1. Home
  2. Infografik

BI Rate Maret 2026

Sumber: Bank Indonesia
Update : 18 Maret 2026

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga di 4,75% di Tengah Tekanan Global

Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16–17 Maret 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75% dan Lending Facility di 5,50%.

Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, di tengah memburuknya kondisi global akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong gejolak pasar keuangan dan kenaikan harga energi.

Rupiah Dijaga, Inflasi Tetap Dalam Target

Bank Indonesia menegaskan fokus utama saat ini adalah menjaga rupiah tetap stabil. Per 16 Maret 2026, nilai tukar rupiah berada di Rp16.985 per dolar AS, melemah sekitar 1,29% dibanding akhir Februari. Tekanan ini sejalan dengan keluarnya modal asing dari negara berkembang dan menguatnya dolar AS.

Untuk menahan pelemahan, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas, baik di pasar luar negeri maupun domestik.

Di sisi lain, inflasi masih terkendali. Inflasi Februari 2026 tercatat 4,76% (year-on-year), dipengaruhi faktor sementara, terutama efek diskon tarif listrik tahun lalu. Inflasi inti tetap rendah di 2,63%. Ke depan, inflasi diperkirakan tetap berada dalam target 2,5±1% hingga 2027, meski ada tekanan dari kenaikan harga global.

Dampak Perang Timur Tengah ke Ekonomi Global

Konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 memperburuk prospek ekonomi dunia. Harga minyak yang melonjak menekan rantai pasok global dan meningkatkan inflasi.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat menjadi 3,1% pada 2026, dari sebelumnya 3,2%. Inflasi global juga naik menjadi 4,1%. Kondisi ini membuat suku bunga global sulit turun, bahkan berpotensi tetap tinggi lebih lama.

Pasar keuangan pun ikut bergejolak. Investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ekonomi Indonesia Masih Tahan

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan pada triwulan I 2026 ditopang konsumsi rumah tangga, terutama karena momen Ramadan dan Idulfitri, didukung pencairan THR dan bantuan sosial.

Investasi juga tetap kuat, didorong proyek pemerintah dan investasi strategis. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 4,9%–5,7% pada 2026.

Namun, risiko dari global tetap perlu diwaspadai, sehingga koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat.

Neraca Pembayaran dan Cadangan Devisa

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$1,0 miliar, turun dari US$2,5 miliar pada Desember 2025 akibat melemahnya permintaan ekspor.

Aliran modal asing sempat masuk pada awal tahun, namun pada Maret terjadi arus keluar sebesar US$1,1 miliar karena meningkatnya ketidakpastian global.

Meski begitu, cadangan devisa Indonesia tetap kuat di level US$151,9 miliar per akhir Februari 2026. Angka ini setara dengan pembiayaan lebih dari 6 bulan impor, jauh di atas standar internasional.

Kredit Tumbuh, Perbankan Tetap Kuat

Kredit perbankan pada Februari 2026 tumbuh 9,37% secara tahunan, sedikit melambat dari Januari. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi hingga 20,72%.

Bank Indonesia memperkirakan kredit akan tumbuh 8%–12% sepanjang 2026. Dari sisi likuiditas, perbankan masih cukup kuat, tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga sebesar 27,40%.

Kondisi perbankan juga tetap solid, dengan rasio kecukupan modal (CAR) tinggi di 25,87% dan rasio kredit bermasalah (NPL) rendah di kisaran 2,14%.

Suku Bunga Turun, Tapi Kredit Masih Mahal

Meski BI-Rate sudah turun sejak 2024, penurunan suku bunga kredit masih terbatas. Hingga Februari 2026, rata-rata suku bunga kredit masih di level 8,80%, turun tipis dari 9,20% tahun lalu.

Bank Indonesia mendorong perbankan untuk lebih cepat menurunkan suku bunga agar penyaluran kredit bisa meningkat dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Periode
BI Rate
21 Agustus 2024
6,25
18 September 2024
6,00
16 Oktober 2024
6,00
20 November 2024
6,00
18 Desember 2024
6,00
15 Januari 2025
5,75
19 Februari 2025
5,75
19 Maret 2025
5,75
23 April 2025
5,75
21 Mei 2025
5,50
18 Juni 2025
5,50
16 Juli 2025
5,25
20 Agustus 2025
5,00
17 September 2025
4,75
22 Oktober 2025
4,75
19 November 2025
4,75
17 Desember 2025
4,75
21 Januari 2026
4,75
19 Februari 2026
4,75
17 Maret 2026
4,75

Infografik Terbaru

Dana Kelolaan Reksadana Turun pada Maret 2026
OJK | 10 April 2026
Total dana kelolaan industri reksadana turun menjadi Rp 699,65 triliun per Maret 2026 di tengah kenaikan unit penyertaan
Cadangan Devisa Maret 2026 Terendah Dalam 20 Bulan Terakhir
Bank Indonesia | 08 April 2026
Cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 turun tajam menjadi US$ 148,15 miliar dari sebelumnya US$ 151,90 miliar, salah satunya untuk intervensi rupiah
CEO Index April 2026
KONTAN | 06 April 2026
Keyakinan CEO akan kondisi ekonomi dan bisnis pada kuartal kedua 2026 turun akibat kenaikan tensi geopolitik global
Inflasi Maret 2026 Mencapai 3,48% Secara Tahunan
BPS | 06 April 2026
Inflasi Indonesia pada Maret 2026 mencapai 3,48% secara tahunan dan 0,41% secara bulanan
Neraca Dagang Indonesia Februari 2026 Surplus US$ 1,27 Miliar
BPS | 01 April 2026
Kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada awal 2026, tetapi menunjukkan tanda perlambatan seiring lonjakan impor yang jauh lebih tinggi
Harga Emas Tumbang Dalam Beberapa Hari Karena Kekhawatiran Inflasi
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga emas tumbang dalam beberapa hari terakhir meski konflik AS-Israel versus Iran masih panas dalam tiga pekan. Harga emas turun karena kekhawatiran inflasi
Harga Minyak Dunia 23 Maret 2026
Bloomberg | 23 Maret 2026
Harga minyak masih menanjak naik sejak meletusnya perang AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026
Volume Transaksi QRIS Melesat Sejalan dengan Kenaikan Nilai Tranasksi
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Volume transaksi QRIS secara total menunjukkan lonjakan yang makin tajam sejak tahun 2024
Jumlah Pengguna QRIS Periode 2022-2025
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Laju pertumbuhan jumlah pengguna QRIS mulai melambat, ditunjukkan oleh grafik yang mulai mendatar sejak 2024
Nilai Transaksi QRIS Terus Melejit Hingga Akhir 2025
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) | 20 Maret 2026
Nilai transaksi dengan menggunakan QRIS terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Pada kuartal keempat 2025, nilai transaksi bahkan mencapai Rp 170 triliun
loading
Close [X]