1. Home
  2. Infografik

Surplus Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Sangat Tipis, Hanya US$ 89 Juta

Sumber: BPS
Update : 02 Juni 2026

Surplus Perdagangan RI Kian Menipis, Lonjakan Impor Jadi Tekanan Utama

Surplus neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut hingga April 2026. Namun, besarnya surplus semakin menipis seiring laju impor yang tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 25,30 miliar, sementara impor mencapai US$ 25,21 miliar. Dengan demikian, surplus perdagangan pada April hanya sekitar US$ 90 juta, jauh lebih kecil dibandingkan rata-rata surplus bulanan beberapa tahun terakhir. 

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia Januari–April 2026 masih mencatat surplus US$ 5,64 miliar. Surplus tersebut berasal dari surplus perdagangan nonmigas sebesar US$ 14,16 miliar, sedangkan sektor migas masih mengalami defisit US$ 8,52 miliar. 

Impor Melonjak Lebih Cepat

Penyempitan surplus terutama dipicu oleh lonjakan impor yang tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Sepanjang Januari–April 2026, nilai impor Indonesia mencapai US$ 86,51 miliar atau naik 13,40% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara ekspor hanya tumbuh 5,48% menjadi US$ 92,15 miliar.  

Pada April 2026 saja, impor melonjak 22,49% secara tahunan menjadi US$ 25,21 miliar. Kenaikan impor terutama berasal dari impor migas yang melesat 82,52% menjadi US$ 4,60 miliar. 

Lonjakan impor migas didorong kenaikan impor hasil minyak dan minyak mentah. Nilai impor hasil minyak naik 87,76% menjadi US$ 3,51 miliar, sedangkan impor minyak mentah naik 67,49% menjadi US$ 1,09 miliar. 

Selain energi, impor bahan baku dan barang modal juga meningkat signifikan. BPS mencatat impor bahan baku/penolong naik 11,67% menjadi US$ 61,82 miliar selama Januari–April 2026. Sementara impor barang modal naik 19,02% menjadi US$ 17,11 miliar. 

Kondisi ini menunjukkan aktivitas industri domestik masih ekspansif, namun di sisi lain meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan.

Ekspor Masih Bertahan

Di tengah lonjakan impor, kinerja ekspor Indonesia sebenarnya masih cukup solid, terutama ditopang sektor manufaktur dan hilirisasi.

Nilai ekspor nonmigas Januari–April 2026 mencapai US$ 87,74 miliar atau naik 6,28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Kontributor terbesar ekspor berasal dari industri pengolahan yang tumbuh 9,78% menjadi US$ 75,57 miliar. Perannya kini mencapai 82,01% dari total ekspor nasional. 

Komoditas dengan kenaikan ekspor terbesar adalah lemak dan minyak hewani/nabati yang naik US$ 1,87 miliar atau 18,80%. Selain itu, ekspor nikel dan produk turunannya melonjak 63,99% menjadi US$ 4,30 miliar. 

Di sisi pasar tujuan, Tiongkok masih menjadi tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan nilai US$ 22,76 miliar atau berkontribusi 25,93% terhadap total ekspor nonmigas. Amerika Serikat dan India masing-masing menyumbang US$ 10,17 miliar dan US$ 6,14 miliar. 

Alarm bagi Ketahanan Eksternal

Meski surplus perdagangan masih bertahan, penyusutan surplus menjadi sinyal bahwa ketahanan eksternal Indonesia mulai menghadapi tekanan.

Selama beberapa tahun terakhir, surplus perdagangan menjadi bantalan penting bagi stabilitas rupiah dan cadangan devisa. Namun ketika impor tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor, ruang surplus otomatis menyempit.

Tekanan terbesar datang dari sektor energi. Defisit migas yang mencapai US$ 8,52 miliar menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih sangat tinggi. 

Di sisi lain, ekspor komoditas tambang mulai kehilangan momentum. Ekspor bahan bakar mineral selama Januari–April 2026 turun 3,54% dibandingkan tahun lalu. Ekspor sektor pertambangan dan lainnya juga turun 8,44%, terutama akibat melemahnya ekspor batubara.  

