Surplus Perdagangan RI Kian Menipis, Lonjakan Impor Jadi Tekanan Utama
Surplus neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut hingga April 2026. Namun, besarnya surplus semakin menipis seiring laju impor yang tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 25,30 miliar, sementara impor mencapai US$ 25,21 miliar. Dengan demikian, surplus perdagangan pada April hanya sekitar US$ 90 juta, jauh lebih kecil dibandingkan rata-rata surplus bulanan beberapa tahun terakhir.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia Januari–April 2026 masih mencatat surplus US$ 5,64 miliar. Surplus tersebut berasal dari surplus perdagangan nonmigas sebesar US$ 14,16 miliar, sedangkan sektor migas masih mengalami defisit US$ 8,52 miliar.
Impor Melonjak Lebih Cepat
Penyempitan surplus terutama dipicu oleh lonjakan impor yang tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.
Sepanjang Januari–April 2026, nilai impor Indonesia mencapai US$ 86,51 miliar atau naik 13,40% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara ekspor hanya tumbuh 5,48% menjadi US$ 92,15 miliar.
Pada April 2026 saja, impor melonjak 22,49% secara tahunan menjadi US$ 25,21 miliar. Kenaikan impor terutama berasal dari impor migas yang melesat 82,52% menjadi US$ 4,60 miliar.
Lonjakan impor migas didorong kenaikan impor hasil minyak dan minyak mentah. Nilai impor hasil minyak naik 87,76% menjadi US$ 3,51 miliar, sedangkan impor minyak mentah naik 67,49% menjadi US$ 1,09 miliar.
Selain energi, impor bahan baku dan barang modal juga meningkat signifikan. BPS mencatat impor bahan baku/penolong naik 11,67% menjadi US$ 61,82 miliar selama Januari–April 2026. Sementara impor barang modal naik 19,02% menjadi US$ 17,11 miliar.
Kondisi ini menunjukkan aktivitas industri domestik masih ekspansif, namun di sisi lain meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan.
Ekspor Masih Bertahan
Di tengah lonjakan impor, kinerja ekspor Indonesia sebenarnya masih cukup solid, terutama ditopang sektor manufaktur dan hilirisasi.
Nilai ekspor nonmigas Januari–April 2026 mencapai US$ 87,74 miliar atau naik 6,28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kontributor terbesar ekspor berasal dari industri pengolahan yang tumbuh 9,78% menjadi US$ 75,57 miliar. Perannya kini mencapai 82,01% dari total ekspor nasional.
Komoditas dengan kenaikan ekspor terbesar adalah lemak dan minyak hewani/nabati yang naik US$ 1,87 miliar atau 18,80%. Selain itu, ekspor nikel dan produk turunannya melonjak 63,99% menjadi US$ 4,30 miliar.
Di sisi pasar tujuan, Tiongkok masih menjadi tujuan ekspor terbesar Indonesia dengan nilai US$ 22,76 miliar atau berkontribusi 25,93% terhadap total ekspor nonmigas. Amerika Serikat dan India masing-masing menyumbang US$ 10,17 miliar dan US$ 6,14 miliar.
Alarm bagi Ketahanan Eksternal
Meski surplus perdagangan masih bertahan, penyusutan surplus menjadi sinyal bahwa ketahanan eksternal Indonesia mulai menghadapi tekanan.
Selama beberapa tahun terakhir, surplus perdagangan menjadi bantalan penting bagi stabilitas rupiah dan cadangan devisa. Namun ketika impor tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor, ruang surplus otomatis menyempit.
Tekanan terbesar datang dari sektor energi. Defisit migas yang mencapai US$ 8,52 miliar menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih sangat tinggi.
Di sisi lain, ekspor komoditas tambang mulai kehilangan momentum. Ekspor bahan bakar mineral selama Januari–April 2026 turun 3,54% dibandingkan tahun lalu. Ekspor sektor pertambangan dan lainnya juga turun 8,44%, terutama akibat melemahnya ekspor batubara.
Ke depan, keberlanjutan surplus perdagangan akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga daya saing ekspor manufaktur dan mengurangi ketergantungan impor energi.
Jika tren impor terus meningkat tanpa diimbangi akselerasi ekspor, surplus perdagangan Indonesia berpotensi semakin tipis pada bulan-bulan berikutnya.