Anatomi Pasar Saham (9 Feb 2026): Big Cap Banks Gembos, Jejak Pemodal di Mid-Small

Selasa, 10 Februari 2026 | 05:03 WIB
Diperbarui Selasa, 10 Februari 2026 | 05:05 WIB
Anatomi Pasar Saham (9 Feb 2026): Big Cap Banks Gembos, Jejak Pemodal di Mid-Small
ILUSTRASI. Bedah aliran dana asing di perbankan dan munculnya hidden gems dengan CSI sempurna di sektor menengah-kecil pada 9 Februari 2026.? (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Hasbi Maulana | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - Pasar saham Indonesia pada 9 Februari 2026 mencatatkan total perputaran likuiditas sebesar Rp15,84 Triliun di pasar reguler.

Terjadi anomali menarik di mana ticket size rata-rata pasar berada di angka Rp1,37 juta, namun beberapa emiten mencatatkan ticket size hingga puluhan juta rupiah.

Itu pertanda investor bermodal gede meninggalkan jejak kaki sangat nyata di tengah fluktuasi harga.

Arus likuiditas menunjukkan dinamika yang kontras antara tekanan jual pada raksasa perbankan dan akumulasi senyap pada sejumlah sektor infrastruktur serta energi.

Berdasarkan data ringkasan saham harian, pasar reguler mencatatkan total transfusi likuiditas sebesar Rp15,84 triliun, sementara pasar non-reguler (negosiasi) menyumbang Rp1,97 triliun.

Yuk, kita bedah anatomi market perdagangan saham BEI 9 Februari 2026.  

Baca Juga: Grafik Harga Emas Antam Batangan (7 Februari 2026), Hari Ini Naik atau Turun?

Baca Juga: Investor Asing Borong Saham Bank Ini Saat IHSG Tumbang, Jumat (6/2)

The Real Giants: Perang foreign flow vs domestik

Di barisan saham berkapitalisasi pasar jumbo (Big Caps), Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mengukuhkan posisinya sebagai monster likuiditas dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp1.076,98 triliun.

BREN ditutup pada harga Rp 8.050 per saham foreign net flow positif sebesar 1,22 juta saham. Closing Strength Index (CSI) BREN yang berada di angka 0,67 mengindikasikan adanya perlawanan beli yang cukup kuat menjelang penutupan sesi.

Kontras dengan BREN, Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi sasaran distribusi masif.

Dengan foreign net flow negatif sebesar 94,88 juta saham, BBCA tertekan ke level Rp 7.500 per saham. Angka CSI yang rendah (0,18) menunjukkan dominasi penjual hingga akhir sesi, di mana harga penutupan sangat dekat dengan harga terendah harian.

Hal serupa menimpa Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang mencatatkan arus keluar asing sebesar 70,34 juta saham.

Di sisi lain, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menunjukkan dominasi pembeli yang solid.

DSSA mencatatkan CSI hampir sempurna (0,93), menandakan akumulasi agresif di harga atas, sementara AMMN bertahan dengan CSI 0,91 meskipun volume asing cenderung tipis.

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Sore (6 Februari 2026), Cek Grafik Harga Emas Antam Batangan

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Sore (6 Februari 2026), Cek Grafik Harga Emas Antam Batangan

Perburuan di saham lapis kedua dan ketiga

Pada segmen Mid-Small Cap, terdeteksi jejak kaki institusi pada saham-saham dengan ticket size jauh di atas median pasar (Rp1,37 juta).

Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) mencuri perhatian dengan rata-rata nilai transaksi (ticket size) mencapai Rp19,57 juta per transaksi dan CSI sempurna 1,0. Ini mengindikasikan adanya tangan besar yang menyapu bersih penawaran hingga harga penutupan tertinggi.

Arkora Hydro Tbk. (ARKO) dan Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) juga masuk dalam radar hidden gems.

ARKO mencatatkan nilai transaksi Rp 40,11 miliar dengan ticket size Rp13,30 juta dan CSI 1,0. Aktivitas ini mencerminkan strategi akumulasi yang sangat terukur oleh pemodal besar tanpa memicu volatilitas berlebih di awal sesi.

Baca Juga: Rupiah Melemah Akibat Ancaman Moody's: 13 Perusahaan Raksasa Indonesia Terkena Dampak

Melacak jejak strategi serok bawah

Fenomena bottom fishing terlihat jelas pada saham Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). Meskipun harga terkoreksi 5 poin ke Rp 1.475 per saham, asing justru menyuntikkan likuiditas dengan akumulasi bersih sebanyak 16,90 juta saham.

Pola serupa terjadi pada Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Meskipun harga TLKM melemah ke Rp 3.350 per saham, tetap mengantongi net buy asing sebesar 5,46 juta. Investor nampaknya memanfaatkan pelemahan harga untuk membangun posisi pada aset-aset yang dianggap terdiskon.

BNBR (Bakrie & Brothers Tbk.) pun demikian: Meskipun terkoreksi, terdapat aliran masuk asing sebesar 9,96 juta saham. Ini menunjukkan adanya akumulasi di area support.

Baca Juga: Grafik Harga Emas Antam Batangan (6 Februari 2026), Hari Ini Naik atau Turun?

Penjelasan Istilah

Ticket Size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?

  • Ticket Size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi.
  • Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.
  • Ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.
  • Ticket size Besar: Menandakan adanya "Smart Money" atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp 1-2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan "tiket" bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.

CSI (Closing Strength Index): Siapa yang Menang di Menit Terakhir?

CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.

  • Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0.0 sampai 1.0.
  • CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.
  • CSI 0.0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.
  • CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.
  • Kenapa Penting? CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk "menginapkan" saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.

Disclaimer:

Artikel ini ditulis berdasarkan Data Pasar Ringkasan Saham (5 Februari 2026), diunduh langsung dari laman resmi BEI yang diolah dan dianalisis dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Prompt AI dikendalikan sepenuhnya oleh penulis, output-nya pun dikurasi secara ketat. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan bahasa, perhitungan, maupun analisis. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Pembaca diharapkan bijak sebelum mengambil keputusan investasi.

Selanjutnya: Mineral Kritis AS: Trump Bentuk 'Klub Pembeli' Global, Lawan Dominasi China

Menarik Dibaca: Katalog Promo Superindo Weekday Diskon hingga 55% Periode 9-12 Februari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BERITA TERKAIT
TERBARU
loading
Close [X]