Reporter: Alya Fathinah, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan kurs rupiah berlanjut ke rekor baru lagi. Selasa (19/5), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 38 atau 0,22% menjadi Rp 17.706 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kurs rupiah Jisdor hari ini melemah Rp 53 atau 0,30% menjadi Rp 17.719 per dolar AS.
Rekor baru penutupan rupiah terus terjadi di kuartal kedua 2026 ini.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mengatakan, pelemahan rupiah hari ini tidak bisa dibaca sebagai tekanan harian biasa. Pelemahan rupiah adalah akumulasi dari memburuknya sentimen eksternal dan meningkatnya risiko domestik.
Menurut Rizal, dari sisi eksternal, dolar AS masih kuat karena pasar global cenderung risk off, terutama akibat ketegangan geopolitik dan harga minyak yang tinggi.
"Dari domestik, tekanan muncul karena pasar mulai menghitung risiko fiskal dari pelemahan rupiah dan lonjakan ICP (inflasi), sementara ekspektasi terhadap respons BI juga belum sepenuhnya solid," ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (19/5).
Baca Juga: Tabel Harga Emas Antam 19 Mei 2026 - Rata-Rata Naik 0,9% Semua Ukuran
Ia menambahkan, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan BI berpotensi menaikkan BI Rate pada 20 Mei 2026 sebagai respons terhadap pelemahan rupiah.
Untuk perdagangan Rabu (20/5), Rizal memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.800 per dolar AS.
"Ruang penguatan masih terbatas karena tekanan tidak hanya bersumber dari faktor teknikal, tetapi juga dari persepsi risiko terkait defisit fiskal, harga minyak, kebutuhan valas korporasi, dan arah suku bunga BI," kata Rizal.
Menurut dia, apabila BI memberikan sinyal kuat terkait stabilisasi rupiah, tekanan di pasar dapat tertahan. Namun, jika pasar menilai respons kebijakan kurang tegas, rupiah berpotensi menguji level Rp 17.800 per dolar AS.
Rizal menambahkan, sentimen utama yang akan dicermati pasar pada Rabu (20/5) meliputi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, pergerakan indeks dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, serta arus modal asing di pasar obligasi dan saham domestik.
Ia menilai kenaikan suku bunga acuan memang dapat membantu menopang rupiah dalam jangka pendek, tetapi bukan menjadi solusi tunggal.
"Tanpa disiplin fiskal dan komunikasi pemerintah yang kredibel, pasar tetap akan melihat rupiah rentan. Jadi kuncinya bukan hanya intervensi BI, tetapi konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk menurunkan premi risiko Indonesia," kata Rizal.
Baca Juga: IHSG Ambles 1,85%, 616 Saham Turun Disertai Net Sell Asing Hari Ini (18/5)
Tak hanya karena faktor domestik, pelemahan rupiah juga terjadi seiring tekanan di pasar valas Asia. Won Korea bahkan melemah 1,1% dalam sehari.
Baht Thailand melemah 0,34%. Dolar Taiwan melemah 0,33%.
Dolar Singapura melemah 0,21%. Yen Jepang melemah 0,21%.
Rupee India melemah 0,18%. Yuan China melemah 0,09%.
Ringgit Malaysia melemah 0,06%. Dolar Hong Kong melemah 0,02%. Peso Filipina melemah 0,02%.
Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 0,08% menjadi 99,28. Ini adalah penguatan lanjutan indeks dolar setelah jeda sehari.
Kemarin, indeks dolar melemah setelah naik dalam lima hari perdagangan berturut-turut. Nilai indeks dolar kembali ke atas 99 setelah berada di sekitar 97,9.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