Ke depan, keberlanjutan surplus perdagangan akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga daya saing ekspor manufaktur dan mengurangi ketergantungan impor energi.

Jika tren impor terus meningkat tanpa diimbangi akselerasi ekspor, surplus perdagangan Indonesia berpotensi semakin tipis pada bulan-bulan berikutnya.

Ekspor
Impor
Neraca Dagang
Desember-24
23,46
21,22
2,24
Januari-25
21,43
17,94
3,49
Februari-25
21,94
18,85
3,09
Maret-25
23,25
18,92
4,33
April-25
20,74
20,58
0,16
Mei-25
24,61
20,31
4,30
Juni-25
23,44
19,33
4,11
Juli-25
24,75
20,57
4,17
Agustus-25
24,96
19,47
5,49
September-25
24,68
20,34
4,34
Oktober-25
24,24
21,84
2,39
November-25
22,52
19,86
2,66
Desember-25
26,35
23,83
2,51
Januari-26
22,16
21,20
0,95
Februari-26
22,17
20,89
1,27
Maret-26
22,53
19,21
3,32
April-26
25,30
25,21
0,09

Infografik Terbaru

Rekor! BI Menggenggam SBN Rp 2.000 Triliun
DJPPR Kemenkeu | 18 Juni 2026
Kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia tembus rekor baru, mencapai Rp 2.044 triliun per 17 Juni 2026
BI Rate Naik 25 Basis Points Menjadi 5,75% pada Juni 2026
Bank Indonesia | 18 Juni 2026
Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan BI Rate 25 basis points menjadi 5,75% pada RDG 18 Juni 2026
Outstanding SRBI Mencapai Rekor Tertinggi pada Mei 2026
Bank Indonesia | 11 Juni 2026
Total outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai rekor tertinggi sebesar Rp 679,88 triliun pada Mei 2026
Bank Indonesia Kembali Menaikkan BI Rate pada Juni 2026 Sebesar 25 Bps Menjadi 5,50%
Bank Indonesia | 09 Juni 2026
Dalam rapat dewan gubernur (RDG) 9 Juni yang lebih cepat daripada jadwal semula 17 Juni, Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50%
Cadangan Devisa Mei 2026 Turun Jadi US$ 144,9 Miliar
Bank Indonesia | 08 Juni 2026
Cadangan devisa per Mei 2026 turun menjadi US$ 144,9 miliar dari US$ 146,2 miliar bulan sebelumnya. Ini adalah cadev terendah sejak Juli 2024
Kepemilikan Asing di SRBI Per April 2026 Meningkat, Outstanding Terbesar Sejak Desember 2024
Bank Indonesia | 02 Juni 2026
Kepemilikan asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) melonjak jadi Rp 192,17 triliun pada April 2026 dari bulan sebelumnya yang hanya Rp 143,91 triliun
Surplus Neraca Dagang Indonesia Maret 2026 Sangat Tipis, Hanya US$ 89 Juta
BPS | 02 Juni 2026
Kenaikan ekspor yang disertai kenaikan impor lebih tinggi menyebabkan surplus perdagangan Indonesia makin sempit, hanya US$ 89 juta pada April 2026
Inflasi Mei 2026 Meningkat Menjadi 3,08% Secara Tahunan
BPS | 02 Juni 2026
Pada Mei 2026, terjadi inflasi year on year (YoY) sebesar 3,08%. Tingkat inflasi bulanan tercatat 0,28%
BI Rate Mei 2026 Naik 50 Bps Jadi 5,25% di Tengah Pelemahan Rupiah
Bank Indonesia | 20 Mei 2026
Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis points (bps) pada Mei 2026, lebih tinggi ketimbang prediksi pasar
Nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan sejak awal tahun hingga Mei 2026
Bloomberg | 09 Mei 2026
Nilai tukar rupiah semakin tertekan dan berkali-kali menembus level paling lemah sepanjang masa baru
loading
Close [X]