Dolar AS Menguat Drastis, Rupiah dan Mata Uang Asia Jeblok Hari Ini (2/3)

Senin, 02 Maret 2026 | 17:05 WIB
Dolar AS Menguat Drastis, Rupiah dan Mata Uang Asia Jeblok Hari Ini (2/3)

Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah tajam di awal Maret. Senin (2/3), kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 81 atau 0,48% menjadi Rp 16.868 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kurs rupiah Jisdor hari ini melemah Rp 69 atau 0,41% menjadi Rp 16.848 per dolar AS.

Bank Indonesia (BI) pasang badan di pasar melalui intervensi dalam transaksi spot dan non-deliverable forward di pasar internasional dan domestik. 

Tak cuma BI, bank sentral India Reserve Bank of India juga menggelar intervensi untuk menahan kejatuhan mata uang rupee.

Eskalasi konflik Timur Tengah memicu sentimen penghindaran risiko di pasar keuangan global. BI menyebutkan akan terus memantau pergerakan pasar secara cermat dan merespons dengan tepat untuk memastikan rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya.

Baca Juga: Grafik Harga Emas Antam Batangan (2 Maret 2026), Hari Ini Naik atau Turun?

Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS.  Hanya dolar Hong Kong yang sore ini masih menguat 0,08% terhadap dolar AS.

Won Korea mencatat pelemahan paling dalam, yakni 1,35%. Baht Thailand melemah 1,27%.

Peso Filipina melemah 0,91%. Ringgit Malaysia melemah 0,83%. Dolar Taiwan melemah 0,62%.

Yen Jepang melemah 0,6%. Rupee India melemah 0,53%. Dolar Singapura melemah 0,48%. yuan China melemah 0,3%.

Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 0,65% menjadi 98,24. Ini adalah posisi paling kuat indeks dolar sejak 23 Januari 2026.

Dolar menguat terhadap hampir semua mata uang utama. Sementara lonjakan harga minyak menyebabkan para pelaku pasar memperkirakan bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga secara agresif.

Kenaikan harga minyak berpotensi mengangkat inflasi atau kenaikan harga barang secara besar-besaran. Alhasil, bank sentral perlu senjata berupa suku bunga tinggi untuk menangkal inflasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

BERITA TERKAIT
TERBARU
loading
Close [X]