasinya tidak sepenuhnya negatif. Sebagai produsen besar sekaligus pasar berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk:

  •  Masuk ke industri pengolahan kakao bernilai tambah tinggi
  •  Mengembangkan teknologi pangan berbasis fermentasi atau bioteknologi
  •  Mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah

4. Isu Keberlanjutan dan ESG

Lab-grown chocolate sering diposisikan sebagai solusi ramah lingkungan:

  •  Mengurangi deforestasi akibat perluasan lahan kakao
  •  Menekan emisi karbon dari pertanian tradisional

Namun, ini juga menjadi tekanan bagi industri kakao konvensional untuk meningkatkan praktik keberlanjutan.

Masa Depan Industri Kakao

Dalam jangka pendek, kakao alami masih akan mendominasi karena faktor rasa, preferensi konsumen, dan keterbatasan skala teknologi baru. Namun dalam jangka panjang, kemunculan lab-grown chocolate bisa menjadi titik balik—mirip dengan disrupsi yang terjadi di industri daging oleh plant-based dan cultured meat.

Bagi negara produsen seperti Indonesia, kuncinya bukan sekadar mempertahankan produksi, tetapi bertransformasi ke arah hilirisasi dan inovasi. Tanpa itu, posisi sebagai produsen besar bisa tergerus oleh perubahan teknologi yang datang lebih cepat dari perkiraan.

Negara
Produksi (ton)
Pantai Gading
1.890.442,00
Indonesia
632.702,00
Ghana
530.000,00
Ekuador
403.698,83
Nigeria
350.000,00
Kamerun
320.000,00
Brasil
297.509,00
Peru
157.252,50
Sierra Leone
93.749,60
Kolombia
67.678,00

Infografik Terbaru

Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
Cadangan Devisa Turun Dalam Empat Bulan Beruntun Hingga April 2026
Bank Indonesia | 09 Mei 2026
Cadangan devisa turun lagi menjadi US$ 146,2 miliar per April 2026. Ini adalah penurunan dalam empat bulan beruntun dan terendah sejak Agustus 2024
Neraca migas Indonesia terus defisit secara konsisten sejak tahun 2012 hingga Maret 2026
BPS | 06 Mei 2026
Neraca dagang Indonesia secara total terus mencatat surplus dalam 71 bulan hingga Maret 2026
Distribusi PDB Menurut Pengeluaran Q1-2026
BPS | 05 Mei 2026
Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin penggerak ekonomi dengan kontribusi 54,36% terhadap produk domestik bruto (PDB)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Mencapai Level Tertinggi Sejak Kuartal IV-2022
BPS | 05 Mei 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year (YoY), naik dari 4,87% di kuartal I 2025
Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Kembali Surplus
BPS | 04 Mei 2026
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, meningkat dibandingkan surplus US$ 1,27 miliar pada Februari 2026
Inflasi April 2026 Turun Menjadi 2,42% Secara Tahunan
BPS | 04 Mei 2026
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, terjadi inflasi 2,42% pada April 2026. Tingkat inflasi bulanan sebesar 0,13% dan year to date 1,06%
10 Negara Produsen Kakao Terbesar 2024
FAO | 29 April 2026
Produk komersial cokelat hasil laboratorium diperkirakan akan masuk pasar AS pada akhir 2026 atau 2027, memunculkan kekhawatiran bisnis kakao tradisional
Kinerja Jeblok 10 Saham Dengan Market Cap Terbesar di BEI
BEI | 23 April 2026
Sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan sejak awal tahun. Penurunan terutama terjadi pada BREN dan DSSA
DSSA dan BREN Memimpin Top Laggards IHSG 22 April 2026
Bloomberg | 22 April 2026
Meski mayoritas saham menguat, penurunan saham big cap seperti DSSA dan BREN menekan IHSG turun 0,24% ke 7.541,61
loading
Close [X]