Kejatuhan IHSG Sejak Awal Tahun 2026 Tak Tertandingi Secara Global

Senin, 19 Oktober 2026 | 10:38 WIB
Kejatuhan IHSG Sejak Awal Tahun 2026 Tak Tertandingi Secara Global
ILUSTRASI. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham global yang d (AI/ChatGPT/Wahyu Tri Rahmawati)

Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham dunia sepanjang 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (16/10/2026), IHSG terkoreksi 40,04% sejak awal tahun atau year to date (YtD).

Data IDX Daily Statistics menunjukkan IHSG menempati peringkat ke-35 dari 35 negara yang menjadi sampel perbandingan kinerja bursa global. Artinya, IHSG merupakan indeks saham berkinerja terburuk sepanjang tahun berjalan.

Bahkan jika dibandingkan dengan kinerja bursa saham peringkat ke-34, selisih penurunannya sangat jauh. Qatar Exchange Index yang tercatat sebagai indeks saham berkinerja terburuk kedua setelah IHSG hanya melemah 18,14% sejak awal tahun.

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di antara bursa saham global yang d

Baca Juga: Harga Emas Antam (18/10) Stagnan, Simak Selisihnya dengan Harga Buyback

Dibandingkan dengan bursa saham di kawasan ASEAN, pelemahan IHSG jauh lebih dalam. Sementara IHSG anjlok 40,04%, sejumlah bursa negara tetangga masih mencatatkan kenaikan signifikan.

Bursa Thailand melalui SET Index menjadi yang berkinerja terbaik di ASEAN dengan kenaikan 24,87% YtD. Disusul Straits Times Index (STI) Singapura yang menguat 16,56%.

Sebaliknya, bursa Malaysia, Filipina, dan Vietnam mencatatkan koreksi yang relatif terbatas, masing-masing sebesar 4,31%, 4,46%, dan 4,40%.

Baca Juga: BEI Turunkan Batas ARB Saham Jadi 7%, Respons Gejolak Pasar Usai Pengumuman MSCI

Di kawasan Asia Pasifik, IHSG juga tertinggal jauh dari sejumlah bursa utama. Taiwan menjadi pasar dengan kinerja terbaik dalam kelompok tersebut, dengan indeks TSE Weighted naik 62,66% YtD.

Korea Selatan melalui KOSPI menguat 34,50%, sedangkan Nikkei 225 Jepang naik 29,77%. Di sisi lain, indeks saham India S&P BSE SENSEX terkoreksi 12,28%, lebih kecil dibandingkan penurunan IHSG.

Di kawasan Amerika dan Eropa, sebagian besar indeks yang tercantum dalam laporan BEI masih mencatatkan kinerja positif. Indeks Ibovespa Brasil naik 26,81%, sedangkan S&P/TSX Composite Kanada menguat 13,95%. Dow Jones Industrial Average Amerika Serikat tumbuh 8,56%.

Di Eropa, indeks WIG Polandia naik 35,38%, Austrian Traded Index menguat 22,83%, dan IBEX 35 Spanyol tumbuh 11,68%. Sebaliknya, indeks Qatar Exchange terkoreksi 18,14%, menjadi salah satu pasar yang juga mencatatkan penurunan besar.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tekanan di pasar saham Indonesia jauh lebih dalam dibandingkan sebagian besar bursa yang masuk dalam daftar perbandingan BEI.

Net sell jumbo

Tekanan di pasar saham Indonesia juga terlihat dari arus dana investor asing. Berdasarkan laporan BEI, investor asing membukukan net sell sebesar Rp 88,19 triliun sejak awal 2026 hingga 16 Oktober 2026.

Nilai tersebut setara dengan sekitar US$ 4,89 miliar berdasarkan konversi yang dicantumkan BEI.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026) saja, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 3,34 triliun atau sekitar US$ 185,23 juta.

