Reporter: Hasbi Maulana | Editor: Hasbi Maulana
KONTAN.CO.ID - Pada 5 Februari 2026 Bursa Efek Indonesia mengalami fase pendinginan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 42,83 poin (-0,52%) ke level 8.103,87.
Meskipun indeks utama terkoreksi, nadi transaksi tetap berdenyut kencang dengan total transfusi likuiditas (gabungan reguler dan negosiasi) mencapai Rp 20 triliun.
Data menunjukkan adanya tekanan jual pada sektor teknologi (IDXTECHNO) yang ambles 104,46 poin dan energi (IDXENERGY) yang turun 47,14 poin. Namun, sektor konsumsi non-siklikal (IDXNONCYC) tampil sebagai pahlawan dengan kenaikan 6,27 poin, menjadi benteng pertahanan domestik di tengah badai koreksi.
Baca Juga: BEI Nilai Revisi Aturan IPO Tak Hambat Minat Perusahaan Melantai di Bursa
Perang Likuiditas di Saham Blue Chips
Analisis terhadap Data Pasar Ringkasan Saham BEI (5 Februari 2026), tampak saham-saham berkapitalisasi raksasa (Big Caps) menunjukkan dinamika perang antara tekanan jual global dan daya serap domestik yang kuat:
- Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA): Menjadi monster likuiditas dengan kenaikan harga Rp 400 ke level Rp 7.250. TPIA mencatatkan CSI (Closing Strength Index) sempurna 1.0, menandakan akumulasi agresif yang menyapu bersih offer di akhir sesi. Dukungan Foreign Net Buy sebesar 6,8 juta lembar mempertegas dominasi institusi.
- Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI): Meskipun harga terkoreksi tipis ke Rp 3.850, terdapat jejak Falling Accumulation. Asing justru melakukan pengumpulan unit secara masif dengan Net Volume 31,4 juta lembar. Ini adalah strategi institusi yang memanfaatkan pelemahan harga untuk memperkuat posisi.
- Bank Mandiri Tbk. (BMRI): Menjadi magnet utama dana asing hari ini dengan Foreign Net Buy mencapai 77,1 juta lembar. Meski hanya menguat tipis Rp 50, BMRI tetap menjadi pilar stabilitas di sektor finansial.
Baca Juga: BEI Pertahankan Target IPO 2026, Kenaikan Free Float Dinilai Perkuat Daya Tarik Pasar
Jejak Smart Money di Mid-Small Caps
Di lapisan menengah dan kecil, masih berdasar data resmi BEI, tampak jejak pergerakan "Smart Money" yang cukup intens pada emiten dengan ticket size (rata-rata nilai per transaksi) jauh di atas median pasar:
- Saham LUCY (Lima Dua Lima Tiga Tbk.) mencatatkan jejak kaki institusi yang sangat tebal dengan ticket size Rp 33,3 juta dan CSI 1. Transaksi senilai Rp 10,3 miliar di saham ini menunjukkan adanya tangan-tangan besar yang bergerak dalam senyap.
- SGRO (Sampoerna Agro Tbk.), saham emiten perkebunan, tampil dengan ticket size Rp 24,8 juta dan CSI 1. Akumulasi terukur di sektor agri mulai terlihat seiring dengan rotasi sektoral.
- BLUE (Berkah Prima Perkasa Tbk.), dengan CSI tinggi 0,96 dan ticket size Rp 9,7 juta, saham ini menunjukkan dominasi pembeli yang sangat kuat sepanjang sesi.
Baca Juga: Airlangga: Cegah “Goreng Saham”, Transparansi Pasar Modal Harus Diperkuat
Falling Accumulation: Strategi Serok Bawah
Data resmi BEI juga menunjukkan bahwa serok bawah tidak hanya terjadi pada perbankan besar. Beberapa emiten yang mengalami penurunan harga namun justru diborong asing adalah:
- BULL (Buana Lintas Lautan Tbk.): Asing menyerap 35,7 juta lembar saat harga terkoreksi.
- BRMS (Bumi Resources Minerals Tbk.): Penurunan harga Rp 15 justru dimanfaatkan asing untuk memborong 27,5 juta lembar saham.
- MEDC (Medco Energi Internasional Tbk.): Menarik minat asing dengan Net Buy 13,4 juta lembar di tengah koreksi sektor energi.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun Kamis (5/2), Kekhawatiran Belanja AI Alphabet Tekan Pasar
Penjelasan Istilah
Ticket Size: Jejak Kaki Siapa di Pasar?
- Ticket Size adalah rata-rata nilai uang yang dikeluarkan dalam setiap satu kali transaksi.
- Cara Hitung: Total Nilai Transaksi dibagi Total Frekuensi.
- Ticket size Kecil: Biasanya didominasi oleh investor ritel yang bertransaksi dalam jumlah sedikit-sedikit.
- Ticket size Besar: Menandakan adanya "Smart Money" atau investor dengan dana besar yang masuk. Mereka tidak mungkin membeli saham hanya Rp 1-2 juta sekali klik; mereka biasanya masuk dengan "tiket" bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per transaksi.
Baca Juga: PGAS Catat Penurunan Laba hingga September 2025, Simak Rekomendasi Sahamnya
CSI (Closing Strength Index): Siapa yang Menang di Menit Terakhir?
CSI mengukur seberapa kuat harga penutupan sebuah saham dibandingkan dengan rentang harganya sepanjang hari itu.
- Logika Angka: Rentang angkanya adalah 0.0 sampai 1.0.
- CSI 1 (Sangat Kuat): Artinya saham tersebut ditutup di harga tertingginya hari itu (Closed at High). Ini menandakan pembeli sangat agresif sampai akhir sesi, tidak memberi ruang harga untuk turun.
- CSI 0.0 (Sangat Lemah): Artinya saham ditutup di harga terendahnya hari itu (Closed at Low). Penjual sangat dominan menekan harga hingga pasar tutup.
- CSI 0,5: Harga ditutup tepat di tengah-tengah antara harga tertinggi dan terendah.
- Kenapa Penting? CSI membantu kita melihat psikologi pasar. Jika sebuah saham punya CSI tinggi (misal di atas 0.8), berarti ada kepercayaan diri tinggi dari pelaku pasar untuk "menginapkan" saham tersebut karena ekspektasi harga masih akan naik besok.
Baca Juga: OJK Mau Bentuk Satgas Reformasi Pasar Modal, Menko Airlangga Beberkan Tujuannya
Disclaimer:
Artikel ini ditulis berdasarkan Data Pasar Ringkasan Saham (5 Februari 2026) yang diunduh langsung dari laman resmi BEI. Data diolah dan dianalisis dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dengan prompt AI dikendalikan secara ketat oleh penulis. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan bahasa, perhitungan, maupun analisis. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi. Pembaca diharapkan bijak sebelum mengambil keputusan investasi.
Selanjutnya: CDIA: Buyback Rp 1 Triliun, Sinyal Harga Saham Terbang?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