Angka tersebut menggambarkan besarnya tekanan jual investor asing sepanjang tahun berjalan. Namun, data net sell tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh penyebab pelemahan IHSG, karena pergerakan indeks juga dipengaruhi oleh perubahan harga saham, komposisi indeks, serta aktivitas investor domestik.

Baca Juga: IHSG Tumbang 11,57% Menjadi 5.185 Diiringi Net Sell Asing Rp 3,35 T, Hari Ini (16/10)

SMMA menjadi top leader IHSG, DSSA paling membebani indeks

Selain membandingkan kinerja indeks global, data BEI juga memperlihatkan saham-saham yang memberikan kontribusi positif dan negatif terbesar terhadap pergerakan IHSG sepanjang tahun berjalan.

Berdasarkan tabel Top Leaders dan Top Laggards BEI, SMMA menjadi saham dengan kontribusi positif terbesar terhadap IHSG secara YtD. Sebaliknya, DSSA menjadi saham yang paling besar membebani indeks.

SMMA mencatatkan kenaikan harga saham 38,79% sepanjang tahun berjalan dan memberikan kontribusi positif 39,11 poin terhadap IHSG. AADI juga membukukan kenaikan harga yang cukup besar, yakni 41,94%, dengan kontribusi positif 10,02 poin.

EMAS, CASA, dan ADRO melengkapi lima saham dengan kontribusi positif terbesar terhadap IHSG dalam daftar BEI tersebut.

DSSA menjadi saham dengan kontribusi negatif terbesar terhadap IHSG, yakni minus 296,80 poin. Harga saham DSSA sendiri telah merosot 82,30% sejak awal tahun.

BREN berada di posisi kedua dengan penurunan harga 80,88% dan kontribusi negatif 292,31 poin. Sementara itu, BBCA menjadi saham perbankan dengan kontribusi negatif terbesar dalam daftar tersebut, yakni minus 273,75 poin, setelah harganya turun 35,91% YtD.

BBRI dan TLKM juga masuk dalam lima saham yang paling membebani IHSG. Masing-masing mencatatkan kontribusi negatif sebesar 159,72 poin dan 159,69 poin.

Besarnya kontribusi negatif saham-saham tersebut memperlihatkan bahwa tekanan IHSG tidak hanya terjadi pada saham berkapitalisasi kecil. Sejumlah saham berkapitalisasi besar juga memberikan beban signifikan terhadap pergerakan indeks.

Baca Juga: IHSG Ambruk 10% Lebih Setelah Pengumuman Potensi Downgrade Status dari MSCI

Sejumlah indeks sektoral juga terkoreksi tajam

Data BEI turut memperlihatkan pelemahan pada berbagai indeks sektoral. Dari 11 indeks sektoral yang tercantum dalam laporan, sektor infrastruktur mencatatkan koreksi terdalam, yakni 48,48% YtD.

Sektor teknologi menyusul dengan penurunan 45,81%, sedangkan sektor energi terkoreksi 42,72%. Sektor properti dan real estat juga turun 42,18%.

Sementara itu, sektor keuangan mencatatkan koreksi 24,13% YtD, relatif lebih kecil dibandingkan mayoritas sektor lainnya.

Berikut perbandingan kinerja indeks sektoral BEI:

  • Infrastruktur -48,48%
  • Teknologi -45,81%
  • Energi -42,72%
  • Properti dan real estat -42,18%
  • Industri -39,95%
  • Barang konsumen siklikal -38,66%
  • Keuangan -24,13%
  • Transportasi dan logistik -23,79%
  • Barang konsumen non-siklikal -24,57%

Secara keseluruhan, data BEI per 16 Oktober 2026 menunjukkan pasar saham Indonesia menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar bursa global. IHSG merosot 40,04% YtD, investor asing membukukan net sell Rp 88,19 triliun, dan saham DSSA serta BREN menjadi pemberat terbesar terhadap indeks.

 

MSCI mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Sta

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BERITA TERKAIT
TERBARU
loading
Close [X]